Semalam Bersama Kakak Ipar

Semalam Bersama Kakak Ipar
Terbukti


__ADS_3

Bagai pucuk di cinta bulan pun tiba. Mahesa datang di waktu yang tepat. Meskipun Melisa dalam keadaan terkejut, dia tetap saja segera berlari ke arah mobil dan masuk ke dalamnya. Mahesa hanya bisa mengerutkan kening merasa tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan wanita bernama Melisa tersebut.


"Ikuti mobil Mas Darius, kak," pinta Melisa tanpa basa-basi.


"Hah?"


"Cepetan, nanti mobilnya keburu jauh, kak!"


Mahesa seketika langsung menginjak pedal gas. Dia mengikuti mobil berwarna hitam milik adiknya sendiri. Mahesa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berusaha mengejar mobil sang adik sampai akhirnya berada tidak jauh dari mobil adiknya bersebut.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu ingin kita mengikuti mobil Darius?" tanya Mahesa ingin sekali mengobati rasa penasarannya.


"Kakak kapan pulang? Apa kaka sudah sembuh benar?" Melisa balik bertanya.


"Jawab dulu pertanyaan saya, kenapa kamu ingin kita mengikuti suami kamu? Apa adik saya berulah lagi?"


Melisa seketika memalingkan wajahnya ke arah samping. Raut wajah wanita itu pun berubah muram. Tatapan mata Melisa nampak menatap keluar kaca jendela samping, menahan rasa getir.


"Mel? Kamu baik-baik saja?" tanya Mahesa dengan nada suara lembut.


"Tidak."


Mahesa menarik napas berat lalu menghembuskannya kasar. Sepertinya tebakannya itu benar adanya. Darius kembali menyakiti Melisa, dan dia tidak rela melihat wanita yang dicintainya itu dalam keadaan terluka hatinya. Apa iya dirinya harus merebut Melisa dan mengakhiri penderitaan yang selama ini dirasakan olehnya? Pikiran itu seketika terlintas di dalam otak kecil seorang Mahesa.


"Apa suami kamu selingkuh?"


"Baru dugaan, aku mencium bau parfum wanita di jas milik Mas Darius, bukan hanya itu saja, noda lipstik bibir wanita pun tercetak jelas di jasnya. Aku yakin dia selingkuh, tapi--"


"Tapi apa? Kalau dia benar-benar selingkuh, apa yang akan kamu lakukan, Mel?"


Melisa diam seribu bahasa. Dia melupakan tentang hal itu, pikirannya benar-benar kalut akhir-akhir ini sampai dia melupakan apa yang akan dirinya lakukan jika kecurigaannya terbukti benar. Apa dia akan meninggalkan suaminya itu? Jawabnya, entahlah Melisa masih bingung dengan apa yang dia inginkan sebenarnya.


"Mel? Malah melamun lagi," tanya Mahesa seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Melisa.


"Hah? Eu ... Entahlah," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Ko entahlah? Apa kamu siap melihat suami kamu dengan wanita lain?"


Melisa lagi-lagi hanya terdiam.


"Kenapa diam saja? Jangan bilang kalau kamu akan memaafkan dia begitu saja nantinya?"


Melisa masih diam terpaku, buliran bening seketika berjatuhan dari sudut matanya kini. Ya ... Apakah dia sanggup melihat suaminya bersama wanita lain? Meskipun jika di telisik lebih dalam lagi, dirinya pun telah berkhianat kepada sang suami dengan menghabiskan malam bersama laki-laki yang saat ini sedang menyetir mobil di sampingnya.


"Entahlah, kak. Aku juga bingung. Kaka ikutin saja mobil Mas Darius, masalah yang akan terjadi kedepannya, biarlah takdir yang menentukan," jawab Melisa akhirnya membuka suara.


"Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan. Kita ikuti mobil suami kamu, kita lihat dan buktikan apakah kecurigaan kamu itu benar. Tapi, Mel. Saya hanya ingin berpesan kepada kamu, jika memang Darius adik saya itu benar-benar berselingkuh, lebih baik kamu tinggalkan dia. Kamu berhak bahagia, masih banyak laki-laki di luaran sana yang akan menerima wanita cantik seperti kamu."


"Termasuk kaka?"


"Ya, termasuk saya."


Melisa tersenyum getir. Dirinya akan sangat merasa bahagia sekali jika memiliki suami seperti Mahesa, tapi ... Ada banyak tapi yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata.


Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darius pun mulai melipir dan memasuki sebuah halaman rumah yang tidak terlalu besar. Sontak, Mahesa pun segera menepikan mobilnya dan berhenti tidak jauh dari rumah tersebut.


"Entahlah, kita lihat saja."


Keduanya pun menatap dengan seksama, Darius nampak keluar dari dalam mobil. Tidak lama kemudian, seorang anak kecil berusia 3 tahun pun berlari menghampirinya dengan tersenyum riang. Darius segera menggendong anak perempuan tersebut seraya menciuminya penuh kasih sayang.


Tidak lama kemudian, seorang wanita cantik nampak menghampiri Darius, ciuman mesra pun mereka perlihatkan. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Kedua kaki Melisa seketika terasa lemas. Dadanya pun benar-benar terasa sesak. Air mata itu bergulir semakin deras kini. Ternyata kecurigannya benar, suaminya diam-diam telah mengkhianati cintanya, kesabarannya, juga kesetiannya selama ini.


Mahesa seketika memeluk tubuh Melisa. Dia tahu betul betapa sakitnya dikhianati, hanya pelukan hangat yang bisa dia berikan untuk hanya sekedar menghibur Melisa yang saat ini dalam keadaan terluka.


"Ternyata benar, kak. Mas Darius selingkuh, dia bahkan memiliki seorang putri bersama wanita lain. Pantas saja dia tidak pernah mempermasalahkan aku yang belum punya momongan sampai saat ini, ternyata dia memang sudah punya anak dari wanita lain, hiks hiks hiks!" tangis Melisa seketika pecah di dalam dekapan Mahesa sang kaka ipar.


"Memang brengsek si Darius itu. Jika dia memang sudah punya wanita lain, kenapa dia tidak melepaskan kamu saja?"


Melisa seketika mengurai pelukan. Dia pun hendak keluar dari dalam mobil. Mahesa yang menyaksikan hal tersebut tentu saja segera menahan kepergiannya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Mel?" tanya Mahesa menahan kepergian Melisa.


"Kemana lagi, aku akan menghampiri Mas Darius. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Mas Darius saat melihat aku di sini."


"Tidak, Mel. Saya tidak ingin melihat kamu semakin terluka. Lebih baik kita pergi dari sini sekarang juga."


"Kenapa tidak? aku istri sahnya. Kenapa aku harus diam saja melihat perselingkuhan suami aku sendiri?" tegas Melisa, menepis kasar pergelangan tangan Mahesa lalu benar-benar keluar dari dalam mobil tersebut.


Mahesa tidak bisa menghentikan wanita bernama Melisa itu. Dia hanya ingin melihat Melisa memuntahkan kekesalan dan rasa sakit hati yang selama ini dia pendam kepada Darius, yang tidak lain dan tidak bukan adalah adiknya sendiri.


Sementara itu, Melisa berlari menghampiri suaminya dengan wajah penuh kemarahan. Dia akan mencoba menekan emosinya sebisa mungkin. Wanita itu pun memanggil nama Darius dengan nada suara lantang.


"Mas Darius?" teriak Melisa, berdiri tidak jauh dari arah sang suami yang saat ini berdiri bersama wanita selingkuhannya membuat Darius sontak merasa terkejut.


"Mel-Melisa?" gumamnya, menurunkan gadis kecil yang semula dia gendong.


"Jadi ini meeting yang kamu maksud Mas? Meeting bersama wanita lain sampai memiliki seorang anak segala, hebat kamu, Mas!" teriak Melisa, tidak ada air mata sedikit pun yang semula membasahi wajah cantiknya.


"Sedang apa kamu di sini, Melisa? Kamu mengikuti saya?"


"Iya, aku mengikuti Mas. Siapa wanita ini? Apa dia wanita simpanan kamu?"


Wanita yang dimaksud segera melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Darius mesra. Namun, segera di turunkan kasar oleh laki-laki itu tentu saja. Wajah sang wanita pun seketika terlihat kecewa.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Mel. Dia hanya--"


"Cukup, aku gak butuh penjelasan dari kamu, Mas. Semuanya sudah jelas, dan aku sudah melihat dengan mata kepala aku sendiri tentang perselingkuhan kamu dengan wanita ini, dan kamu wanita murahan, silahkan ambil suami aku yang brengsek ini, kamu bebas memilikinya mulai sekarang," ketus Melisa berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu, sayang. Apa maksud ucapan kamu tadi?" Tanya Darius menahan kepergian istrinya.


"Apa lagi, kamu bebas melakukan apapun dengan wanita ini. Lepaskan aku, mari kita bercerai!"


"Bercerai? Hahahaha! Tidak, Mas tidak akan pernah menceraikan kamu, sekarang kita pulang. Kita selesaikan masalah ini di rumah," ketus Darius, segera menarik kasar pergelangan tangan istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2