
Melisa menatap bayi yang sudah berbalut kain bedong. Buah hatinya bersama laki-laki bernama Mahesa itu terlihat begitu cantik. Hatinya memang bahagia karena akhirnya dia telah menjadi seorang ibu. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia menyimpan luka yang begitu menyakitkan.
Mahesa, yang konon katanya sedang melakukan cek up kesehatan ke negeri Paman Sam masih belum kembali sampai saat ini. Laki-laki itu bahkan tidak pernah menghubungi dirinya selama 5 bulan ini. Hati seorang Melisa benar-benar terasa pilu. Hidupnya yang sudah berantakan terasa semakin hancur berkeping-keping.
Suaminya lebih memilih wanita lain di saat dirinya mencoba untuk menjadi istri yang baik. Bahkan begitu sabar menghadapi sipat kasar Darius. Harapannya untuk hidup bahagia bersama laki-laki bernama Mahesa pun harus pupus seketika, karena dia menghilang begitu saja tanpa kabar dan berita.
Dirinya bahkan tidak tahu apakah laki-laki itu masih hidup, atau sudah tiada mengingat bahwa Mahesa mengidap penyakit yang mematikan.
'Kamu adalah satu-satunya harta yang Mommy punya saat ini, Nak. Mommy akan membahagiakan kamu meskipun Mommy hanya seorang ibu tunggal,' (batin Melisa menahan rasa getir).
"Selamat Mbak, bayinya cantik sekali, tapi apakah Mbaknya tidak di temani oleh suami Mbak?" tanya sang Bidan menatap wajah Melisa merasa iba.
"Tidak, bu Bidan. Suami saya lebih memilih wanita lain," jawab Melisa menunduk sedih.
"Astaga, saya mohon maaf. Saya tidak bermasud untuk--"
"Tidak apa-apa, bu," sela Melisa, tidak ingin terlalu dalam membahas kehidupan pribadinya.
"Bayinya mau di beri nama siapa? Cantik sekali lho bayinya."
Melisa terdiam sejenak. Dia terlalu sibuk meratapai nasib buruknya sampai-sampai lupa menyiapkan nama untuk buah hantinya itu. Dia pun tersenyum getir. Tidak tahu harus menamai siapa buah hatinya ini.
"Mbak?"
"Hah? Iya, bu. Eu ... Sebenarnya saya belum menyiapkan nama untuk bayi saya ini," jawab Melisa menunduk sedih.
__ADS_1
"Saya mengerti pasti rasanya berat sekali harus melewati masa kehamilan sendiri, melahirkan sendiri pula, tapi Mbak harus kuat demi buah hati Mbak ini. Mbak harus bangkit, setiap orang memiliki cobaan hidup masing-masing. Ingat satu hal, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya."
"Mbak pasti kuat melewati semua ini. Beruntung karena Mbak masih dikaruniai seorang momongan yang akan menjadi sumber kekuatan Mbak nantinya. Maaf jika saya terlalu lancang. Apakah Mbak sudah bercerai dengan suami Mbak ini?" tanya sang Bidan.
"Tidak, saya belum bercerai dengan suami saya, bu," jawab Melisa mengigit bibir bawahnya keras.
"Sekali lagi saya mohon maaf, bukan maksud saya untuk ikut campur dengan kehidupan Mbak. Sebagai sesama perempuan sudah sewajarnya kita saling menguatkan. Kalau boleh saya memberi saran, segera ceraikan suami Mbak itu. Setelah itu mulailah hidup baru, carilah kebahagiaan Mbak sendiri."
"Banyak di luaran sana single mom yang berhasil membesarkan putrinya dengan baik. Jadilah wanita yang kuat, tinggalkan masa lalu. Meskipun tidak akan mudah untuk melupakannya, tapi cukup jadikan itu sebagai pembelajaran kedepannya. Saya yakin Mbak bisa melakukannya, saya yakin Mbak wanita yang kuat." Jelas wanita berusia 40-han yang berpropesi sebagai Bidan itu.
"Terima kasih, bu. Semua yang ibu katakan benar. Saya akan segera menggugat cerai suami saya, setelah itu saya akan bangkit dan menjalani hari-hari saya sebagai seorang single mom. Semua ini saya lakukan demi putri saya, saya akan memulai hidup baru demi putri saya. Kamu adalah anugerah di dalam hidup Mommy sayang," tegas Melisa penuh keyakinan, dia pun menatap wajah cantik sang putri dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sama-sama, Mbak. Sekarang Mbak harus memberi nama untuk putri Mbak ini."
Melisa kembali terdiam. Otaknya berfikir keras tentang nama yang cocok untuk bayinya itu. Akhirnya, dia teringat akan satu nama yang memiliki arti, 'hadiah dari Tuhan'.
'Aku akan bangkit dan melupakan masa lalu, aku akan hidup sebagai single mom. Satu hal lagi, aku akan tetap menunggu kedatangan kamu, Mas Mahesa. Aku juga akan mencari tahu kenapa kamu masih belum kembali sampai saat ini, karena aku yakin kamu tidak akan melakukannya jika tidak terjadi sesuatu hal yang buruk sama kamu, Mas,' (batin Melisa).
* * *
3 bulan kemudian.
Tok! Tok! Tok!
Palu hakim pun di ketuk tanda gugatan cerai yang di layangkan oleh wanita bernama Melisa terhadap suaminya yang bernama Darius dikabulkan oleh majelis hakim. Baik Melisa maupun Darius nampak hadir di gedung pengadilan.
__ADS_1
Keduanya duduk di kursi pesakitan menatap wajah sang hakim. Ekspresi wajah keduanya menunjukkan perasaan yang berbeda. Melisa nampak tersenyum lega, akhirnya dia bisa terbebas dari pernikahan yang luar biasa menyakitkan itu dan mengakhiri penderitaanya selama ini. Beban berat yang selama ini terasa menghimpit dadanya seketika terangkat.
Sedangkan bagi Darius sendiri, perasaannya benar-benar merasa berkecamuk. Berbagai penyesalan pun memenuhi relung hatinya kini. Apalagi, Melisa telah bertransformasi menjadi wanita yang luar biasa cantiknya. Wanita itu menjelma seperti bidadari yang turun dari khayangan.
Keduanya pun bangkit lalu keluar dari dalam ruangan sidang. Melisa menunjukkan sikap acuh, dia bahkan tidak melirik wajah Darius sedikitpun ketika mereka berpapasan. Wajah Melisa benar-benar terlihat datar seolah dia tidak mengenal mantan suaminya.
"Tunggu, Mel," pinta Darius, membuat Melisa yang saat ini berjalan di depannya seketika menghentikan langkah kakinya.
"Kamu akan menyesal karena telah menggugat cerai saya," ketus Darius berjalan mendekat.
Melisa tersenyum miring. Dia pun menoleh dan menatap wajah mantan suaminya. Tidak lupa, wanita itu membuka kaca mata hitam yang dia kenakan.
"Menyesal? Hahahaha! Justru kamu yang akan menyesal karena telah mengkhianati aku, kamu pikir aku gak tau kalau wanita murahan itu langsung tinggal di rumah kita setelah aku keluar dari sana? Maaf, Mas. Aku bukan Melisa lemah yang bisa kamu tindas seperti dulu lagi," jawab Melisa tidak kalah ketus. Dia pun hendak melanjutkan langkah kakinya.
"Apa kamu tahu bagaimana keadaan Kak Mahesa?"
Melisa sontak menghentikan langkah kakinya.
"Dia sekarat, Mel."
Melisa sontak mengepalkan kedua tangannya. Dadanya pun seketika terasa sesak. Apakah yang baru saja diucapkan oleh mantan suaminya itu adalah sebuah kebenaran? Atau, hanya omong kosong yang sengaja dia lontarkan untuk memprovokasi perasaan mantan istrinya itu.
"Mas Mahesa," gumam Melisa kedua matanya seketika memerah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...