Semalam Bersama Kakak Ipar

Semalam Bersama Kakak Ipar
Selingkuh?


__ADS_3

"Melisa? Malah melamun lagi? Isiin air minumnya, udah kosong ini," pinta Darius menaikan suaranya.


"Oh, eu ... Iya, Mas. Maaf tadi aku melamun," jawab Melisa, mengisi gelas kosong tersebut dengan air putih.


"Ngelamunin apaan sih? Kamu Gak lagi mikirin kak Mahesa 'kan?"


"Hah? Tentu saja tidak, buat apa aku mikirin dia? Lagian aku juga gak terlalu dekat sama kaka kamu itu ko."


"Yakin, gak lagi mikirin dia?"


"Maksud Mas apaan sih?"


"Dengarkan Mas, Melisa. Kamu itu milik Mas, istrinya Mas. Jangan pernah sekali-kali berpikir untuk melakukan hal macam-macam dengan laki-laki lain, paham?"


'Kalau aku milikmu, istrimu, kenapa kamu tidak pernah memperlakukan aku dengan baik seperti yang dilakukan oleh kak Mahesa?' (batin Melisa).


"Kamu paham apa yang Mas katakan?" tanya Darius penuh penekanan.


"Iya, Mas. Aku paham," jawab Melisa menahan rasa sesak di dadanya.


"Bagus, Mas mau istirahat. Mas capek banget, jangan ganggu tidurnya Mas."


"Baik, Mas."


Darius berdiri lalu meninggalkan ruang makan, meninggalkan Melisa yang saat ingin dalam keadaan gelisah tentu saja. Wanita itu mengusap wajahnya kasar, napasnya berhembus tidak beraturan akibat menahan rasa tegang yang dia rasakan.


Apa yang akan terjadi dengan dirinya jika suaminya itu tahu apa yang telah dia lakukan semalam? Takut, Melisa benar-benar ketakutan. Namun, dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya semalam. Setidaknya, dia telah mengobati rasa kesepian yang selama ini dia rasakan. Mahesa benar-benar telah mencairkan kebekuan yang selama ini terasa menyiksa jiwanya.


Melisa bangkit, dia meraih jas hitam milik suaminya yang melingkar di sandaran kursi makan. Tiba-tiba saja dia mencium bau aneh yang berasal dari jas hitam tersebut. Dia pun membauinya dengan seksama.

__ADS_1


Harum ... Jas suaminya itu wangi parpum wanita. Wangi yang tercium oleh hidung Melisa bukanlah wangi parfum yang biasa di gunakan oleh Darius suaminya. Dia pun membolak balikan jas hitam itu kemudian. Bola mata Melisa seketika membulat sempurna, noda lipstik berbentuk bibir wanita pun tercetak jelas di permukaan jas milik Darius.


"Apa ini? Ini seperti bibir wanita, tidak ini memang bibir wanita. Astaga!" decak Melisa mengerutkan kening.


Sesak, dada Melisa seketika merasa sesak. Apa selama ini suaminya telah berbohong kepadanya? Meeting di luar kota yang selalu dilakukan oleh Darius bukanlah meeting biasa, melainkan hanya sebuah alasan untuk menemui seorang wanita? Darius diam-diam berselingkuh?


Kedua kaki Melisa seketika terasa lemas. Buliran bening pun jatuh begitu saja dari pelupuk matanya kini. Di saat dirinya mencoba bertahan dengan sikap kasar suaminya dan berusaha untuk menjadi istri yang baik, suaminya itu malah bermain dengan wanita lain? Darius benar-benar luar biasa.


Lalu, apa yang akan dia lakukan sekarang? Apakah dirinya akan menanyakan tentang hal ini kepada Darius? Tidak, dia tidak akan mengatakan apapun sebelum melihatnya langsung dengan kedua matanya sendiri tentang perselingkuhan suaminya itu.


"Kamu benar-benar luar biasa brengseknya, Mas," gumam Melisa mengusap wajahnya kasar.


* * *


Satu bulan kemudian.


"Berapa hari Mas di sana? Boleh aku ikut? Aku kesepian sebenarnya, aku juga butuh refreshing, Mas."


"Ikut? Kamu pikir Mas ke sana untuk main-main? Mas kerja, Melisa, kerja ..."


'Mas yakin ke sana untuk bekerja, bukan untuk mememui selingkuhan Mas itu?' (batin Melisa).


"Aku bisa nungguin di hotel ketika Mas kerja. Aku gak akan menganggu pekerjaan Mas, aku janji. Ajak aku ya," rengek Melisa memelas.


"Tidak! Kamu tidak bisa ikut, kamu jaga rumah saja. Mas hanya pergi selama seminggu ko, lagian sejak kapan kamu ikut kemanapun Mas pergi? Biasanya juga di rumah!"


"Itu dia makannya, aku bosan di rumah, Mas."


"Ya sudah, kamu jalan-jalan kemana kek. Atau, kamu main sama teman-teman kamu."

__ADS_1


Melisa seketika mengusap wajahnya kasar. Dia pun semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan suaminya itu. Baiklah, kalau memang dia tidak boleh ikut, diam-diam Melisa akan mengikuti Darius sampai dia bisa melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa kecurigaannya selama ini benar.


"Baiklah, padahal aku ingin sekali ikut. Apa Mas tahu, aku selalu kesepian setiap kali Mas pergi keluar kota. Apalagi sampai berhari-hari seperti ini. Andai saja kita punya seorang putra."


Darius seketika mendekati istrinya. Dia pun memeluk tubuh Melisa erat. Refleks, wanita itu pun balas memeluk tubuh suaminya erat.


"Kamu yang sabar. Kita belum memiliki momongan karena Tuhan belum percaya sama kita. Kamu baik-baik di rumah, Mas berangkat dulu."


Cup!


Satu kecupan kecil pun mendarat di kening Melisa mesra. Darius segera keluar dari dalam rumah dengan membawa koper berisi pakaian miliknya. Seketika itu juga, Melisa segera meraih jaket kulit miliknya dan mengenakannya kemudian.


Tekad Melisa sudah bulat, dia akan mengikuti suaminya kemana pun dia pergi hari ini. Melisa keluar dari dalam rumahnya sesaat setelah mobil yang dikendarai oleh suaminya itu mulai meninggalkan halaman rumahnya.


"Aku akan mengikuti kamu, Mas. Akan aku buktikan bahwa kamu benar-benar berselingkuh dariku," gumam Melisa.


Dia berlari keluar dari halaman, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan berharap ada taksi yang melintas. Akan tetapi, tidak ada satupun taksi yang melintas di hadapannya membuat Melisa seketika mendengus kesal. Dia hanya bisa menatap kepergian mobil suaminya yang perlahan mulai menjauh.


Melisa pun berbalik dan hendak kembali ke dalam rumahnya. Dirinya benar-benar merasa kurang persiapan. Seharunya sedari tadi dia memesan taksi agar dirinya bisa segera mengikuti suaminya. Sepertinya, niatnya untuk membuktikan kecurigaannya gagal sudah.


Tut! Tut! Tut!


Suara klakson mobil seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Melisa. Dia pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh kembali ke arah jalanan. Mobil sport berwarna kuning berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, kaca mobil pun di turunkan.


"Kak Mahesa?" gumam Melisa, hatinya seketika merasa senang tentu saja.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2