
Daniel dan Viona bekerja hanya sampai siang saja. Karena hari ini mereka ingin bertemu dengan Pak Anderson di mansion.
Saat itu suasana begitu menegangkan, tapi Viona berusaha untuk bersikap ramah pada ayah mertuanya itu.
Viona meletakkan banyak makanan yang sengaja dia masak di atas meja, bahkan dia membuat kue basah juga. "Ini semua adalah masakan aku, semoga papa menyukainya." ucap Viona dengan nada gugup.
Pak Anderson merasa Viona lancang sekali memanggilnya papa, tapi dia tidak mungkin marah pada Viona di depan Daniel.
"Ayo dimakan Pah." Daniel mencoba membujuk papanya untuk memakan masakan istrinya.
Masakan Viona begitu menggoda, apalagi saat Pak Anderson mencium semua aroma masakan Viona, membuat perutnya mendadak jadi lapar. Tapi dia gengsi untuk memakannya. Sialnya makanan itu seperti sedang menari-menari diatas meja menggoda dirinya.
Daniel mencoba jadi orang yang pertama memulai makan, "Emm... wah masakannya enak sekali." Daniel memuji masakan istrinya. "Kalau papa gak mau, biar aku yang habiskan."
Pak Anderson terpaksa mencicipinya, "Baiklah aku mencobanya sedikit." Begitu Pak Anderson memasukkan salah satu makanan itu ke dalam mulutnya, Pak Anderson matanya membulat, begitu merasakan masakan Viona sangat enak. Tapi dia gengsi untuk memakannga lagi.
"Apa papa menyukai masakan aku? Kalau papa menyukainya aku akan mengantarkan makanan tiap hari untuk papa." ucap Viona, dia harap Pak Anderson menyukai masakannya.
__ADS_1
"Emm... tidak perlu ini sudah cukup. Saya tidak ingin memakannya lagi." Pak Anderson pura-pura tidak berselera makan, dia segera mengambil air minum dan meneguknya.
Daniel memegang tangan Viona, untuk menguatkannya, dia tidak akan membiarkan papanya menghina Viona. Tapi karena Viona yang meminta Daniel untuk tidak melawan Pak Anderson, Daniel mencoba diam, dia tidak boleh terpancing emosi yang malah membuat memperumit hubungannya bersama Viona.
"Kami sudah menikah, kami menikah secara siri. Karena itu aku ingin papa merestui kami, aku ingin kami menikah secara resmi." ucap Daniel dengan sungguh-sungguh.
Viona sedikit menundukkan kepala, dia tidak sanggup melihat Pak Anderson yang menatap tajam padanya.
"Viona sedang hamil anakku, Pah. Kami akan segera memiliki anak, cucu papa. Karena itu izinkan kami hidup bahagia."
Cucu? Ada sedikit getaran dihati Pak Anderson saat bilang bahwa dirinya akan memiliki seorang cucu.
"Karena Viona adalah wanita yang satu-satunya aku cinta, aku mencintainya dari dulu. Hanya dia kebahagiaan aku."
Viona merasa tersentuh sekali mendengar jawaban dari Daniel.
"Ohokk...ohokk..." Pak Anderson terbatuk-batuk, dia menutup mulutnya dengan sapu tangan. Dia melihat ada sedikit darah di sapu tangannya. Dia tidak ingin Daniel tau, Pak Anderson melipat sapu tangan itu dan memasukannya kembali ke saku celana.
__ADS_1
"Apa sudah diperiksa ke dokter lagi? Biar habis dari ini Daniel antar ke dokter."
"Tidak perlu, papa baik-baik saja." Padahal kata Dokter penyakit Pak Anderson makin tambah parah, dan memvonis usianya tidak akan lama lagi.
Pak Anderson menatap Viona dengan tatapan tajam, "Apa alasan kamu mencintai anakku?"
Viona nampak tegang ditanya seperti itu, tadi dia ingin menjawabnya sesuai kata hatinya, "Aku tidak memiliki alasan sama sekali mengapa bisa mencintai Daniel. Karena perasaan ini tumbuh begitu saja tanpa memiliki sebuah alasan. Yang pasti aku mencintai Daniel dari dulu."
"Bagaimana kalau aku tidak akan memberikan warisan pada Daniel, kalian hidup miskin, apa kamu akan tetap mencintainya."
"Tentu saja, aku akan tetap mencintai Daniel dan setia menemaninya." Viona mengatakanya tanpa ada keraguan sama sekali.
Pak Anderson memperhatikan bagaimana cara mereka saling menatap, terlihat mereka berdua saling mencintai, apalagi saat melihat Daniel, matanya berbinar-binar menunjukkan Daniel sangat bahagia hidup bersama wanita itu. Ada rasa tidak tega dihatinya jika memisahkan lagi mereka berdua.
Pak Anderson bangkit dari duduknya, dia memilih pergi ke kamarnya. Itu sebuah pertanda dia tidak merestui hubungan mereka.
Daniel mengusap bahu Viona, agar Viona tegar, masih ada banyak waktu untuk mengambil hati papanya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Pak Anderson terdiam sejenak dipinggiran kasur sambil terus berpikir. Dia mengirim pesan pada Ziano.
[Zi tolong kamu urus pernikahan Daniel. Aku titipkan Daniel padamu. Karena bagiku, kamu adalah keluarga. Tolong jaga dia jika seadainya nanti aku tidak di dunia ini lagi. Aku bukan lah papa yang baik untuknya.]