
Pengadilan sudah memutuskan bahwa Miska dipenjara seumur hidup, apalagi sudah ada campur tangan Pak Anderson di dalamnya.
Miska merasakan penderitaan yang tiada akhir, karena setiap hari dia sering mendapatkan penyiksaan oleh para tahanan lainnnya.
"Cepat pijat kaki gue!" bentak seorang wanita yang dianggap jeger di lapas itu.
Tapi Miska pura-pura tak mendengarnya.
"Hei nenek tua lu tuli ya. Atau mau gue bikin tuli hah!"
Miska emosi mendengarnya, "Kamu pikir aku kacung apa? Jangan belagu deh jadi orang."
Sang jeger terpancing emosinya, dia yang dari tadi duduk dengan santai, dia segera berdiri dan menampar Miska dengan keras.
Plakkk...
"Arrrggghhh!" Miska meringis. Memegang pipinya terasa perih.
"Cepat hajar wanita belagu ini!" Perintah si jeger itu kepada pada tahanan lainnya.
Mereka menurut saja, menghajar Miska dengan keroyokan. Satu lawan lima, tentu saja Miska tidak bisa melawannya.
...****************...
Pagi ini Daniel berdiri diatas balkon, memandangi pemandangan disekitar apartemen, berkali-kali dia menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia masih ingat di balkon sana Viona mengungkapkan isi hatinya, Viona bilang bahwa dia juga adalah cinta pertamanya.
Daniel tersenyum miris, "Wanita kejam. Setelah membuat aku merasakan menjadi lelaki yang paling bahagia, dia pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas."
__ADS_1
Rasanya dia seakan di buat melayang setinggi langit, lalu dihempaskan ke dasar jurang. Rasanya sangat menyakitkan, lebih sakit dibandingkan yang dulu, padahal Daniel sudah memiliki rencana untuk segera membantu Viona untuk bercerai dengan Satria dan menikahinya. Namun Viona mematahkan semua impiannya. Dia telah pergi dan malah menyuruh Daniel untuk melupakan semuanya dan juga menyuruh Daniel untuk menikah dengan wanita lain. Seolah dia tidak ada artinya buat Viona.
Daniel merasakan tiba-tiba ada sepasang tangan melingkari perutnya, memeluk dirinya dari belakang. Mungkin karena melamun sampai tidak sadar ada Alexa masuk ke apartemennya.
"Sayang, aku kangen."
Daniel langsung melepaskan tangan Alexa, dia membalikan badannya menghadap calon istrinya itu, menatapnya dengan tatapan kesal. "Dari mana kamu tau pasword apartemen aku?"
"Dari om Anderson lah, lagian kan aku ini calon istri kamu. Wajar dong kalau aku tau. Jadi kalau aku kangen bisa langsung masuk walaupun tengah malam juga."
"Alexa..."
Alexa mendekatkan jaraknya pada Daniel, meraba dadanya, menatap lekat pada calon suaminya itu. "Kita sudah sama-sama dewasa, tentu saja aku tau apa yang kita butuhkan. Apalagi sebentar lagi kita akan menikah."
Alexa menjinjitkan kakinya untuk mencium bibir Daniel.
"Lebih baik kamu pergi, sebentar lagi aku mau kerja." Daniel malah mengusir Alexa.
"Ish... kamu lupa ya hari ini jadwal kita fitting baju pengantin dan membeli cincin nikah, Daniel."
Daniel menghela nafas berat, mengapa papanya harus meminta dia menikah dengan Alexa secepat ini, kalau papanya tidak sakit keras, dia tidak akan mau melakukannya.
"Hmm... terserah." Daniel segera masuk ke kamar, dia mengunci pintu kamarnya karena harus mandi, jangan sampai Alexa masuk ke dalam kamar.
"Ya ampun sampai dikunci segala. Benar-benar cowok polos." Dia tersenyum geli, merasa semakin tertantang. Padahal sebelum dengan Daniel, Alexa sudah beberapa kali berkencan dengan banyak pria saat kuliah di Amerika, tentu saja cara berpacarannya juga sangat bebas.
Alexa memotret dirinya yang berada di depan pintu kamar Daniel. Lalu membagikan foto itu ke Grup WA.
__ADS_1
Alexa: Pagi-pagi begini membangunkan calon suami, sangat menyenangkan.
Seperti biasa Grup WA selalu mendadak ramai jika bersangkutan dengan Daniel, bak seorang idola yang akan siap mematahkan hati para penggemarnya.
A: Aku iri banget, tapi kamu memang cocok sama Daniel Xa.🤧
B: Jangan pernah kecewain Daniel ya Xa.
C: Ada apa nih pagi-pagi disana? Apa mungkin dari semalam kamu bersama Daniel, Axela?
Alexa: 🙈🙈🙈
C: Wah cie...cie... ngapain aja semalaman sama Daniel? Pura-pura gak tau ah!
D: Halalin dulu lah!
E: Ya suka-suka mereka mau ngapain aja, toh bentar lagi mau nikah.
Drrttt... Drrttt...
Ponsel Alexa bergetar, padahal dia sedang asik memanas-manasi para teman alumni SMAnya.
Alexa tercekat begitu melihat siapa yang menelponnya.
Andrian
Alexa segera menolak panggilan teleponnya, wajahnya memerah saat mengingat kejadian satu bulan yang lalu.
__ADS_1