
Daniel belum bisa pulang sebelum masalah ini kelar, karena dia tidak mau membuat Viona cemas, jika tidak mendapatkan hasil yang tidak diinginkan.
Karena itu dia membawa Andrian menghadap papanya, itu adalah cara yang terbaik, dari pada Pak Anderson tau dari orang lain, pria tua itu pasti akan sangat murka karena merasa di bohongi dan di khianati Andrian. Karena itu Daniel rasa jujur lebih baik.
Jika Daniel ingin egois, dia bisa saja tidak perlu memikirkan nasib Andrian, apalagi pria itu adalah pengkhianat. Tapi dia tau Andrian berani melakukan itu karena Daniel tidak mencintai Alexa, otomatis Daniel tidak akan terluka olehnya. Daniel sama sekali tidak merasa dirugikan oleh Andrian. Apalagi mengingat hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin lama. Bahkan tidak pernah saling membocorkan rahasia.
Malam itu, di mansion Pak Anderson, Andrian berlutut di depan papa sahabatnya. Dia menundukkan kepala dengan hati yang berdebar-debar.
Daniel setia berada dibelakangnya, dia takut papanya akan berbuat macam-macam pada Andrian.
"Mengapa kamu berlutut seperti itu Andrian?" Pak Anderson tidak mengerti, dia sudah lama mengenal Andrian dari SMA. Bahkan dia yang menawarkan sendiri agar Andrian bekerja di DG Grup.
"Maafkan saya om," Lirih Andrian, "Aku telah mengkhianati Daniel."
"Mengkhianati seperti apa maksud kamu?" Pak Anderson memegang dadanya yang terasa sesak.
"Aku juga tidak tau apa Alexa hamil atau tidak. Namun jika benar Alexa hamil, anak yang dia kandung adalah anakku."
Perkataan Andrian bagaikan sebuah petir yang menggelegar di angkasa. Seakan menyambar Pak Anderson bertubi-tubi.
"Aku sangat yakin dan tau sekali, Daniel tidak pernah mencintai Alexa, dia tidak mungkin melakukannya bersama Alexa. Jika Alexa hamil, itu adalah anakku. Aku yang akan bertanggungjawab."
Pak Anderson memegang dadanya yang semakin terasa sesak, dia tidak menyangka calon menantunya akan mengecewakan dia seperti itu. Padahal Daniel dan Alexa belum menikah, tapi Alexa sudah berani berkhianat bersama orang terdekat dengan Daniel, bagaimana nanti nasib Daniel jika dia menikah dengan Alexa? Pasti Alexa akan berkhianat lagi.
"Papa tidak apa-apa?" Daniel sangat mengkhawatirkan kondisi papanya.
Tapi Pak Anderson tidak menanggapi kekhawatiran Daniel, dia ingin lebih tau lebih dalam lagi hubungan Andrian dan Alexa.
"Kamu tidak sedang berbohong kan? Dan Daniel tidak memaksa kamu untuk berbohong?"
Andrian terpaksa memperlihatkan video dirinya dan Alexa sedang berciuman di atas ranjang, saat itu Andrian sudah tidak memakai baju dan Alexa hanya memakai bra, tidak mungkin dia memperlihatkan video yang lagi berhubungan badannya, dia masih memiliki harga diri.
Pak Anderson mencengkram kemejanya tepat dibagian dadanya, dia semakin percaya kini ternyata benar Alexa telah berani berkhianat. Padahal dia sangat mengidam-idamkannya untuk menjadi menantunya.
__ADS_1
"Saya tidak rela jika Daniel harus bertanggungjawab jawab atas apa yang tidak dia lakukan. Apalagi anak itu anak saya om. Om juga seorang ayah, pasti tidak rela jika Daniel tidak mengakui om ayahnya."
Pak Anderson merasakan dadanya semakin terasa sesak dan sakit, seakan dia telah kehabisan nafas. Membuat dia kehilangan kesadaran.
"Papa!" Daniel segera berlari dan memeluk Pak Anderson. Begitu juga Andrian, dia segera ikut membantu Daniel.
...****************...
Malam ini Viona sedang menunggu Daniel pulang, dia mondar mandir di depan kamar dengan memakai penampilan yang menarik untuk menyambut suami pulang, apalagi dia sudah menyediakan kue tart kesukaan Daniel.
Namun sampai jam 11 malam, Daniel belum pulang juga. Bahkan tidak memberinya kabar. Rasanya dia begitu merindukan pria itu, dan sangat gelisah mengkhawatirkan sang suami.
Drrrtt...Drrrtt...
Ponsel Viona bergetar, rupanya ada panggilan telepon dari Daniel.
"Sedang apa malam ini?" tanya Daniel begitu Viona mengangkat telepon darinya.
Viona merasa malu sekali jika dia bilang dari tadi mondar mandir di depan kamar menunggu Daniel pulang. "Emm... aku sedang menonton TV."
"Iya aku minta maaf, tapi kapan kamu pulang?"
"Papaku penyakitnya kambuh lagi."
Viona terkejut mendengarnya, "Apa kamu sedang di rumah sakit? Bagaimana keadaan papa kamu sekarang?"
"Papa ingin dirawat di rumah. Tadi sudah diperiksa oleh Dokter. Sekarang papa agak baikan. Aku harus menjaganya malam ini, tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Kamu sebagai anaknya memang harus begitu. Aku juga ingin ikut merawatnya jika seandainya papa kamu bisa menerima kehadiran aku."
"Aku akan berbicara secara perlahan tentang kamu dan anak kita juga. Aku yakin papa pasti akan bisa menerima kehadiran kamu dan anak kita."
"Aku sangat berharap begitu."
__ADS_1
"Terimakasih, kamu adalah seorang istri yang sangat pengertian. Aku semakin mencintai kamu Viona."
"Tentu saja aku juga sangat mencintai kamu, Daniel."
"Hm....padahal tadi pagi terakhir kita bertemu, tapi rasanya seperti berbulan-bulan, aku sangat merindukan kamu. Apa kamu sudah makan?"
"Sudah, aku makan yang banyak, mungkin aku akan agak gemukan, bagaimana ini?"
Daniel terkekeh, "Tidak apa-apa, malah kamu semakin menggemaskan nanti."
"Apa kamu juga sudah makan?"
"Belum."
"Ish makan lah, bagaimana kalau kamu sakit?"
"Aku lagi ngidam kamu. Ingin makan kamu sampai habis. Bersiap-siaplah besok aku akan pulang, aku akan membuat kamu gak bisa jalan." Daniel mengatakannya dengan nafas berat, karena memang benar, dia tidak bisa tidur jika tidak bisa mencium aroma Viona.
"Ish...ada anak kita lho di dalam."
"Aku akan melakukannya dengan pelan, tapi mengurung kamu seharian di kamar."
Viona menelan salivanya mendengar perkataan Daniel, pria itu selalu saja membuat hatinya berdebar-debar. Selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi padanya. Selalu membuatnya tersenyum-senyum jika memikirkannya.
Tanpa Daniel sadari Pak Anderson mendengar pembicaraan Daniel, dia sudah kuat untuk bangkit lagi, tadinya dia ingin menemui Daniel, rupanya Daniel sedang berada di ruang tengah berteleponan dengan Viona.
Pak Anderson buru-buru berbaring diatas kasur lagi begitu Daniel sudah selesai berteleponan dengan Viona. Dia pura-pura tidur, pura-pura tidak mendengar apa yang Daniel bicarakan bersama Viona.
Ceklek!
Daniel membuka pintu kamar, dia merasa lega melihat papanya tertidur sangat nyenyak, sekejam dan seegois apapun papanya, bagi Daniel dia tetap lah papanya, terlepas bagaimana dia pernah kecewa pada papanya, namun tetap saja dia memiliki rasa sayang sebagai seorang anak kepada orang tuanya. Daniel yakin papanya pasti memiliki sifat sisi baiknya yang mungkin jarang sekali ditunjukkan oleh sang papa.
Daniel menyelimuti sang papa dengan selimut tebal. Lalu dia memilih tidur di sofa yang ada di kamar sang papa. Namun nyatanya malam ini dia tidak bisa tidur, karena terus saja teringat pada Viona, dia terus memandangi wajah Viona yang ada di layar ponselnya, "Aku sangat merindukan kamu Viona." katanya dengan pelan. Rasa rindu ini semakin menggebu, ingin sekali segera bertemu dengannya besok.
__ADS_1
Daniel ingin secepatnya dunia tahu bahwa Viona adalah istrinya. Dia ingin bisa seperti sepasang suami-istri lainnya yang bisa dengan bebas memperlihatkan rasa cinta mereka, tanpa takut tertangkap basah oleh orang lain, terutama papanya.