
Namun acara pernikahan yang seharusnya hari paling bahagia untuk Daniel dan Viona kini menjadi hari yang begitu menyedihkan karena Pak Anderson harus segera dilarikan ke rumah sakit, saat melihat sang papa terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Papa!" Daniel begitu panik, dia memeluk sang papa.
Begitu juga Viona, dia ikutan panik mengkhawatirkan kesehatan sang mertua.
Beruntung ambulan datang dengan cepat karena Ziano sudah menghubunginya. Tentu saja Ziano juga begitu gelisah karena sudah menganggap Pak Anderson ayahnya sendiri, karena Pak Anderson yang mengadopsinya dan membesarkannya dari kecil.
Begitu tiba di rumah sakit, Daniel begitu nampak gelisah sekali, di berjalan mondar-mandir di depan ruangan tempat sang papa dirawat karena belum bisa ditemui.
Viona mencoba menenangkan Daniel, dia membiarkan pria itu memeluk dirinya sambil menangis, Viona menepuk-nepuk pundak Daniel dengan lembut dengan matanya yang berkaca-kaca. Viona merasakan Daniel pasti sangat takut kehilangan sang papa.
Sementara Ziano hanya duduk di kursi dengan pikirannya yang kosong, Ziano tidak pernah menangis, dia hanya ingat terakhir dia menangis saat mama kandungnya meninggal. Apalagi saat dia di adopsi oleh Pak Anderson, Ziano tau diri dia tidak boleh merepotkan mereka karena takut dikembalikan ke panti asuhan.
Namun Sandra yang kini berada di samping Ziano, dia bisa merasakan betapa sedihnya Ziano saat ini. Lewat sorotan matanya.
__ADS_1
Seorang Dokter keluar dari ruangan itu, Daniel langsung bertanya dengan perasaan gelisah, "Dokter, bagaimana kondisi papa saya? Papa saya baik-baik saja kan?"
Dokter terlihat ragu untuk mengatakannya, "Tuan Anderson ingin berbicara dengan anda. Kondisi Pak Anderson sudah tidak memungkinkan untuk bisa sembuh kembali, apalagi sakitnya semakin bertambah parah."
Daniel nampak lemas mendengarnya, dia segera masuk ke dalam untuk menemui sang papa yang sedang terbaring di atas brankar. Daniel menarik kursi, duduk di samping papanya.
"Papa, papa harus cepat sembuh. Maafkan Daniel, Daniel belum bisa menjadi anak yang baik untuk papa."
Racun yang dulu di tuangkan oleh Miska ke dalam makanan memang saat itu sudah menyebar ke dalam seluruh tubuh, bahkan menyerang seluruh organ penting. Mau melakukan operasi bagaimana pun sudah tidak bisa karena racun itu sudah lama menyebarnya dan bersemayam di tubuh Pak Anderson.
Daniel memegang tangan sang papa, tiada hentinya dia menangis. "Papa harus sembuh, Daniel juga sayang papa. Kita harus menjadi keluarga yang sempurna dan bahagia, apalagi nanti ada cucu papa." Daniel terus berusaha menyemangati papanya. Dia tidak sanggup kehilangan Pak Anderson.
Pak Anderson menitikan air matanya saat mendengar bahwa Daniel menyayanginya, terlepas dari semua kesalahan yang telah dia buat, membuat Daniel sangat membenci dirinya, namun ternyata sekarang dia tau sebenarnya Daniel menyayangi dirinya, begitu mengkhawatirkannya. Baginya itu sudah membuat dia bahagia.
"Ka-katakan pada Z-Ziano bahwa papa me-menyayanginya juga."
__ADS_1
"Dan to-tolong sa-sampaian pa-da Viona, bahwa papa minta maaf atas se-semua ke-sa-lahan papa. Vi-viona adalah me-nantu yang baik."
"Ma-maaf, papa ti-dak bisa me-lihat cucu papa. Pa-pa harap keluarga ka-kalian hidup ba-bahagia."
Setelah mengatakan itu, tangan yang Daniel pegang seketika terjatuh ke atas brankar, rupanya sang papa telah menghembuskan nafas terakhirnya. Di penghujung usianya, Pak Anderson pasti bisa tenang meninggalkan dunia ini karena sudah bisa menyaksikan sang anak tercinta menikah dengan begitu bahagia bersama wanita yang dia cintai.
Bahkan di hari-harinya sebelumnya juga dia sudah bilang ke Ziano, bahwa dia sudah mengangap Ziano anaknya sendiri dan sudah seperti keluarga.
Karena itu Pak Anderson meninggalkan dunia ini dengan wajahnya yang berseri, tidak ada lagi yang dia beratkan di dunia ini. Walaupun memang dia pasti ingin melihat cucunya nanti, tapi Pak Anderson sudah menyadari dia tidak akan bertahan lama.
Daniel histeris begitu menyadari sang papa sudah tidak bernyawa lagi. Dia menangis memeluk tubuhnya, "Papa!"
"Papa..."
Daniel tidak menyangka bahwa di hari yang seharusnya adalah hari yang paling bahagia untuknya kini menjadi hari berduka juga. Kini sang papa telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
__ADS_1