
"Maaf, maafkan aku Viona."
"Aku tidak tau lagi bagaimana caranya untuk menahan kamu agar tetap berada disisiku. Karena aku sangat mencintaimu Viona."
Daniel memeluk wanitanya sambil menangis, dia sangat menyesal karena telah bersikap dingin pada Viona, sikapnya pasti sangat menyakiti Viona.
Viona hanya mematung, dia tidak tau mengapa Daniel tiba-tiba memeluknya seperti ini, apalagi Daniel menangis seperti ini.
Daniel melepaskan pelukan, dia menghapus air matanya yang dari tadi menetes. Daniel memegang kedua pundak Viona, menatapnya dengan lembut.
"Aku sudah tau semuanya, papaku yang membuat kamu pergi meninggalkan aku."
Viona melebarkan pandangannya begitu mendengar ucapan Daniel. Darimana Daniel tau itu semua?
"Aku minta maaf karena tidak bisa melindungi kamu..."
"Semuanya hanya masa lalu, bukannya kamu juga sangat menikmati hubungan kamu dengan Alexa." Viona masih merasa nyesek dihatinya melihat percakapan Alexa di grup WA, yang bilang menghabiskan waktu semalaman dengan Daniel.
Daniel tidak mengerti dengan ucapan Viona itu, "Maksudnya? Menikmati bagaimana?"
Viona masih terlihat kesal, apalagi Daniel pura-pura tidak tau. "Alexa tadi pagi pamer, dia berdiri di depan kamar apartemen kamu. Bukannya semalaman kamu bersama dia?"
Daniel tertawa kecil, dia senang jika melihat Viona cemburu padanya, itu artinya Viona masih mencintainya.
"Malah tertawa."
Viona ingin melepaskan tangan Daniel yang memegang bahunya. Namun Daniel malah merengkuh pinggang Viona membuat jarak mereka sangat dekat.
"Lalu kamu percaya begitu saja kalau aku akan tergoda olehnya."
__ADS_1
"Dia cantik, seksi..."
"Tapi kamu lebih segalanya dari dia, makanya aku gak bisa jauh dari kamu. Aku seperti orang gila setelah kamu pergi. Dan aku gak pernah menghabiskan malam bersama Alexa, tadi pagi dia datang ke apartemen untuk mengajak aku membeli cincin pernikahan."
Deg!
Cincin pernikahan? Hati Viona merasa ngilu mendengarnya. Haruskan nanti dia jadi istri pertama yang terabaikan, seperti yang di tivi tivi itu.
"Apa kamu akan menikahinya?"
Daniel tak langsung mereka jawab, dia mengecup bibir Viona sebentar. "Tidak, aku tidak akan menikahinya."
"Bagaimana kalau papa kamu memaksa?"
"Karena itu tolong ikuti permainan aku. Kita rahasiakan dulu pernikahan kita. Urusan aku dengan Alexa biar aku saja yang menanganinya."
Tentu saja Viona tidak ingin Pak Anderson tau bahwa dia sudah menikah dengan Daniel, dia takut Pak Anderson mengusik bisnis omnya lagi, dan di lebih takut jika Pak Anderson mengusik Sandra juga, karena Sandra adalah orang yang paling dekat dengannya.
Daniel berjongkok, dia mencium dengan lembut perut Viona, "Ini papa sayang, maafkan papa karena papa baru bertemu dengan mama kamu lagi. Papa janji papa akan menjadi papa yang baik untukmu, dan menjadi suami yang baik untuk mama kamu."
Viona hanya tersenyum melihat Daniel mencoba mengajak bicara janin di dalam perutnya. Namun dia merasakan geli karena Daniel terus saja menciumi perutnya.
Daniel menempelkan telinganya ke perut Viona, "Apa? Kamu ingin bertemu papa?"
"Kita tanyakan dulu sama mama kamu, dia mengizinkan kita untuk bertemu atau tidak." Daniel mengatakannya sambil mendongakan kepala ke atas menatap Viona.
"Modus." Viona malah malah mencibir.
Daniel segera berdiri kembali, "Aku ingin menemui anakku, bolehkan?"
__ADS_1
Viona wanita normal pasti juga menginginkannya, namun dia malu untuk bilang iya, tapi dia juga tidak mungkin bilang tidak. Viona lebih baik memilh diam.
Daniel teringat Asisten Zi yang sedang membelikan nasi uduk dan wine untuknya, dia harus melarangnya kesini, dia tidak ingin Asisten Zi mengganggu malam pertamanya bersama Viona sebagai pasangan halal.
"Ada apa Tuan?" tanya Asisten Zi sambil memapah Sandra masuk ke dalam apartemennya, Asisten Zi terpaksa membawa Sandra kesana karena Sandra keukeuh tidak ingin pulang.
"Kamu tidak perlu datang kesini. Saya sudah tidak ingin nasi uduk dan wine lagi."
"Tapi saya sudah beli semuanya."
"Nah iya buat kamu saja. Karena aku sudah mendapatkan makanan yang lezat, lebih enak dari itu."
Asisten Zi hanya menghela nafas, selezat apa makanannya sampai bisa mengalahkan nasi uduk yang biasanya selalu menjadi makanan favorit Daniel semenjak Viona pergi.
"Baik Tuan." Asisten Zi mangut saja.
Daniel mematikan panggilan teleponnya.
"Kamu sering mabuk?" tanya Viona begitu mendengar Daniel mengatakan wine pada Asisten Zi.
"Iya, semenjak kamu meninggalkan aku, aku sering mabuk. Aku merasa hidup aku berantakan. Karena itu aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi Viona."
Viona tersenyum, kini dia melihat Daniel yang dulu telah datang kembali, Daniel yang selalu menatapnya dengan lembut, Daniel yang selalu membuat hatinya berdebar-debar.
Viona tau apa yang diinginkan Daniel malam ini, karena dia juga menginginkannya. Sebuah malam yang harus mereka habiskan bersama untuk mencurahkan segala rasa kerinduan yang begitu menggebu, dia mengalungkan tangannya ke leher Daniel, mengecup bibirnya, menatap lekat kedua bola mata pria tampan itu.
"Lakukan dengan pelan."
...****************...
__ADS_1
...Apanya yang pelan? Othor masih polos hehe...