
"Ahhh...ahhh...ahhh...!"
Suara des@han menggema memenuhi kamar, terlihat seorang pria sedang memompa tubuh wanita yang ada dibawah kukungannya.
Dari setelah pulang di acara pernikahan Asisten Zi dan Sandra, Daniel mengurung seharian Viona di kamar, dari siang sampai malam hari, mereka menghabiskan seharian dengan bercinta dan bercinta.
Berbagai macam gaya telah mereka lakukan, yang penting gaya itu aman untuk ibu hamil, bahkan mereka melakukannya dengan pelan tapi pasti.
"Owh... Daniel!" Viona merem@s rambut Daniel saat mulut Daniel sedang mengisap put1ngnya, bahkan pria itu menyedotnya seperti bayi yang kelaparan.
"Aku sangat menyukainya, p@yudara kamu begitu besar Viona. Mungkin nanti aku akan berbagi dengan anak kita."
"Tentu saja, aku harus menyusuinya nanti."
"Kalau begitu aku harus n3nen sampai puas." Daniel malah semakin mengencangkan hisapannya.
"Ish... aku dengar anak kita hanya sampai dua tahun, kalau kamu seumur hidup." Viona semakin mencengkram rambut Daniel, apalagi saat Daniel memainkan lidahnya bergerilya dengan area puncaknya.
Daniel terkekeh, "Berarti semua ini milikku yah." Dia mer3mas-rem@s kedua benda kenyal kesukaannya, lalu menghisapnya kembali secara bergiliran.
Sementara dibawah sana, Daniel masih terus bergerak dengan pelan, Viona menganga penuh kenikmatan begitu merasakan Daniel semakin menekan lebih dalam, "Akhhh..."
Pria itu selalu saja membawanya terbang melayang-layang di udara, Viona seakan terombang-ambing dengan penuh kenikmatan, Daniel selalu membuatnya puas. Jika dibandingkan dengan Satria, sangat jauh berbeda, Satria lebih memilih mementingkan kepuasannya sendiri.
Daniel mencium bibir Viona, lalu mengecup leher jenjang Viona, memberikan gigitan-gigitan kecil menghisap lehernya, dia seperti seorang vampir yang sedang kehausan, membuat leher Viona begitu banyak stempel merah disana.
Daniel turun kembali ke dada Viona, dia menciuminya secara bergiliran, bahkan memberikan banyak stempel merah di bongkahan yang putih itu.
__ADS_1
Rasanya mereka belum puas, masih ingin terus memandu kasih dengan percintaan panas mereka, apalagi Daniel hanya menginginkan tubuh Viona, beberapa kali Alexa menggoda dirinya, bahkan sering memakai pakaian yang seksi di depannya, dengan memperlihatkan belahan dadanya atau perutnya yang rata tapi tak mampu membuat Daniel tergoda.
Daniel hanya menginginkan Viona, semua yang ada di dalam diri Viona. Jiwa dan raganya, semuanya adalah miliknya.
"Emmm...ahhhhh..." Mereka mengerang panjang begitu merasakan pelepasan.
Daniel terpaksa harus menghentikan aktivitas percintaan mereka untuk sementara, dia membawa satu piring nasi goreng ke dalam kamar, dia sudah memakai piyamanya yang lengkap, sementara Viona hanya menutupi tubuhnya dengan selimut, biar nanti kalau Daniel meminta lagi dia tidak perlu buka baju lagi.
Daniel begitu sabar menyuapi Viona, dia ingin memanjakannya, sambil sesekali dia menyuapi dirinya sendiri.
"Aku paling suka nasi goreng mbok Sum, sangat enak." ucap Viona sambil mengunyah nasi goreng itu dengan pelan.
"Sama, karena aku waktu itu menyuruh Asisten Zi membeli nasi goreng ini, dia bisa bertemu Sandra. Tanpa sadar kita yang telah mempertemukan mereka."
"Tapi nasi goreng ini bukan Asisten Zi yang beli kan?" Viona takut Daniel malah menganggu acara malam pertama Asisten Zi dan Sandra.
"Gak lah, aku juga punya hati, gak mungkin aku mengangggu malam pengantin mereka."
Daniel jadi teringat dengan Alvin, "Tapi ngomong-ngomong siapa pria itu?"
"Pria yang mana?"
"Yang mengajak kamu berdansa. Aku tidak suka melihat kamu dekat pria lain." Daniel menyuapi Viona kembali.
"Kamu cemburu?" Viona malah senang jika Daniel cemburu.
"Sangat cemburu."
__ADS_1
"Dia itu kak Alvin, sepupunya Sandra. Aku sudah lama kenal sama dia. Dia sudah banyak menolong aku selama ini."
"Hmm...aku merasa jadi pria yang tak berguna, malah pria lain yang menolong kamu."
"Itu karena aku memang sengaja menghindari kamu, bukan karena kamu tidak berguna."
Daniel menyimpan piring yang sudah kosong di atas nakas, dia memegang wajah Viona, "Karena itu apapun yang terjadi, jangan meningalkan aku lagi meski papa aku menyuruh kamu untuk meninggalkan aku, jangan pernah pergi, dan aku juga tidak akan pernah meninggalkan kamu, sampai kapanpun."
Viona mengangguk pelan, "Aku minta maaf karena aku malah memilih menyerah waktu itu. Aku pikir kamu akan bahagia setelah aku pergi."
"Kebahagiaan aku hanya kamu, Viona."
Mereka saling menatap lalu menyatukan kedua bibir mereka sebentar.
"Besok jadi menemui omku?"
"Tentu saja, karena itu aku ingin tau apa dan kesukaan om dan tante kamu, aku akan membelikan apapun yang mereka suka."
"Jangan berlebihan seperti itu!"
"Kesan pertama harus bisa mengambil hati mereka."
Setelah keadaan Pak Anderson membaik, baru Daniel akan membawa Viona menemui papanya.
"Kalau begitu kamu juga harus beritahu aku makanan apa saja yang papa kamu suka. Aku akan memasak untuknya."
"Nanti aku kasih tau. Tapi sekarang ini... aku mau lagi, satu celup aja, boleh kan?" pinta Daniel sambil menarik selimut yang menutupi tubuh indah Viona.
__ADS_1