
Ceklek!
Begitu Ziano membuka pintu, dia terperangah saat melihat siapa yang datang.
"Melinda?" Ziano menatap perempuan yang sedang tersenyum padanya. Ziano sama sekali tidak menyangka akan bisa bertemu dengannya lagi, padahal dia sudah tidak ingin bertemu lagi dengannya.
Ziano dan Melinda bersahabatan sudah lama dari sekolah, Ziano adalah pendengar setia bagi wanita itu, begitu pun juga Melinda , dia selalu menjadi pendengar setia bagi Ziano. Persahabatan mereka begitu dekat, bahkan orang-orang berpikir mereka seperti sepasang kekasih.
Namun 6 tahun yang lalu Melinda tiba-tiba pergi tanpa memberi kabar padanya.
Mata Ziano kemudian beralih menatap anak yang sedang tersenyum padanya.
"Emm... dia Zivana, anakku." Melinda mencoba memperkenalkan Zivana pada Ziano.
"Apa kamu sudah menikah?"
"Enam tahun yang lalu aku dipaksa menikah dengan pria yang dijodohkan oleh ayahku. Karena itu aku tidak sempat berpamitan sama kamu saat suami aku membawa aku tinggal di Inggris."
"Jadi itu alasan kamu pergi tanpa pamit?" tanya Ziano dengan tatapan dinginnya, dia hanya merasa dirinya diabaikan dulu. Padahal mereka bersahabat sudah sangat lama.
"Karena aku akut, aku takut hatiku berat untuk pergi, karena dari dulu aku mencintaimu Zi."
__ADS_1
Ziano membulatkan matanya begitu mendengar ucapan Melinda, dia sama sekali tidak menyangka ternyata Melinda mencintainya dari dulu. Sementara Ziano memang kaku dari dulu, dia tidak tahu bagaimana perasaannya pada Melinda, hanya saja dulu dia sangat nyaman bersahabat dengan wanita itu, orang yang selalu menjadi pendengar setianya, apalagi Ziano memang kesepian, sebagai seorang anak yang diadopsi dan dilatih untuk setia mengabdi pada keluarga Gilbert.
"Tapi saat aku hamil suami aku meninggal. Aku meneruskan bisnis suami aku. Bahkan karena aku masih sangat mencintai kamu, aku memberi nama anakku Zivana, agar rasa rindu aku sedikit terobati."
Ziano hanya menghela nafas, memang setelah Melinda pergi dia menjadi kehilangan semangat, tidak ada lagi yang selalu perhatian padanya, tidak ada lagi orang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya, tidak ada lagi orang yang selalu menghiburnya saat dia sedang sedih.
"Tapi percuma juga kamu mengungkapkannya padaku, itu semua sudah berlalu."
"Tapi kamu cinta juga kan sama aku Zi?"
Ziano menggelengkan kepala, "Aku gak tau Mel, aku orang yang sulit membaca perasaan aku bagaimana. Tapi dulu aku menganggap kamu adalah salah satu orang yang berarti dalam hidup aku."
Zivana tidak mengerti dengan pembicaraan kedua orang dewasa itu, dia memilih bermain boneka saja, kebetulan dari tadi dia membawa boneka.
"Aku sudah menikah!"
Deg!
Melinda terdiam sejenak, dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Ziano. Ziano orang yang begitu kaku bahkan tidak tau apa itu cinta, tidak mungkin menikah dengan orang lain. Kecuali jika wanitanya yang mengggoda Ziano dan memaksanya menikah.
"Jangan bercanda Zi, aku tau banget kamu bagaimana,"
__ADS_1
"Tapi memang begitu kenyataannya."
"Apa wanita itu menggoda kamu makanya dia menikah dengan kamu? Aku tau banget kamu orang yang tidak memikirkan pernikahan."
"Aku rasa kamu tidak perlu tau alasannya." Karena sesungguhnya Ziano juga tidak tau perasaan dia pada Sandra bagaimana, walaupun dia merasa mungkin dia jatuh cinta pada wanita itu karena setiap bersamanya hatinya terus bergetar.
"Pernikahan tanpa cinta itu sangat menyiksa. Lebih baik kamu cepat mengakhirinya jika tidak ingin hidup dalam penderitaan. Seperti aku dulu."
Ziano tidak mungkin mempersilahkan Melinda masuk ke dalam apartemen, karena dia juga harus menghargai perasaan Sandra.
"Kalau begitu aku pamit, aku hanya tinggal satu minggu disini. Aku harap kamu bisa memikirkan bagaimana masa depan kamu nanti. Aku harap kita bisa bersama Zi." Akhirnya Melinda berpamitan pada Ziano, dia meraih tangan Zivana.
Zivana tersenyum ceria, dia melambaikan tangannya pada Ziano. "Dadah om!"
Ziano terpaksa tersenyum menatap Zivana.
Ziano memandangi Melinda yang kini telah naik lift bersama anaknya. Ziano menutup pintu kembali, dia kembali ke kamarnya.
Ziano tertegun melihat Sandra yang sudah tertidur. Mungkin memang malam ini belum waktunya dia bisa melakukan malam pertama dengan Sandra. Apalagi setelah kedatangan Melinda membuat gairahnya menghilang.
Ziano membenarkan selimut yang Sandra pakai, kemudian dia merebahkan dirinya di samping Sandra sambil memikirkan sesuatu. Padahal Sandra belum tidur, dia hanya pura-pura tidur. Tadi dia tidak sengaja mendengar dengan jelas pembicaraan Ziano dengan Melinda.
__ADS_1
Bagaimana kalau memang Ziano terpaksa menikah dengannya? Hanya sebagai bentuk rasa tanggungjawab saja? Bagaimana kalau ternyata Ziano sebenarnya mencintai wanita di masa lalunya itu?
Ini alasan dulu mengapa dia melarang Ziano untuk datang ke acara pernikahannya, dia takut Ziano terpaksa menikahinya, karena dia bisa menebak Ziano bukanlah pria yang gampang jatuh cinta.