
Kondisi Daniel sudah dipastikan baik-baik saja, hanya ada luka sedikit robek saja di kulitnya kepalanya yang sudah dijahit. Bahkan dia sudah sadarkan diri sekarang.
"Bagaimana kondisi Viona? Dia baik-baik saja kan?" itulah yang pertama kali Daniel tanyakan pada Andrian. Dia memegang kepalanya yang dibaluti perban.
"Aku tidak tahu. Tapi kata Sandra, dia bertengkar dengan suaminya. Lebih baik sekarang kamu istirahat, jangan memikirkan apa-apa dulu."
"Bagaimana bisa aku istirahat dengan tenang? Bagaimana kalau suaminya menyakiti Viona." Daniel malah semakin mengkhawatirkan Viona.
"Mereka suami istri Daniel."
"Tapi tetap saja seorang suami tidak boleh melakukan kekerasan pada istrinya, seorang suami dilarang menyakiti istrinya."
"Tapi tetap saja semua itu selalu ada dalam rumah tangga."
"Lalu menurut kamu hal yang wajar jika Viona terluka dan sakit hati karena suaminya? Untuk apa menikah jika didalam rumah tangga itu terjadi saling menyakiti."
Andrian terdiam, dia rasa sepertinya Daniel sudah benar-benar sangat mencintai Viona. Dia jadi teringat dengan kondisi Pak Anderson.
"Om Anderson sedang di rawat di rumah sakit ini. Sepertinya ada yang sengaja meracuni Om Anderson."
Daniel ingin melihat kondisi sang papa, walaupun dia harus dengan tangan yang masih tersambung dengan selang infus. dia berjalan dengan menarik tiang infus. Ditemani Andrian.
"Bagaimana kondisi papa Asisten Zi?" tanya Daniel begitu melihat Asisten Zi yang sedang bediri di luar ruang rawat inap kelas VVIP itu.
"Tuan Anderson sempat merasakan sesak nafas. Tapi sekarang kondisinya mulai membaik, Dokter sudah menanganinya dengan baik."
...****************...
Viona terpaksa harus pulang ke rumah karena Satria terus saja memaksanya untuk ikut pulang dengannya.
Begitu sampai rumah, mereka bertengkar hebat. Namun terbalik, Satria yang menghakimi Viona, dia tidak terima jika seandainya Viona berpaling darinya.
__ADS_1
"Katakan padaku. Ada hubungan apa kamu dengan Daniel!" bentak Satria dengan emosi.
"Kenapa kamu begitu mengkhawatirkannya?Bahkan dia rela terluka gara-gara kamu."
Viona mengepalkan tangannya karena Satria sama sekali tidak merasa bersalah padanya atas rekaman CCTV yang memperlihatkan Satria dan Miska berada di kamar hotel yang sama selama berjam-jam. "Lalu bagaimana dengan kamu? Bahkan kamu sebagai suami aku pun tidak sanggup melindungi aku seperti itu."
"Jadi kamu beneran selingkuh dari aku Viona? Disaat aku berjuang buat masa depan kita, demi kamu!"
Viona tertawa kecil, perkataan Satria rasanya begitu menggelikan. "Demi masa depan kita? Dengan kamu menjual tubuh kamu pada wanita itu hanya untuk menaikkan jabatan kamu Mas."
"Lalu aku harus apa? Membiarkan kita terus hidup miskin tinggal di kontrakan yang kumuh? Bahkan banyak orang yang menghina kita, termasuk teman-temanku."
Mata Viona berkaca-kaca mendengarnya mengingat dulu pernikahan dia dan Satria begitu bahagia "Tapi nyatanya dulu aku begitu bahagia Mas. Bagiku dengan kamu setia dan perhatian sama aku, itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak pernah menuntut kamu. Bahkan saat kamu naik jabatan pun, uang kamu selalu habis kan? Apanya yang demi aku?"
"Karena itu ayo kita kembali seperti dulu lagi Viona."
Viona menggelengkan kepala, dia rasa keputusannya sudah bulat, dia ingin berpisah dengan Satria. "Gak Mas, aku gak bisa melanjutkan pernikahan kita."
"Gak Viona, sampai kapanpun aku gak akan pernah melepaskan kamu."
"Aku gak bisa Mas..."
"Kenapa? Apa karena kamu sudah mendapatkan pria yang kaya raya. Kamu pikir Daniel akan mencintai kamu sepenuh hati? Tidak Viona!"
Viona terdiam sebentar lalu menatap Satria, "Aku sudah lelah dengan semua ini. Dua tahun kamu membohongi aku dan menyelingkuhi aku, membuat kamu semakin tak tersisa sedikitpun di hati aku."
"Lalu bagaimana dengan kamu, apa kamu selingkuh dengan Daniel heuh?"
"Kalau iya memangnya kenapa? Itu berarti kita infaskan? Aku juga bisa seperti kamu. Kita sama-sama berdosa. Karena itu tidak ada alasan lagi buat kamu mempertahankan aku."
Plakk...
__ADS_1
Saking emosinya tanpa sadar Satria menampar pipi Viona, dia tidak terima dengan pengakuan Viona, dia tidak terima jika Viona ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Viona meringis memegang pipinya yang terasa begitu perih karena tamparan keras dari Satria.
Satria merasa bersalah karena dia tidak bisa menahan emosinya sampai kelepasan menampar Viona, dia sangat menyesal. "Vi-Viona, maafkan aku..."
Viona tidak ingin mendengarkan penjelasan Satria, dia memilih pergi dari rumah, walaupun saat itu dalam kepada hujan, dia membiarkan tubuhnya basah kuyup, baru pertama kalinya Satria menampar nya seperti ini. Membuat dia ketakutan, bahkan kini dia menangis, dia sudah tidak sanggup lagi hidup dengan Satria.
Satria sangat marah pada dirinya sendiri mengapa harus sampai menampar Viona, dia melempar beberapa guci yang ada diatas meja ke lantai, dan memukul-mukul tembok untuk melampiaskan segala amarahnya."Arrrggghhh... brengsek. Brengsek."
"Tega kamu menyelingkuhi aku Viona."
Viona berteduh di halte bus, menyilangkan tangannya ke dadanya karena kedinginan. Entah kemana dia harus pergi di tengah malam seperti ini. Viona baru sadar dia tidak membawa ponsel ataupun dompet. Ketinggalan di rumah. Tidak mungkin ke rumah Sandra dalam keadaan basah kuyup seperti ini, apalagi ditengah malam, dia takut mengganggu kedua orang tuanya, apalagi keluarga besarnya sedang berkumpul disana. Apalagi ke rumah om Ari, dia sama sekali tidak ingin bertemu tante Sinta, dan mereka pastinya akan mendesaknya untuk kembali bersama Satria.
Hujan semakin deras, guntur menggelegar diangkasa. Dia sangat ketakutan sekali, bahkan dia tidak dapat membendung air matanya yang terus saja mengalir.
"Viona."
Viona dikejutkan oleh seseorang yang memanggil namanya, dari suaranya dia sudah tau siapa yang memanggilnya seperti itu, memanggil namanya dengan begitu lembut.
Viona mendongakan kepalanya menatap ke arah Daniel yang kini berdiri di hadapannya dengan memakai payung, bahkan pria itu masih memakai pakaian pasien.
Viona segera berdiri "Daniel, bukannya kamu dirumah sakit?"
Daniel melangkahkan kakinya mendekatkan dirinya dengan Viona, menatap netra kedua bola mata wanita itu "Aku tidak tenang sebelum memastikan kamu baik-baik saja. Tapi nyatanya dugaan aku benar, kamu tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana bisa aku tidur dengan nyaman sementara keadaan kamu seperti ini. Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku untuk menjauhi kamu. Apapun yang terjadi aku akan memperjuangkan kamu Viona."
Viona malah terisak, "Kenapa kamu seperti ini? Aku bukan wanita yang pantas untuk diperjuangkan oleh kamu."
Daniel membiarkan payungnya jatuh ke trotoar sana, dia menarik Viona ke dalam pelukannya, "Karena kamu special Viona. Hanya ada satu nama dihati aku, yaitu kamu Viona, hanya kamu."
Malam itu hujan mengalir semakin deras, udara semakin terasa dingin, membuat Viona tanpa sadar telah membalas pelukan Daniel, dia menangis terisak menyembunyikan wajahnya ke dalam dada Daniel. Mereka semakin mempererat pelukan mereka.
__ADS_1
Tak bisa kah malam ini saja dia melupakan semuanya, hanya dipenuhi dengan Daniel dan dirinya saja, seakan malam ini hanya milik mereka berdua. Hanya satu malam. Khusus malam ini.