
Takkan pernah ada yang tahu kapan Allah akan mengirimkan malaikat Izrail untuk mencabut ruh manusia. Tadi pagi Kyai Jalaludin masih mengisi pengajian rutinan setiap pagi bersama para santrinya, beliau juga masih mengimami salat maghrib di masjid Al Furqon. Namun siapa yang menyangka, selepas salat maghrib beliau mengaku masuk angin dan minta dibuatkan wedang jahe pada Nyai Siti Maemunah, istrinya. Tidak ada lima menit Nyai Maemunah ke dapur membuat wedang jahe, begitu kembali kyai Jalaludin sudah tiada dalam keadaan duduk di sofa ruang tengah.
Kepergiannya yang mendadak tentu saja membuat keluarganya sangat terpukul. Nyai Maemunah berkali-kali pingsan. Gus Misbah Al Farich, putra bungsu Kyai Jalaludin tak kuasa membendung air matanya, hingga ia kehabisan tenaga. Sementara itu, sebagai putra tertua Gus Hasan berusaha tegar menghadapi kehilangan yang teramat ini, ia yang mondar-mandir menerima tamu yang terus berdatangan tanpa henti, memberi instruksi ini dan itu kepada para santri. Bahkan ia belum sempat melihat keadaan Umi dan adiknya di dalam.
Ruang tamu itu penuh sesak oleh para tamu dan juga santi-santri yang tengan membaca tahlil. Di halaman rumah Gus Hasan menyalami para tamu yang baru datang, diantaranya adalah sosok yang sangat dihormatinya, yakni Kyai Abdul Fatah. Di sampingnya Romo Abdurrahman Hadiningrat yang tampak sudah sepuh berjalan dengan bantuan tongkat dan diapit oleh Fikri yang merupakan junior gus Hasan saat di pesantren Lirboyo, Kediri. Sedangkan di samping Fikri berdiri sosok laki-laki tampan awal tiga puluhan.
Terlebih dahulu Gus Hasan menyalami Romo Abdurrahman, mencium tangannya dengan takzim. Dengan penuh welas asih Romo Abdurrahman memeluknya, memberinya petuah singkat agar ia tegar dan ikhlas, kemudian bergantian dengan Kyai Abdul Fatah, Fikri, lalu laki-laki tampan bernama Lukman yang ternyata tak lain adalah adik kandung Kyai Abdul Fatah.
Hanya dengan melihat keduanya, siapapun tidak akan menyangka jika Lukman adalah adik kandung Kyai Abdul Fatah. Dari penampilan, gaya bicara, hingga tindak-tanduknya terlihat sangat berlawanan. Jika Kyai Abdul Fatah adalah sosok yang agamis, Lukman justru terlihat seperti aktor luar negeri yang tampak di spanduk-spanduk iklan di pinggir jalan. Semula Gus Hasan menebak pria tersebut awal tiga puluhan, ternyata salah besar. Lukman sudah menginjak empat puluh tiga tahun.
Gus Hasan mempersilakan mereka masuk, namun entah mengapa ia merasa ada mata yang terus memperhatikannya. Ia mencoba mengarahkan pandangannya mengelilingi sekitar, namun tak menemukan siapapun. Tanpa sengaja matanya menerobos jendela kaca yang membatasi ruang tamu dengan halaman samping. Ada dua orang gadis yang tengah menatapnya, namun yang satunya buru-buru mengalihkan pandangannya sambil menyeret temannya dan berlalu. Hanya sedetik tatapan mata mereka bertemu dan ia tertegun. Entah mengapa Gus Hasan merasa tidak asing dengan gadis tersebut, dan anehnya ia kembali merasakan getaran yang pernah dirasakannya satu tahun yang lalu.
****
Menjadi juara satu pada kejuaraan Taekwondo se-Jakarta membuat Einsteina maju ke tingkat nasional yang diselenggarakan di kota Jogjakarta. Kira-kira satu tahun yang lalu, saat Lukman bersikeras akan ikut mendampingi putrinya yang akan maju pada kejuaraan Taekwondo nasional, Einsteina kira hanya ikut mendampingi alias menyaksikan dirinya bertanding, sehingga ia dengan senang hati menyetujuinya. Namun siapa yang menyangka jika papanya ternyata papanya bukan sekedar ingin menyaksikan anaknya bertanding, tapi ia juga yang bersikeras menentukan tempat penginapan yang cocok untuknya, hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab pelatih sekaligus guru olahraganya di sekolah. Dan sialnya, Lukman membawa Einsteina ke rumah eyangnya agar ia tetap dalam pengawasan selama di Jogja. Satu-satunya tempat yang sangat tidak ingin Einsteina kunjungi di kota Gudeg ini.
Lukman juga bersikeras akan mengantar jemputnya, yang tentu ditentang keras oleh putrinya. Jarak antara rumah eyangnya dengan GOR UNY, tempat diselenggarakannya turnamen tidak terlalu jauh. Tapi Lukman sama sekali tidak mendengarkan protes putrinya, hingga kemudian setelah mengenakan jilbab yang terus-terusan disodorkan oleh eyang putrinya, Einsteina diam-diam nekad pergi sendiri dengan menggunakan bus Trans Jogja.
Hal yang sangat tidak ia sangka adalah, saat ia bertemu pandang dengan seorang laki-laki rupawan berwajah teduh di dalam bus yang akan membawanya ke stadion Maguwoharjo, dimana pelatihnya menjemputnya. Laki-laki yang ia yakin sama dengan yang barusan dilihatnya di ruang tamu almarhum kyai Jalaludin. Mereka hanya sekilas bertemu, tapi entah mengapa Einsteina selalu terbayang-bayang olehnya meski tanpa ia sadari. Senyumnya, suara beratnya, hingga rahang perseginya yang selalu terbayang saat membicarakan Robert Pattinson selalu hadir dalam mimpinya, meski ia sendiri sama sekali tidak menganggapnya sesuatu yang istimewa.
"Ina, masya Allah. Dari tadi mbak cariin kok ternyata ngumpet di sini." Sosok berjilbab marun muncul di ambang pintu mengagetkan keduanya yang baru saja hendak masuk.
"Mbak Dijah? Waaa, Ina kangen." Teriaknya langsung memeluk Khadijah, saudara sepupunya tersebut.
"Apa kabar adikku? Rasanya lama sekali mbak tidak ketemu Ina, sekarang sudah tambah tinggi, ya. Mbak sampai kalah." Khadijah memutar-mutar tubuh Einsteina sambil mengamatinya dengan takjub, kemudian matanya menangkap seorang gadis yang berdiri tak jauh dari mereka tengah mengamati keduanya. "Ini pasti Vivian, temannya Ina. Jauh lebih cantik dari yang diceritain Ina lewat surat-suratnya." Khadijah tersenyum ramah seraya mendekati Vivian yang tampak canggung, menyalami kemudian memeluknya akrab.
"Ini Mbak Dijah, Vi. Adiknya Mas Fikri." Jelas Einsteina yang hanya di angguki kepala oleh Vivian. kemudian Khadijah menggandeng tangan keduanya berjalan sepanjang halaman ke belakang.
"Kita mau kemana, Mbak?" tanya Vivian setelah cukup lama bungkam.
"Tadi Umi pesan sama Mbak, Ina sama Vivian nginap di kamar Mbak saja biar ada yang jagain."
__ADS_1
"Yah, kok nginep sih. Memangnya kita gak pulang malem ini?" protes Einsteina tampak enggan.
"Tidak mungkinlah, Na. Semua akan menghadiri pemakaman Kyai Jalaludin besok. Jadi kalian akan menginap di sini sampai besok." Jawab Khadijah, Einsteina menghela napas malas.
"Memangnya Umi sama Eyang kemana, Mbak? Mereka juga nginep di kamar Mbak Dijah?" ucap Vivian. Khadijah menggeleng sambil tersenyum sebelum kemudian menjawabnya.
"Umi sama Eyang sedang menemui Umi Maemunah, mereka menginap di ndalem."
Ketiganya tiba di sebuah ruangan yang terletak tepat di belakang kediaman keluarga ndalem. Ruangan 4x6 yang terdapat dua buah ranjang bertingkat, dua buah lemari plastik kecil, dan sebuah meja kayu yang diatasnya terdapat tumpukan buku-buku. Ruangan tersebut ternyata memiliki dua buah pintu. Pintu pertama adalah pintu yang tadi mereka lalui dari halaman, di sampingnya terdapat sebuah meja kecil yang di atasnya bertengger dispenser air minum. Sedangkan pintu satunya lagi ada di sebelah kanan yang terdapat kapstok untuk menggantung pakaian.
Mata Einsteina memperhatikan ruangan yang bahkan terlalu kecil untuk ukuran kamar para pembantunya di rumah. Sementara Vivian tanpa banyak protes langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur pada salah satu ranjang bertingkat dan memejamkan matanya.
Tangan Einsteina terulur hendak membuka gagang pintu kedua yang terdapat cantelan baju. Namun buru-buru Khadijah menahannya.
"Sudah malam, Ina. Lebih baik kamu tidur. Nanti Om Lukman negur mbak kalau sampai kamu begadang." Ujarnya sambil membelai puncak kepala Einsteina dengan sayang. Einsteina terpaksa menurut. Sejak kecil memang hanya Khadijah yang bisa membuatnya jadi penurut. Kemudian keduanya berjalan menuju tempat tidur, Einsteina segera membaringkan tubuhnya sementara Khadijah menyelimutinya.
"Jangan lupa doa, Mbak tinggal sebentar ya." Ujarnya setelah mengecup kening Einsteina, lalu bangkit berjalan menuju pintu tadi tidak sempat dibuka oleh Einsteina. Einateina berusaha memejamkan mata dan bayangan wajah tampan nan teduh itu kembali hadir.
****
Sementara di depannya Khadijah bersama dengan lima orang temannya tampak sibuk memasak. Sebuah dapur luas yang ternyata terhubung dengan kamar yang semalam di tempati oleh Einsteina. Tiga diantara mereka adalah para santri senior yang mengabdi menjadi khadimah Nyai Maemunah, termasuk Kadijah, sementara sisanya adalah santri yang turut membantu.
Begitu Vivian keluar, Einsteina masuk bergantian untuk mandi. Tak sampai sepuluh menit Einsteina di dalam kamar mandi, ia keluar sambil menggerutu kedinginan. Tak lama kemudian ia kalang kabut mencari softlense hitam yang selalu dipakainya, sampai-sampai Khadijah yang tengah memasak pun turut mencarinya.
"Bukannya lo semalem gak pake softlense deh, Na." ungkap Vivian setelah lelah mencari barang kewajiban Einsteina yang tak kunjung ketemu.
"Memang semalam kamu taruh dimana, Na. udah mbak cari-cari gak ketemu juga."
"Ya ampun, semalem kan si nenek gambreng itu buru-buru nyeret kita. Gue gak sempet make softlense, Vi." Einsteina menepuk keningnya sendiri. sementara Vivian memutar bola matanya kesal.
"Bilang aja lo sengaja ngerjain gue sama Mbak Dijah!" seru Vivian gemas.
__ADS_1
"Yaelah, gue beneran panik dodol. Itu barang wajib gue pake."
"Sudah, sudah. Lebih baik lekas berbenah, terus sarapan. Habis itu kita yasinan bersama sebelum pemakaman kyai Jalaludin." Khadijah buru-buru menengahi keduanya.
"Tapi mata Ina, Mbak?" Einsteina tampak memelas, Khadijah sangat paham maksud adik sepupunya tersebut.
"Ina pakai cadar aja, ya." Jawabnya menenangkan.
"What?? Einsteina make cadar. Yang benar saja, Mbak. Pake gamis beginian aja ngeluhnya gak henti-henti." Sanggah Vivian tidak percaya.
"Diem lo, bawel. Ya udah pinjem cadarnya dong, Mbak." Ujarnya sambil melengos menghindari tatapan sahabatnya yang sukses membuat Vivian semakin melongo. Khadijah hanya sambil mengambil sebuah kain dari dalam lemari plastik.
****
Setelah hampir dua jam proses pemakaman Kyai Jalaludin, tepat pada pukul 11.00 lautan manusia yang memenuhi pesantren Al Furqon perlahan-lahan semakin berkurang. Sebagian warga kampung sudah kembali ke rumah masing-masing, para santri hilir mudik membersihkan halaman dan juga membereskan kursi-kursi yang berserakan.
Sementara itu di belakang asrama putra dimana jenazah almarhum Kyai Jalaludin dimakamkan, Gus Hasan baru saja selesai membaca ayat-ayat suci Al Quran di samping makam ayahandanya bersama beberapa orang lainnya.
Tak lama kemudian ia bangkit bersama adiknya, Gus Misbah dan berjalan menuju rumahnya. Hatinya masih diliputi kesedihan, tapi sebisa mungkin ia tak mau menunjukkannya, terutama di depan Gus Misbah dan Uminya. Sementara Gus Misbah sendiri masih tampak murung, meski ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Gus Hasan memang mewanti-wantinya untuk tidak menangis, karena menangis hanya akan membuat almarhum ayahnya diliputi kegelapan di dalam kuburnya. Gus Hasan bahkan sampai membentaknya saat Gus Misbah tak bisa menghentikan tangisnya. Gus Hasan tak henti-hentinya mengatakan, jika adiknya merasa kasihan pada almahum kyai Jalaludin maka tak seharusnya keperiannya ditangisi. Bukannya ia tak kasihan melihat rasa kehilangan yang dirasakan oleh adiknya, hanya saja ia tak sanggup melihat keluarganya terpuruk sedemikian rupa
Menangisi orang yang sudah meninggal juga tidak boleh, karena hanya akan membuat almarhum menderita di sana. Yang sudah pergi tak akan pernah bisa kembali meski ditangisi hingga buta. Cukup didoakan dari sini. Karena orang yang sudah meninggal tak lagi butuh apa-apa selain doa.
Saat mereka tiba di halaman rumah, Gus Hasan melihat Khadijah, khadimah uminya yang juga merupakan putri dari Kyai Abdul Fatah tengah berjalan bersama seorang gadis bercadar hitam. Khadijah buru-buru menundukkan kepalanya saat melihat Gus Hasan dan Gus Misbah berjalan semakin dekat dengan mereka, namun berbeda dengan si gadis bercadar. Ia justru menengadah menatap mereka, dan tatapan mereka bertemu.
Gus Hasan nyaris tersandung pembatas jalan saking terkesimanya. Mata itu, mata biru yang selalu menari-nari dalam benaknya. Mata teduh milik bidadari dari taman surga, sang Riadhil Jannah yang tak pernah hilang dalam ingatannya. Seorang yang selama ini membuatnya resah tak menentu, ternyata ia ada di sini sangat dekat dengannya.
Betapa Gus Hasan ingin mengatakan sesuat, tapi kenapa mulutnya terasa kelu, tak ada satupun kalimat yang mampu ia lontarkan. Hingga kemudian kesadarannya pulih sepenuhnya saat Gus Misbah menyenggol tangannya dan gadis itu sudah tidak ada lagi di depannya.
"Mas baik-baik saja?" tanya Gus Misbah mengernyitkan kening.
"Ah, iya.. eh.." jawaban Gus Hasan membuat kernyitan di kening sang adik semakin dalam.
__ADS_1
"Mas kenapa sih?"
"Tidak apa-apa, ayo masuk. Temui Umi." Kemudian Gus Hasan berjalan mendahului adiknya untuk segera masuk ke rumah. Detak jantungnya masih belum kembali normal.