
Dengan gesit Einsteina melompat ke atas arena pertandingan.
***
Seketika ruangan senyap, semua menatapnya dengan macam-macam pandangan. Ada yang terkesima melihat gadis cantik berdiri berkacak pinggang di atas ring. Ada yang heran, gadis cungkring dengan babydoll motif Angry Bird tidak seharusnya berdiri di tempat berbahaya. Ada juga yang mesum menebak-nebak ukuran payudara di balik babydoll loggar itu. Jarwo juga menoleh merasa marah saat suara yel-yel dukungan untuknya berhenti. Namun raut bengisnya berubah saat melihat sumbernya. Mulutnya ternganga menatap gadis di depannya dengan heran sekaligus takjub.
Dari kerumunan penonton Billy menatapnya horror, keningnya basah oleh peluh,tapi Einsteina pura-pura tidak melihatnya. Tatapannya beralih pada Jarwo yang juga masih tengah menatapnya. Tiba-tiba terdengar tepuk tangan patah-patah memecah keheningan.
Semua mata mencari sumber suara tersebut. Lalu seorang pria tengah baya turun dari sebuah tangga kayu menuju kerumunan diikuti beberapa bodyguard bertampang sangar. Einsteina menyipitkan matanya menatap wajah tidak asing tersebut. Ia adalah Ario Gumelar, seorang pebisnis sekaligus teman akrab Papanya. Semua penonton menyingkir memberinya jalan, beberapa bodyguard yang berjaga di bawah membungkuk hormat saat ia berjalan melewati mereka.
Bandot tua inilah yang mengelola tempat terkutuk ini. Einsteina tersenyum sinis, ternyata banyak sekali manusia berkedok baik yang ternyata adalah gembong kejahatan. Setahu Einsteina Ario Gumelar adalah teman yang baik, begitu cerita Papanya waktu itu sembari menunjukkan foto kebersamaan mereka saat peresmian kerja sama perusahaan mereka. Tapi siapa yang menyangka jika teman baik Papa ternyata memiliki bisnis ilegal yang justru sering dikunjungi oleh putrinya.
Ario Gumelar masih terus bertepuk tangan sambil berjalan mendekati arena pertandingan, seolah menyaksikan pemandangan yang membuatnya senang. Namun matanya berkata lain, tatapan dingin menusuk itu mengarah pada gadis di atas sana. Dapat dipastikan, ia tidak mengenali Einsteina. Bagus.
"Luar biasa! baru kali ini ada yang berani mengganggu kesenanganku. Dan yang lebih menakjubkan gadis kecil ini yang membuatnya." Katanya dari bawah.
"Diam lo, bandot tua! Gue gantiin temen gue buat tarung sama Pelotos jelek ini." Ujarnya sambil menuding ke arah Jarwo yang berdiri di depannya. Seketika dengungan penonton memenuhi ruangan. Jarwo menggeram marah disebut pelontos jelek, sementara Billy meremas tangannya gemas akan mulut Einsteina yang tak mengenal tempat. Sahabatnya benar-benar sudah ketularan kegilaanya Albert.
"Gadis pemberani! Apa yang akan kamu pertaruhkan kalau kamu kalah?" tanya Ario dengan tenang. Namun tatapan matanya menunjukkan amarah mendengar Einsteina menyebutnya bandot tua. Huh, gini-gini masih sangup melayani lima perawan sekaligus.
"Kalau gue menang gue bawa pulang temen gue dan lo sama seluruh anak buah lo yang bermuka macem tikus got itu gak boleh menghalanginya, tapi kalau gue kalah...." jeda sejenak, membuat semua menahan napas menanti kelanjutan kalimatnya. Dari arah penonton Billy merapalkan doa sebisanya, meski hanya doa sebelum tidur yang bisa dihapalnya, memohon agar temannya tidak mengatakan hal bodoh yang akan disesalinya. Semua demi Albert.
"Bakal?" pancing Ario Gumelar.
"Gue tau lo pemilik tempat ini. Kalau gue kalah gue bakal bayar lo sepuluh kali lipat dari pendapatan si Pelontos jelek ini!" jawabnya angkuh. Seketika ruangan kembali riuh oleh tepuk tangan. Ario Gumelar memberi aba-aba pada seorang pria muda yang hanya mamakai celana jeans butut yang telah robek sana-sini dan bertelanjang dada mememerkan otot-ototnya yang penuh tatto permanen dengan gambar-gambar tak senonoh, seolah sengaja ditunjukkannya pada Einsteina untuk membuatnya takut. Huh, yang benar saja!
Kemudian pria tersebut naik ke arena pertandingan, melemparkan senyum meremehkan pada Ensteina yang dibalas dengan dengusan olehnya sebelum mulai memberi aba-aba pertarungan dimulai.
__ADS_1
Jarwo memasang kuda-kuda siap menyerang. Namun Einsteina tetap pada posisinya, berkacak pinggang dan mengangkat dagunya dengan angkuh. Tentu saja hal itu membuat lawannya geram, merasa diremehkan.
Tapi itu memang tujuan Einsteina. Pancing emosi lawanmu, maka dengan mudah kamu akan menjatuhkan lawanmu tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, itu pesan Yoko sensei pada saat memberinya materi bela diri Judo. Jarwo mulai menyerang Einsteina dengan pukulan-pukulan yang berhasil dihindarinya. Sepertinya Jarwo semakin bertambah marah saat pukulan-pukulannya tak satupun mengenai sasaran.
Sebagai anak buah Ario Gumelar yang terkuat dan tak terkalahkan selama tiga tahun ia bekerja padanya, Jarwo merasa dipermainkan oleh gadis kecil di hadapannya. Einsteina bahkan belum melancarkan serangannya sama sekali, ia hanya menghindar saat Jarwo menyerangnya disertai senyum mengejeknya yang sangat menyebalkan, membuat kemarahan Jarwo siap meledak dari ubun-ubunnya.
"Jangan sombog, gadis kecil. Setelah kau kalah aku akan menidurimu lalu mencincangmu!" Geramnya. Bagus, Jarwo Pelotos sudah terpancing emosinya, sebentar lagi dapat dipastikan gerakanya akan berantakan. Einsteina bersorak dalam hati.
Einsteina tidak lagi menghindar, ia menyerang Jarwo dengan gerakan-gerakannya yang gesit, memperpendek gerakan tubuh Jarwo yang besar dan sangar. Einsteina memberikan gerakan mengecoh, berupa sebuah pukulan yang mengarah ke kepala Jarwo. Benar saja, Jarwo terkecoh dengan mentah-mentah menangkap pukulan Einsteina. Begitu Jarwo menangkap kepalan tangan Einsteina yang tidak ada separuhnya dengan tangan miliknya, detik berikutnya Einsteina melancarkan serangan selanjutnya saat Jarwo masih fokus dengan serangan tinjunya, dengan memberinya tendangan pada kaki Jarwo. Seketika Jarwo terpelanting dengan sangat memalukan.
Penonton semakin bersorak, melihat juara tak terkalahkan selama tiga tahun tersebut tumbang oleh gadis kecil berbabydoll Angry bird. Para bandar menaikkan taruhan dengan angka fantastis menyaksikan kejadian langka seperti ini.
Tak lama kemudian Jarwo bangkit dengan kemarahan yang semakin berkobar, air mukanya keruh. Sosok kurus yang berdiri di hadapanya sambil berkacak pinggang ini bukan gadis sembarang. Jarwo dapat merasakan tendangan berkekuatan penuh yang dilancarkan oleh Einsteina, kekuatan seperti itu tidak dimiliki oleh gadis biasa pada umumnya. Kecuali kalau dia menguasai ilmu tenaga dalam. Dan sayangnya Jarwo sama sekali tidak menguasai teknik beladiri apapun, yang ia tahu hanyalah berkelahi membuat lawannya sekarat dengan kekuatan tubuhnya. Menyadari hal itu tidak membuat nyalinya menciut, ia justru semakin marah. Dengan membabi buta Jarwo kembali melancarkan serangannya.
Sebuah pukulan mengarah ke dada Einsteina yang sengaja tak dihindarinya, melainkan menerimanya membuat Einateina tersungkur menabrak pembatas ring. Penonton bersorak kembali meneriakkan yel-yel. Tunggu, jangan senang dulu, Pelotos. Gue gak akan semudah itu dikalahkan. Batin Einsteina sambil tersenyum. Dadanya sangat sakit mengingat payudaranya yanga baru mringkili, begitu kata eyangnya, alias sakit baru tumbuh ditambah pukulan si Pelontos jelek. Tapi tetap pukulan seorang yang sudah tersulut Emosi bukanlah apa-apa bagi Einsteina, itu hanya pukulan asal-asalan 'yang penting kena' tanpa memperhitungkan tingkat keakuratannya.
Sekilas Einsteina menangkap gerakan Albert yang tegeletak di bibir panggung, tampak kesakitan. Darah semakin banyak merembes dari pelipis kirinya. Menyadari hal tersebut Einsteina memutuskan tidak akan berlama-lama melayani Pelotos jelek di depannya. Albert harus segera dilarikan ke rumah sakit sebelum kehabisan darah.
Einsteina menangkap tangan lawanya yang masih menekan dadanya, lalu dengan gesit digunakannya sebagai pegangan untuk mendekati Jarwo Pelotos, dengan cara memutar tubuhnya seolah lawannya tengah memutar tubuhnya saat berdansa. Dengan secepat kilat kaki Einsteina melingkar melakukan gerakan tendangan ke arah belakang, atau biasa disebut ushiro geri. Kakinya mendarat ke arah ************ Pelontos tepat mengenai organ vitalnya, dan hanya dalam hitungan detik Jarwo tumbang tidak bangun lagi, alias pingsan.
Ruangan kembali bergemuruh oleh tepuk tangan dan siulan penonton. Bandar menang besar. Einsteina tidak peduli dengan sekitarnya, ia menendang tubuh Pelotos yang tergeletak menghalangi jalannya. Lalu berjalan menghampiri tubuh Albert yang sudah dalam keadaan setengah sadar.
"Heh bocah, bangun! Lo hutang nyawa sama gue tau." Ucapnya sambil mencoba memapah Albert bangun.
"Lo menang, Na." Ujar Albert dengan napas tersengal.
"Jangan banyak bicara, simpen tenaga lo buat ntar. Kalo sampe lo mati sebelum lo traktir gue makan indomie di Warmindo, gue yang rugi. Utang lo ke gue kebawa sampai mati. Lo kudu tetep sadar, bodoh. Jangan mati dulu, sia-sia gue nolong lo kalo gak dapet makan gratis!" Ujarnya disertai kekehan Albert yang semakin lemah.
__ADS_1
Dengan kesal Einsteina menarik bangun tubuh Albert paksa, lalu melemparkan ke bawah melalui celah pembatas panggung, pada Billy yang sudah siap menangkapnya dari bawah. Lalu setelah menarik kolor babydollnya yang melorot ia melompat turun melalui pembatas ring, tanpa mau repot-repot turun lewat tangga. Membuat semua penonton berdecak kagum.
Begitu tubuhnya mendarat dengan sempurna, beberapa pasang tangan yang berusaha menyentuh tubuhnya mundur semua, saat dihadiahi tatapan tajam dan kepalan tinju siap melayang oleh sang empunya. Jarwo yang dijuluki pembunuh berdarah dingin saja berhasil dikalahkan, apalagi mereka yang sebatas penoton, lebih baik menahan diri untuk sekedar menyentuh kulit putih mulus tersebut daripada kehilangan nyawa.
Kemudian ia melingkarkan sebelah tangan Albert pada pundaknya, ia memapah Albert bersama Billy membelah kerumunan manusia. Para penoton lebih memilih memberinya jalan, sambil terus berteriak menyorakinya dengan keriuhan tidak jelas. Einsteina pura-pura tuli, meski telinganya seperti mau pecah.
Namun saat ia hampir mencapai pintu keluar, seseorang memanggilnya menyuruh berhenti. Seketika Einsteina dan Billy menngentikan langkahnya. Ario Gumelar berjalan menghampirinya dengan didampingi beberapa bodyguard. Billy gemetar ketakutan, sementara Einsteina memutar bola matanya malas.
"Mau apalagi Bandot Tua, mau kasih duit kemenangan?" ujarnya ketus. Ario Gumelar terkekeh mendengar nada penuh sindiran tersebut. Lalu melemparkan sebuah amplop coklat pada Einsteina yang ditangkapnya dengan gesit. Einsteina melepaskan pegangannya pada Albert dan menyerahkannya sepenuhnya pada Billy. Tangannya dengan cekatan membuka amplop coklat tersebut, lalu senyum sinisnya terbit menghiasi bibirnya.
"Hanya segini lo sanggup bayar orang yang sudah mempertaruhkan nyawanya di sini? Semiskin ini hidup lo atau lo terlalu takut bangkrut, he? Nih, ambil. Temen gue gak butuh duit dari lo" Einsteina melemparkan kembali amplop di tangannya itu pada Ario.
"Jangan sombong, gadis kecil. Temanmu sangat butuh, kalau tidak untuk apa dia rela mempertaruhkan nyawanya disini." Dengus Ario, setelah menangkap amplop yang dilemparkan Einsteina. Tanpa menghiraukan ucapan Ario, Einsteina kembali meraih tubuh Albert dan merangkulkan sebelah tangannya ke pundaknya, lalu membalikkan badan siap melanjutkan langkahnya.
"Baiklah kalau kau tidak mau menerimanya, itu bukan masalah. Tapi mulai hari ini aku memutuskan, bahwa kau adalah bagian dari kami." Einsteina urung melangkah, ia menatap Ario dengan tatapan sedingin es.
"Siapa lo, sampai berani mengambil keputusan seenak jidad lo."
"Suka tidak suka, itu keputusanku. Atau.." Ario sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi gadis kurang ajar di depannya.
"Atau lo bakal bikin gue celaka? Silakan saja." Jawab Einsteina enteng.
"Tidak, bukan kamu, gadis kecil. Tapi dua orang yang ada di sampingmu." Billy menoleh ke kiri kanan, saat tidak mendapati orang lain di samping Einsteina selain Albert yang sedang dipapahnya dan dirinya, ia semakin gemetar ketakutan. Sial banget sih nasibnya, niat mau nolong Albert sendirinya malah kena sial. Tau begini mending ia tidak usah ikut masuk aja, tadi. Rutuk Billy dalam hati.
"Huft. Baiklah. Sekarang suruh anak buah lo minggir semua, temen gue butuh ke rumah sakit secepatnya. Buruan!" Sentaknya kasar, membuat Billy shock mendengarnya. Ya Tuhan, kalau PapA Duda Sexy tahu bisa tamat nih anak.
Bukanya takut oleh ancaman Ario, tapi Einsteina malas meladeninya mengingat ia harus segera membawa Albert yang sudah semakin lemah, ke rumah sakit. Masalah Ario gampang diurus belakangan.
__ADS_1
Lalu ia kembali berjalan memapah Albert bersama Billy yang tak berani mengalihkan tatapannya dari sepatu yang tengah dipakainya. Meninggalkan Ario Gumelar yang tengah tersenyum puas di belakangnya. Ternyata mudah sekali membuat gadis muda itu kalah. Ario bertekad akan membuat gadis kurang ajar itu tahu rasa. Karena belum ada sejarahnya anak buah Ario Gumelar dikalahkan oleh orang luar, apalagi tamu tak diundang macam gadis kecil kerempeng seperti tadi. Sungguh memalukan. Tunggu kejutan dariku, Nona. Senyum iblis bermain di sudut bibir Ario Gumelar.