
Pesantren Miftahul Ulum tampak megah dikelilingi oleh pagar tembok setinggi tiga meter. Luasnya yang mencapai lebih dari seratus hektar dengan bangunan yang membentuk huruf U terlihat dari atas helicopter, dimana asrama putri memanjang dari selatan ke utara menghadap ke barat berhadapan dengan asrama putra. Masing-masing bangunan berlantai dua, kecuali bangunan yang membelah kedua asrama tersebut, terletak di sebelah utara paling ujung menempel dengan bangunan asrama putri. Bangunan berlantai satu yang menghadap selatan tersebut adalah kediaman kyai Abdul Fatah, pengasuh pesantren Miftahul Ulum. Tepat di sampingnya, sebuah masjid yang sangat besar berdiri berdempetan dengan asrama putra.
Suasana tampak teduh dengan berbagai macam pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Rumput-tumput terpangkas sempurna, pot-pot bunga tampak subur segar sehabis disiram. Jalanan beraspal juga terlihat bersih bebas sampah secuilpun.
Apalagi halaman rumah kyai Abdul Fatah, halaman mungil yang dipenuhi berbagai macam tanaman bunga, mulai dari bunga melati, mawar dengan berbagai warna, anggrek, Bunga cempaka hingga bunga matahari menyejukkan mata siapapun yang memandang. Eyang Aisyah, ibunda dari kyai Abdul Fatah memang sangat menyukai bunga. Karena beliaulah yang dengan telaten merawat halaman mungil tersebut menjadi taman yang sangat indah. Dirumah itulah tinggal kyai Abdul Fatah bersama istrinya, umi Salamah, anak sulungnya, Eyang Aisyah serta Romo kyai Abdurrahman Hadiningrat.
Sedangkan di halaman masjid terdapat lapangan luas yang ditumbuhi rumput hijau terawat dan tercetak huruf H besar dikelilingi garis yang membentuk lingkaran. Lapangan tersebut adalah sebuah helipad, tempat untuk mendarat helicopter milik adik kandung Kyai Abdul Fatah setiap kali berkunjung. Kyai Abdul Fatah memang memiliki seorang adik laki-laki yang tinggal di Jakarta. Kabarnya ia adalah seorang konglomerat, pengusaha sukses di bidang perkapalan. Karena itu tidak heran jika sebagian besar pembangunan pesantren ini adalah atas turut andilnya beliau.
Sore itu masjid Miftahul Ulum tampak penuh dengan para santri yang membeludak, sebagian bahkan ada yang menempati ruang serbaguna di rumah kyai Abdul Fatah, yang terletak tepat disamping masjid. Sudah menjadi rutinan setiap senin sore yaitu ngaji bandongan, dimana para santri mendengarkan sementara kyai mereka menerangkan. Kegiatan bandongan diikuti oleh seluruh santriwan maupun santriwati. Terdengar suara Romo kyai Abdurrahman yang tengah mengkaji bab fiqih melalui pengeras suara, sementara para santri menyimak dengan tenang sambil mencatat poin-poin penting yang tengah disampaiakan oleh beliau.
Tepat saat itu sebuah helicopter dengan tulisan Al Hakim group di tengah-tengah badannya mendarat tepat di atas helipad.
Begitu pintu helicopter terbuka, turun dua orang gadis dengan panampilan yang sangat bertolak dengan lingkungan sekitar. Salah satunya memakai hot pants yang memperlihatkan kedua pahanya yang mulus serta tank top ketat yang membungkus tubuh moleknya, dengan rambut merah menyala tergerai bebas menyentuh bahunya. Sementara yang lainnya memakai celana komprang selutut bermotif batik dengan atasan kaos oblong kedodoran, rambut hitamnya terkucir asal-asalan. Mengabaikan tatapan para santri yang mengernyit heran ke arah keduanya, mata mereka justru asyik memperhatikan sekelilingnya, tanpa menyadari seorang perempuan tua mendekati mereka dan tiba-tiba menjewer telinga keduanya dengan keras, membuat keduanya memekik antara kaget dan kesakitan.
"Berani-beraninya datang kemari dengan pakaian tidak pantas semacam ini, ha." Ujar perempuan tua tersebut sambil mempererat jewerannya.
"Aduh eyang, sakit." Einsteina berusaha melepas jeweran eyang putrinya, namun eyang Aisyah justru semakin kencang menarik telinganya.
"Dasar cucu tidak tau malu..." ujar wanita yang dipanggil eyang tersebut kepada Einsteina, kemudian menoleh ke arah Vivian "... dan kamu. Masya Allah, anakku benar-benar tidak bisa memilih calon istri yang baik. Bagaimana mungkin memilih perempuan dengan paha metetek seperti ini."
__ADS_1
"Eyang udah deh, sakit beneran nih." Protes Einsteina mulai tidak sabar. Sementara di sisi lainnya Vivian hanya meringis kesakitan.
Selalu seperti ini setiap kali Einsteina berkunjung ke rumah eyangnya. Beliau selalu memarahinya tiap kali Einsteina tidak memakai jilbab, bahkan terakhir kali Einsteina datang kemari eyang Aisyah hampir saja menggundul rambutnya karena Einsteina lupa memakai jilbabnya saat keluar rumah, kalau saja papanya tidak mati-matian menahannya. Walhasil eyang Aisyah hanya sempat menggunting setengah rambut cucunya yang nakal itu.
Lukman memang melarang tegas putrinya untuk tidak memotong rambut, ia selalu mewanti-wanti Einsteina agar membiarkan rambutnya tetap panjang melewati bahunya. Lukman bilang rambut panjang Einsteina adalah satu-satunya pembeda bahwa anaknya adalah seorang gadis, mengingat penampilan dan tingkah laku Einsteina yang sudah melenceng jauh dari tingkah laku gadis pada umumnya. Jadi tidak heran jika ia mati-matian menahan ibunya yang akan mengeksekusi satu-satunya sisi gadis Einsteina.
"Lebih sakit siksa neraka karena kamu umbar auratmu ini. Apa kamu mau eyang gundul beneran, ha."
"Sudahlah, bu. Mereka ini baru datang, biar istirahat dulu." Lukman muncul di belakang mereka, sambil membawa dua buah koper milik putrinya dan Vivian.
"Bela saja terus. Lihat, karena kamu selalu memanjakannya jadi begini, ngelujak, susah diatur, suka membangkang. Kamu memang tidak becus mendidik anak, Man. Dan kalau kamu sudah putus asa mencari calon istri, bilang sama ibu. Bukan malah mencari yang seperti ini. Perempuan macam apa yang mengumbar pahanya dimana-mana, bla bla bla..." Ujarnya sambil menunjuk Vivian dengan dagunya, membuat ketiganya sukses melongo. Disaat itulah jeweran eyang Aisyah melemah. Einsteina dan Vivian saling bertatapan penuh arti, kemudian serentak mereka melepaskan diri dan kabur secepat kilat.
"Ayo, eyang. Sebelah sini, tangkap Ina dulu. Tangkap, tangkap, tangkap."
"Dasar bocah kurang ajar. Awas kalau ketangkap, eyang gundul kamu." Dari tempatnya berdiri, Lukman hanya memperhatikannya sambil geleng-geleng kepala.
"Om Lukman. Masya Allah, akhirnya ingat juga sama kampung halaman." Sapa seorang pemuda tampan yang mengenakan sarung palekat dengan koko batik serta peci putih yang bertengger di kepalanya.
"Loh, Fikri. Apa kabar kamu, makin tampan saja keponakan om yang satu ini." Ujarnya seraya mengulurkan tangannya yang langsung dijabat dan dicium oleh pemuda bernama Fikri itu. Pemuda dua puluh lima tahun tersebut adalah putra sulung kyai Abdul Fatah.
__ADS_1
"Kok sendirian. Ina mana?"
"Tuh lihat, masih main Tom&Jerry sama eyang putri." Tunjuk Lukman kearah mereka yang masih berputar-putar di jalanan depan asrama santri putri. Fikri terkekeh melihatnya, kemudian ia mengernyit saat melihat seorang gadis asing yang tengah bersembunyi dibalik pot besar, hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Dan yang satunya.. masya Allah, jangan bilang itu calon istri om."
"Sembarangan kamu, sama seperti eyang putri aja. Om nggak seputus asa itu nyari calon istri, sampai-sampai teman main Einsteina om embat juga."
"Oh si tengil bawa teman... Astaghfirulla!" tiba-tiba Fikri menutup kedua matanya dengan tangan.
"Ada apa, Fik?"
"Fikri kira Einsteina yang paling parah soal pakaian, ternyata masih ada yang jauh lebih parah lagi. Itu tadi kalau gak salah lihat paha diumbar gitu." Ujar Fikri sambil berbalik arah mengindar dari pandangan di depannya. Lukman terkekeh paham.
"Namanya Vivian, teman sekolah Ina. Dia ikut ke sini dalam rangka liburan. Om berharap Vivian bahagia. Selama ini ia cukup menderita, secara tidak langsung om juga terlibat dalam penderitaan anak itu." Lukman menatap Vivian yang tampak sedang berlari kecil bersama Einsteina dengan tatapan menerawang.
"Memangnya ada apa, om?" Tanya Fikri heran, ia kembali berbalik menghadap ke arah Lukman setelah pemandangan yang tidak boleh dilihatnya itu telah pergi.
"Masalah itu berkaitan dengan Tina, tantemu. Ah sudahlah, Om nggak dipersilakan masuk nih."
__ADS_1
"Om kayak dirumah siapa saja sih, biasanya juga tinggal nyelonong masuk kok. Bilang saja mau mengalihkan pembicaraan." Fikri tertawa pelan sebelum kemudian melanjutkannya. "Setiap orang memang berhak menyimpan sebuah rahasia, tapi jika om ingin bercerita om tau kemana harus bicara. Mari, biar Fikri yang bawa kopernya." Lukman tersenyum menanggapinya, keponakannya benar-benar sudah dewasa. Kemudian keduanya memasuki pintu utama kediaman kyai Abdul Fatah.