Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
PART 17


__ADS_3

Pagi itu jalanan sudah tampak ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. Di beberapa titik malah terjebak macet. Di jok penumpang motor Harley Davidson Cruisers, Einsteina duduk manis di belakang Lukman yang tengah fokus pada jalanan. Tangannya mencengkeram setelan jas resmi sang Ayah sebagai pegangan hingga menimbulkan bekas lecek pada bahan yang semula licin oleh setrikaan itu.


Keduanya tiba di SMU Nusantara dan berhenti tepat di depan gerbang yang berdiri menjulang tinggi. Siswa-siswi berseragam abu-abu putih sudah mulai ramai berseliweran dengan wajah berseri-seri setelah dua Minggu libur terbebas dari tugas-tugas yang menyebalkan. Sebagian tampak asyik duduk-duduk di kursi taman halaman sekolah sambil berbagi cerita tentang liburan mereka.


Setelah melepas helm Einsteina turun dari motor dan bergegas menuju pintu gerbang yang terbuka lebar, namun langkahnya terhenti ketika ia merasakan kerah lehernya ditarik dari belakang. Kemudian ia cemberut begitu tahu siapa pelakunya.


Masih di atas motornya, Lukman tidak melepaskan cengkramannya pada kerah leher sang putri semata wayangnya. Dengan melotot pura-pura galak ia menyodorkan tangan kanannya yang bebas, mengingatkan pada Einsteina untuk mencium tangan sang Ayah terlebih dahulu. Tanpa disadari aksinya tersebut menarik perhatian siswa-siswi lain yang kebetulan lewat.


Dengan berat hati Einsteina memutar kakinya kembali mendekat pada Ayahnya, lalu diraihnya tangan Lukman dan diciumnya. Lukman mengelus surai hitam putrinya dengan sayang sebelum kemudian membiarkan Einsteina melenggang masuk pintu gerbang. Setelah yakin putrinya masuk gerbang dengan selamat tanpa aksi bolos seperti yang sudah-sudah, Lukman melajukan motornya meninggalkan sekolah Einsteina menuju kantornya.


Sudah menjadi kewajiban bagi Lukman untuk mengantarkan anak gadisnya itu ke sekolah menggantikan Pak Sardi, sopir di rumahnya selama ia tidak bepergian, setelah insiden ia dipanggil kepala sekolah gara-gara putrinya bolos terus-terusan.

__ADS_1


Sebelumnya Lukman memang memasrahkan Einsteina pada Pak Sardi untuk mengantar jemputnya, namun belakangan tanpa sepengatahuan Lukman Einsteina kerap kali berangkat terlebih dulu tanpa Pak Sardi, gadis itu lebih suka berdesakan di angkutan umum yang pengap dan ternyata tidak jarang ia tak sampai di sekolah melainkan membolos entah kemana.


Hal seperti itu terjadi terus-terusan hingga kepala sekolah memberinya surat panggilan. Dari situ Lukman berinisiatif mengawasi putrinya lebih ketat lagi, termasuk dengan mengantarkannya ke sekolah. Awalnya tentu saja Einsteina menolak mentah-mentah, namun Lukman sama kerasnya hingga mau tak mau Einsteina mengalah dari pada terancam dibuang ke Jogja selamanya, seperti ancaman Lukman.


Dengan mengantarkannya langsung ke sekolah, Lukman bisa melihat putrinya memasuki gerbang tanpa berbelok arah. Lukman sangat tahu jika Einsteina sudah memasuki gerbang maka akan susah baginya untuk membolos. Sekolah Einsteina memiliki penjagaan yang sangat ketat dan hanya ada satu pintu gerbang sebagai akses keluar masuk yang dijaga oleh beberapa orang penjaga. Namun berbeda saat anaknya itu masih berada di luar sekolah, Lukman tidak dapat menjamin anak gadisnya akan tiba di sekolah.


****


Einsteina hanya mengangkat bahunya cuek sebelum melanjutkan langkahnya kembali, namun Lolita bersama gank elitnya berlari mendekatinya.


"Woi, bocah. Belagu amat lo. Sini cium dulu sama sobat tersayang, dua minggu gak ketemu gak kangen apa." Ujar Lolita yang tahu-tahu sudah menyejajari langkahnya.

__ADS_1


"Jijay, lo." sungut Einsteina.


"Na, itu tadi bokap lo? Gila hot banget. Gue juga mau dong jadi nyokap tiri lo." Cetus salah satu dari mereka yang berusaha menyejajari langkah Einsteina. Sementara Einsteina hanya meliriknya malas sambil terus melangkah.


"Ih gue juga mau kali sama Si Duda super sexy itu." Sambung yang lainnya.


"Gue heran, deh. Bokap lo makannya peluru kali ya. Badan bisa keker gitu..." suara-suara di sekitarnya masih saling bersahutan.


"Pendaftaran masih dibuka, lo semua boleh kok jadi kandidat. Kalo minat bisa langsung daftar sama Lolita, dia yang jadi panitia." Ujar Einsteina seenaknya, kemudian berjalan menuju kelasnya meninggalkan mereka yang molongo.


"Eh sialan gue bukan panitianya, dodol. Gue juga mau daftar monyet!" Teriak Lolita setelah sadar akan ucapan sahabatnya itu. "Woii, Ina. Jangan kabur lo. oleh-oleh buat gue mana!" Einsteina sama sekali tidak menggubris teriakan Lolita. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2