Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 5


__ADS_3

Dengan lantang Tina mengatakan kalau ia ingin melenyapkan bayi yang tengah dikandungnya, keesokan harinya aku sangat marah ketika melihat botol soda yang sudah separuh kosong tergeletak di meja rias istriku.


Wasit memberi aba-aba tanda pertandingan dimulai. Joni menatap lawannya dengan tatapan mencemooh, Einsteina balas menatapnya dengan tatapan sedingin es. Malam ini ia akan melampiaskan kemarahannya pada pria berkepala pelontos yang tengah berdiri dengan pongah di hadapannya itu, jadi bersikaplah sesukamu sebelum tamat riwayatmu, batin Einsteina sinis.


Masih dengan tatapan dinginnya yang membekukan, Einsteina memasang kuda-kuda dengan santai. Begitu pula dengan Joni. Ketika Joni menyerangnya Eintseina menghindarinya, begitu terus hingga pertandingan memasuki menit ke sepuluh. Einsteina masih ingin bermain-main dengan lawannya, ia tak langsung membalas serangan Joni.


Namun ketika Joni masih juga belum bisa menyentuhnya, Einsteina mulai hilang kesabaran. Tanpa babibu ia menghadiahkan sebuah tendangan telak ke arah tulang rusuk Joni, membuat si empunya menggeram marah dan balas menyerangnya dengan beringas.


Bayi ini adalah penghambat karirku, bayi ini yang membuatku terikat padamu. Aku benci anak sialan ini!


Joni melancarkan serangan-serangannya yang dengan gesit ditangkis oleh Einsteina, kemudian ia membalas dengan tak kalah brutalnya. Satu serangan dari Joni yang tak mengenainya dibalas Einsteina dengan lima serangan yang tepat mengenai sasaran. Einsteina tak peduli pada sekitarnya yang terus memberinya semangat dengan yel-yel kematian, ia juga mengabaikan taruhan yang terus merangkak naik untuk kemenangan dirinya.


Demi Tuhan, Tina. Einsteina kelaparan, dia menangis terus. Aku mohon susuilah dia.


Einsteina menghajar Joni tanpa ampun, bunyi tulang patah terdengar mengerikan. Sambil berteriak keras ia terus tubuh Joni tanpa henti. Teriakan kemarahannya bercampur dengan lolongan kesakitan yang keluar dari mulut Joni.


Aku tidak sudi menyusui bayi yang tidak ku inginkan, Lukman. Payudaraku bisa kendor! Minta saja orang lain untuk menyusuinya!.


Setetes air lolos dari mata Einsteina. Darah sudah membanjiri wajah Joni, namun Einsteina tak memedulikannya. Tangannya kanannya meraih kepala Joni, sementara tangan kirinya mencekik lehernya dengan erat bersiap memelintir leher lawannya hingga patah. Namun tiba-tiba ia teringat papanya. Ia bukan pembunuh, sesakit apapun hatinya tak seharusnya ia sampai membunuh seseorang yang tak tahu apapun. Hati kecilnya mengingatkan.


Dengan segera ia membanting tubuh Joni dan menghajarnya lagi dan lagi, hingga Joni mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Lalu ditengah gemuruh penonton ia melompat turun, menerobos desakan penonton dan menyeret bang Damar keluar dengan kasar.

__ADS_1


****


Einsteina tampak sangat menikmati indomie kuah yang ada dihadapannya, tangannya tak berhenti menyuap. Sesekali ia menyeruput kuah indomienya itu langsung dari mangkuknya. Damar memperhatikannya tanpa kedip.


"Jadi?" tanya Damar setelah keduanya cukup lama bungkam. Sejak Einsteina menyeretnya dari tempat boxing ilegal itu, mereka belum mengucapkan sepatah katapun.


"Jadi apanya?" Tanya Einsteina balik Tanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari mangkuk indomienya.


"Na, gue gak bisa pura-pura buta liat lo membahayakan nyawa lo sendiri. Lo tau, anak buah Ario Gumelar itu bukan orang-orang sembarangan, lo juga tau kalo aturan disana Cuma nyerah atau mati. Gue tau elo bodoh, tapi gue gak habis pikir lo sebodoh itu nekad mempertaruhkan nyawa hanya karena lo sedang marah. Lain kali otak lo dipake kalo mau ngelakuin sesuatu." Sembur Damar setelah ditahannya sejak tadi. Ia benar-benar marah oleh tindakan nekad gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri ini.


"Gak udah lebay deh, bang. Nyatanya gue juga baik-baik saja, kan." Ujarnya acuh.


"Boleh gue tau, apa yang bikin lo semarah itu?"


"Nggak ada, gue Cuma lagi pengen menghajar orang." Jawab Einsteina seraya mencomot sebuah gorengan dan menjejalkannya ke dalam mulut.


"Na, lo tau kan kalo lo udah gue anggep sebagai adik gue sendiri. Lo juga tau gue khawatir kalo terjadi apa-apa sama lo, jadi please kalo semisal lo ada masalah apapun cerita ke gue, gue bakal berusaha bantu elo. Tapi jangan sekali-kali nekad melakukan hal bodoh kayak tadi, ngerti. Dengerin gue ngomong, bocah!"


"Iya-iya, bang. Cerewet amat sih. Udah kenyang, sekarang anterin gue pulang." Einsteina bersendawa seraya menepuk perutnya, membuat Damar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.


***

__ADS_1


Einsteina berjalan mengendap dan buru-buru menyelinap masuk begitu pintu gerbang rumahnya yang setinggi dua meter itu terbuka sedikit, lalu dengan berjinjit agar tidak membangunkan Pak Sakri, satpam rumahnya yang tengah terkantuk-kantuk di posnya. Dibelakangnya, Maya menyusul langkah Einsteina setelah mengunci pintu gerbang.


"Dari mana sih, Na. Sering banget pulang malam begini terus mengendap-endap seperti mau maling saja." Tanya Maya dengan logat Jawa sekental Pak Sardi, begitu mereka sudah memasuki kamar Einsteina yang didominasi warna krem. Setiap Lukman pergi untuk urusan bisnisnya, anak majikannya ini sering sekali pulang larut malam dan mengirim pesan pada Maya untuk membukakan pintu gerbang rumahnya agar ia tidak ketahuan oleh para pekerja dirumahnya yang nantinya pasti akan melapor pada Lukman. Berbeda dengan Maya, mereka sudah bersahabat sejak kecil saat Einsteina masih tinggal bersama Umi Salamah di Jogja, sehingga ia bebas bicara apa saja pada Maya tanpa takut akan diadukan pada papanya.


"Main." Jawab Einsteina sambil menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur dan memeluk guling, namun kemudian ia meringis kesakitan. Maya yang melihatnya segera mendekat.


"Gusti, ini pipi kamu kenapa kok bisa memar begini. Waduh, Na. jangan bilang kalau kamu habis berantem, Papa Duda bisa ngamuk kalau sampai tau. Waduh bagaimana ini." Paniknya sambil menepuk-nepuk memar Einsteina tanpa sadar yang kemudian ditepis oleh pemiliknya dengan kesal.


"Gue yang memar napa jadi lo yang panik gitu, udah deh mending lo keluar sana gue mau tidur!" Sungutnya sambil berbalik membelakangi Maya.


"Ina ndak mau dibuatin susu dulu, kalau Papa Duda tau bisa ribut lho. Papa Duda kan selalu mewajibkan Ina minum susu sebelum tidur, Papa Duda bilang biar Ina cepet tumbuh, ndak ceking kerempeng terus..."


"May, lo berisik tau gak. Gue mau tidur, gangguin aja lo, ah." Potong Einsteina gemas.


"Ya udah kalau Ina mau tidur, Maya juga tidur." Ujarnya seraya ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Einsteina.


"Eh apa-apaan ini. Maya jangan peluk-peluk, jijay tau!"


"Biarin. Biasanya Ina juga minta dipeluk sama mak Jum kok."


"May lepas gak, mau gue tendang lo. Woi gue tendang beneran nih." Hanya dengkur halus Maya yang terdengar. Einsteina menghela napas sebelum kemudian ikut memejamkan mata, membiarkan Maya memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2