Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 21


__ADS_3

"Na, hapenya bunyi terus, nih." Maya mengambil benda pipih yang dari tadi bergetar didekat pantatnya. Einsteina menghentikan aksinya, dan menoleh pada Maya yang tengah menimang-nimang ponsel miliknya, suara Taylor Swift dengan lagu Red mengalun tanpa henti.


"Dari siapa?" jawabnya sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengannya yang terbungkus babydoll.


"Bulbul. Tujuh kali missedcall." Maya membaca nama yang berkedip-kedip pada layar posel.


"Minta disunat, nih anak. Berani bener gangguin gue, hallo monyet!" Sentaknya begitu ia menggeser tanda jawab. Membuat Maya terlonjak kaget.

__ADS_1


"Gawat! Albert nekat datang ke markasnya Ario. Dia bakal tanding lawan Jarwo....." Einstina tidak memedulikan kelanjutannya. Ia membanting ponselnya ke sofa dan berlari ke garasi mobil secepat kilat.


Albert sialan! Makinya khawatir.


***


Einsteina membanting setir dengan tajam berbelok menuju pintu gerbang yang sudah bobrok dimakan usia, sebuah bangunan tua bekas stasiun yang biasa digunakan sebagai tempat janjian oleh Einsteina dan Bang Damar setiap kali mengunjungi boxing ilegal tersebut. Begitu mobil berhenti di tempat yang cukup lapang, bekas tempat parkir yang kini sudah ditumbuhi ilalang setinggi lutut orang dewasa, Einsteina mendapati Billy tengah mondar-mandir dengan cemas di sekitar vessy, vespa butut kesayangannya.

__ADS_1


Einsteina bergegas turun dan membanting pintu mobilnya dengan tergesa begitu kakinya yang beralaskan sandal jepit milik Maya itu mendarat di antara semak-semak. Kemudian dihampirinya Billy yang tampak sangat lega melihat kehadirannya. Sebenarnya Eisnteina agak heran, bagaimana bisa Billy tahu tempat ini dan juga mengetahui hal-hal tentang boxing ilegal. Ah sudahlah, bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal-hal seperti itu.


Dengan mengendap-endap, Einsteina mengikuti Billy di belakangnya. Suasana malam yang tampak gelap mencekam dengan suara-suara binatang malam, seperti jangkrik dan burung hantu yang saling bersahutan dalam kegelapan, menambah kesan seram. Membuat Billy berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan ia tetap bersama Einsteina.


Kalau saja dalam suasana tidak setegang ini, mungkin Einsteina akan dengan senang hati mengusili sahabatnya yang penakut itu, tapi pikiran sablengnya sedang teralihkan oleh keselamatan Albert sehingga Billy aman dari bullyan Einsteina.


Mereka telah memasuki ruangan kosong yang akan menghubungkannya ke belakang stasiun menuju jalan setapak yang ditumbuhi tumbuh-tumbuhan liar sepanjang satu kilometer menuju gudang tua di pinggir pantai. Suasana dalam ruangan tak kalah menyeramkannya dari luar ruangan. Gelap gulita, atap dengan ternit yang sudah roboh menghalangi bintang dilangit untuk meneranginya, bau apak semerbak memenuhi ruangan disertai suara kelelawar yang berdecit ramai. Sesekali kaki Billy terantuk benda-beda bekas robohan bangunan yang berserakan di lantai.

__ADS_1


Untung semua itu tidak berlangsung lama, karena pintu yang mereka tuju sudah berada di depan mata. Sebenarnya itu bukan pintu, hanya runtuhan dinding yang membentuk lobang besar dan menghubungkannya menuju belakang stasiun di depan sana. Keduanya melompat keluar dari ruangan tersebut dan mempercepat langkah melewati semak-semak.


__ADS_2