
Einsteina melempar sebuah jambu air dari atas pohon pada Vivian yang telah menantinya sejak tadi di bawah. Hari ini tepat seminggu mereka berlibur di Jogja, yang berarti enam hari semenjak kepulangan mereka dari pesantren Al Furqon. Einsteina sempat ngambek saat Ayahnya bilang akan segera terbang ke Jakarta untuk urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggal, begitu mereka sampai di kediaman Eyangnya.
"Kalo Papa pulang itu sama saja papa nelantarin anak sendiri." Protesnya kala itu dengan bersungut-sungut.
"Lho, Ina kan tidak sendirian. Ada Eyang sama Umi, terus Abah sama Mas Fikri juga."
"Justru itu, Pa. Kalo Papa gak ada Eyang bakal dengan senang hati gangguin Ina mulu. Yang belain Ina siapa, coba?"
"Makanya kamu jangan bikin masalah, dong. Jadi anak baik-baik, Papa jamin Eyang bakal sayang sama kamu." Ujar Lukman seraya mengelus kepala anak gadisnya.
"Duh, Pa. Ntar Ina juga keluar jalan-jalannya sama siapa. Papa kan tau, Eyang gak ngijinin Ina bawa motor sendiri."
"Ada Mas Fikri, sekalian jagain kamu biar tidak bikin masalah. Papa janji begitu urusan sudah selesai, Papa langsung ke sini lagi. OK?"
Dan sejak saat itulah Einsteina bersama Vivian selalu dikawal oleh Fikri setiap keliling Jogja mengunjungi berbagai macam destinasi wisata. Mulai dari Gunung Kidul mengunjungi pantai berpasir putih kesukaan Vivian, cave tubing dan rafting Goa Pindul, Tebing Breksi, Candi Prambanan, hingga Taman Sari yang konon merupakan tempat rekreasi dan kolam pemandian bagi Sultan Yogyakarta dan seluruh kerabat istana, dan masih banyak tempat wisata lainnya. Meski tak jarang mereka diam-diam kabur dengan membawa motor pinjaman milik pengurus pesantren, kemudian akan mendapat jeweran keras dari Eyangnya begitu mereka pulang. Tapi keduanya sama sekali tidak kapok dan terus mencoba kembali.
__ADS_1
Sama seperti saat ini, Einsteina dan Vivian kembali mencoba kabur ke Kaliurang dengan meminjam motor milik salah seorang khadimah di rumah Umi Salamah. Tapi sepertinya Eyangnya sudah woro-woro kepada seluruh penghuni pesantren Miftahul Ulum agar menjadi sekutunya untuk menggagalkan aksi kabur cucunya yang sangat nakal itu, dan hasilnya baru saja Einsteina menuntun motor hendak keluar Eyang Aisyah bersama Kang Bardi, sopir keluarga ndalem sudah menghadangnya sambil berkacak pinggang.
Hingga berakhirlah mereka di halaman belakang seperti saat ini, memanen jambu air milik Eyang Aisyah setelah aksi kaburnya gagal. Keduanya memanen dalam hal yang sesungguhnya alias merontokkan nyaris seluruh buah dari pohon. Einsteina yang menaiki pohon, tangannya lincah meraih buah yang dapat dijangkaunya tanpa peduli sudah masak atau belum. Sementara Vivian di bawahnya menangkap buah yang dirasa sudah layak dimakan. Sedangkan buah yang belum masak dijatuhkannya begitu saja tercecer di tanah.
Dari atas Einsteina berteriak tanpa memandang ke bawah meminta Vivian bersiap menangkap jambu ranum yang tampak menggoda untuk dimakannya, tapi ia ingat sahabatnya tengah menunggu di bawah menanti buah ranum yang baru dua kali ini didapatnya sehingga ia tak jadi memakannya. Einsteina berteriak sekali lagi, tapi Vivian tak menyahutinya. Dengan penasaran ia melongok ke bawah.
Ya ampun, kenapa Vivian yang cantik bisa berubah jadi nenek-nenek jelek membawa sebatang bambu panjang yang biasa digunakan sebagai galah. Einsteina bisa menebak, Vivian pasti sembunyi begitu melihat nenek gambreng tersebut. Dasar teman yang setia!
"Turun kamu, bocah nakal!" dari atas pohon Einsteina nyengir sambil menggigit jambu di tangannya yang tak jadi dilemparkan pada Vivian.
"Kalau ndak mau turun tak sengget kamu dari sini!" ancamnya dalam bahasa Pekalongan, kota asal Eyang Aisyah seraya mengacungkan bambu panjang ke arah cucunya.
Tapi jangan panggil Einsteina kalau dia tidak bisa membuat Eyang putrinya itu naik darah. Bukannya takut dan mengikuti ucapan sang Eyang agar turun Einsteina justru naik semakin tinggi, sesekali tangannya meraih jambu yang dekat dengannya dan sengaja melemparkannya ke bawah yang tentu membuat teriakan cempreng Eyang Aisyah semakin kencang.
"Bocah mbeling memang, kamu. Kamu itu perempuan, ndak sopan naik-naik pohon seperti itu. Mau turun ndak, ha!" Einsteina tertawa semakin keras dengan mulut penuh jambu, saat melihat Eyang Aisyah kepayahan mengangkat galah yang tak kunjung mengenai dirinya.
__ADS_1
"Ada apa ini, bu. Kok suara ribut-ributnya sampai dalam?" Kyai Abdul Fatah muncul dari dalam rumah diikuti Lukman yang masih mengenakan setelan jas resmi.
"Lihat keponakanmu, itu. Jambu masih ****** kok dipretel habis. Tingkahnya juga, lihat. Perempuan macam apa yang penekan seperti itu." Tunjuk Eyang Aisyah pada cucunya di atas pohon. Kyai Abdul Fatah menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir, sementara Lukman berjalan mendekati Eyang Aisyah dan melongo takjub saat melongok ke atas mendapati putri semata wayangnya tengah asyik mengunyah jambu.
"Na, ayo turun. Nanti jatuh lho!" seru Lukman dari bawah.
"Papa!" pekik Einsteina kaget sekaligus gembira melihat sang Papa akhirnya datang setelah ditinggal beberapa hari ke Jakarta. "Akhirnya pelindung Ina datang. Itu nenek gambreng buruan usir, Pa. dari tadi gangguin Ina mulu!"
"Dasar bocah sembrono, berani-beraninya ngatain eyangnya nenek gambreng. Minta digundul kamu, ha. Ayo turun!" Eyang Aisyah terus menghentak-hentakkan galah di tangannya untuk menyentuh tubuh cucu kurang ajarnya. Tapi Einsteina justru berkelit meledeknya, membuat sang Eyang semakin kesal dibuatnya.
"Sudah, sudah. Ina cepat turun, atau Papa susul ke atas, nih!"
"Iya, iya. Habis nenek gambrengnya ngegemesin, cerewet banget bikin Ina mau.. Huuaaaaaaa!!" Einsteina tak menyelesaikan kata-katanya, saat kakinya tak berhasil mendarat pada ranting di bawah kakinya, sehingga ia terpeleset dan selanjutnya sudah bisa ditebak oleh suara berdebam bobot jatuh ke tanah.
Seketika teriakan panik terdengar gaduh. Lukman bersama Kyai Abdul Fatah yang berusaha menangkap tubuh Einsteina agar tak jatuh justru tertimpa dan ikut jatuh. Vivian yang sejak kedatangan Eyang Aisyah bersembunyi pun segera berlari menghampiri sahabatnya yang terkapar tak bergerak menimpa tubuh dua orang pria dewasa dengan jambu berserakan di sekitarnya. Kyai Abdul Fatah tampak megap-megap, sementara Lukman meringis menahan sakit. Teriakan Eyang Aisyah yang paling keras membuat seluruh penghuni rumah dan beberapa santri yang berada tak jauh dari sana segera berlarian menuju sumber suara. Dalam sekejap halaman belakang sudah penuh dengan orang-orang yang berdatangan.
__ADS_1