Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 25


__ADS_3

Einsteina mengunyah coklat yang disodorkan oleh Maya untuk yang ke sekian kalinya. Sampah-sampah bekas bungkus makanan tercecer mengotori tempat tidur, sebagian jatuh ke bawah mengotori karpet Persia yang tebal nan mahal.


"Mau sampai kapan sih, Ina sama Papa Duda main diem-dieman begini." Itu bukan pertanyaan, melainkan gerutuan yang keluar dari mulut Maya.


"Kenapa Ina gak jujur aja habis nolongin Albert. Papa Duda gak bakalan marah, terus diemin Ina sampai sekarang. Maya jadi bingung sendiri sama sikap kalian. Masa tiap ketemu diem-dieman kayak gak saling kenal." Maya kembali merobek bungkus keripik kentang lalu memberikannya pada Einsteina.


"Males May, ntar ujung-ujungnya bohong. Papa adalah satu-satunya orang yang gak bisa gue bohongin." Einsteina meraup keripik tersebut dari kantongnya, lalu mengunyahnya tanpa semangat.


"Kalo gitu ya udah gak usah bohong."

__ADS_1


"Kalo gue gak bohong, Papa bakal tau kejadian yang sebenarnya. Yang ada gue bakal dilempar ke Jogja ketemu sama nenek lampir di sana selamanya. Habis nasib gue."


"Ya udah. Berarti tinggal bohong aja."


"Susah ah ngomong sama lo, May. Gak bakalan ngerti. Udah mending bikini gue minum aja, sana. Aus." Sungut Einsteina memutar bola matanya malas.


Semalam Albert menghubunginya melalui ponsel Maya, karena ponselnya sendiri memang sedang disita oleh Papanya. Einsteina ingat dulu ia pernah memberikan nomor ponsel Maya sebagai kontak darurat apabila ponselnya tak dapat dihubungi. Sehingga tak heran jika Albert langsung menghubungi Maya setelah ponselnya sendiri tak bisa dihubungi. Albert bilang bahwa Billy berkali-kali mencoba menghubunginya namun gagal.


Seminggu ini memang Einsteina tidak masuk sekolah, selain karena malas perasaannya juga sedang kacau. Toh ia juga sudah terbiasa bolos sekolah. Selain itu, ia sebenarnya berharap sang Papa akan menegurnya karena ia terus-terusan membolos. Namun sayangnya Lukman sama sekali tidak merecokinya seperti biasa. Lagi-lagi Einsteina merasa sedih. Tapi Einsteina tetap memutuskan untuk terus bolos sekolah sampai Lukman mengajaknya bicara, meski dengan begitu Billy semakin tidak bisa menemuinya.

__ADS_1


Albert bilang, anak buah Ario datang berkali-kali mengancam Billy dan keluarganya kalau sampai Einsteina tidak hadir dalam pertandingan, sesuai kesepakatannya dengan Ario yang diucapkannya dengan asal waktu itu.


Sebenarnya Einsteina hanya main-main saja dalam menanggapi ucapan Ario Gumelar, semata-mata hanya agar dibiarkan pergi membawa Albert agar segera dapat pertolongan mengingat kondisi sahabatnya itu sudah kehilangan banyak darah. Tapi sungguh tak disangka, jika Ario Gumelar benar-benar serius membuktikan ancamannya dengan mengganggu Albert bahkan keluarganya.


Tentu saja Einsteina tidak bisa membiarkan sahabatnya menanggung akibat dari ulahnya tersebut. Namun saat ini ia tidak bisa keluar rumah untuk menemui Billy tanpa diikuti oleh kedua anak buah Papanya. Sehingga ia meminta Albert untuk menyampaikannya pada Billy agar datang langsung ke rumahnya, hal yang belum pernah dilakukannya selama mereka bersahabat.


Tanpa disadari oleh Einsteina, pintu kamarnya terbuka dan tampak Lukman berdiri di ambang pintu.


"Keluarlah, ada dua temanmu yang ingin bertemu." Ucapnya lalu berbalik meninggalkan Einsteina yang masih belum hilang dari rasa terkejutnya. Papa mengajaknya bicara, yess!

__ADS_1


__ADS_2