
Einsteina berjalan bersisian dengan Vivian menuju meja makan setelah teriakan cempreng Eyangnya terdengar meminta keduanya untuk makan malam. Saat keduanya tiba, meja makan sudah ada Umi Salamah, Eyang Aisyah dan Romo Abdurrahman.
"Abah, Papa sama Mas Fikri kok belum kelihatan, Mi." tanya Einsteina pada Umi Salamah yang sedang menata hidangan di atas meja. kemudian ia mengambil tempat duduk bersama Vivian di sampingnya.
"Abah sedang mengisi pengajian di desa sebelah, kalau Mas Fikri sama Papamu tidak tau kemana, pamitnya mau keluar gitu aja. Ayo, makan dulu. Umi buatkan masakan khas Pekalonga. Vivian pasti belum pernah mencoba, ayo dicoba dulu. Namanya megono."
Einsteina menatap semangkuk besar cincangan nangka muda yang diurap dengan parutan kelapa dan dicampur dengan bumbu rempah-rempah tersebut dengan penuh minat. Tanpa menunggu lama piringnya sudah penuh dengan segunung makanan lengkap dengan tempe mendoan juga sambal gorengnya, membuat semua yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepala.
"Enak banget, Mi." Cetus Vivian di sela-sela suapannya. Umi Salamah tersenyum menanggapi.
"Dulu saat Eyang masih tinggal bersama orang tua di Pekalongan, megono menjadi menu wajib setiap sarapan. Makannya diurap jadi satu dengan nasi nikmatnya berkali-kali lipat." Kata Eyang Aisyah.
"Jadi Eyang asli Pekalongan, ya?" Eyang Aisya tersenyum dan mengangguk. Entah mengapa malam ini Eyang Aisyah lebh sering tersenyum, tidak seperti biasanya yang suka cemberut setiap melihat Vivian bersama dengan cucunya. "Selain megono ini di Pekalongan ada apa lagi, Eyang?"
__ADS_1
"Ada pindang tetel. Rasanya juga enak, mirip-mirip dengan garang asem. Hanya saja tidak menggunakan daging, tapi toel atau kulit sapi sebagai gantinya. Ditambah lagi dengan mie usek yang di remuk." Jelas Eyang Aisyah.
"Besok Umi buatkan, ya. Biar Vivian tidak penasaran." Ujar Umi Salamah membuat Vivian kembali bersedih. Mungkin Umi Salamah lupa kalau setelah makan malam ia dan Einsteina akan pulang ke Jakarta.
"Vivian jadi tinggal di sini, bukan?" tanya Romo Abdurrahman yang sejak tadi hanya diam menyimak perbincangan di meja makan, membuat Vivian menatap Einsteina dengan bingung.
"Tadi Ina bilang kalau Vivian betah tinggal di sini dan tidak mau pulang." Vivian menginjak kaki Einsteina di sampingnya membuat si empunya mengaduh kesakitan dan melotot tidak terima, tapi Vivian justru balas memelototinya dengan kesal.
"Udah gak usah malu, lagian nenek gue seneng ada yang di nyinyirin kalo lo tinggal di sini." Kata Einsteina tanpa dosa. Vivian benar-benar ingin sekali mencekik sahabatnya itu saat ini juga. Kalau Eyang tidak menyetujuinya kan Vivian juga yang malu. Bocah geblek memang, makinya dalam hati
"Umi senang kalau Vivian mau tinggal di sini. Eyang juga, kan selama ini cucu perempuannya tidak di rumah semua." Di luar dugaan Vivian, Umi Salamah justru tersenyum menyetujuinya.
"Eyang juga senang, nduk. Dari pada kamu di luar pergaulannya sama seperti bocah geblek itu, lebih baik kalau kamu mau tinggal di sini." Ujar Eyang Aisyah seraya melirik Einsteina, namun yang dilirik cuek saja masih dengan santai menandaskan isi piringnya.
__ADS_1
"Ina sudah cerita semuanya, tadi. Tinggallah di sini, belajar ngaji seperti yang kamu inginkan. Kami menerimamu dengan tangan terbuka." Sambung Romo Abdurrahman.
Vivian melirik Einsteina yang masih sibuk dengan isi piringnya. Ia benar-benar sangat ingin mengiyakan tawaran tersebut, tapi ia ingat kakaknya, Albert. Ia tidak mungkin tega meninggalkan kakaknya sendirian di Jakarta. Vivian menunduk menggigit bibirnya, memikirkan hal itu membuatnya nyaris menangis.
"Gak usah mikirin Albert. Gue udah telepon dia tadi, asal lo bahagia bisa ngelupain masa lalu lo dia bilang setuju dengan senang hati."
"Lo udah ngomong sama kakak gue?" Vivian nyaris tidak mempercayai kata-kata Einsteina. Ya, Tuhan tercipta dari apa hati sahabatnya ini. Einsteina membantunya diam-diam tanpa diminta, semata-mata hanya agar Vivian hidup tenang dan bahagia terbebas dari dendam yang selama ini membuat hidupnya tak tenang dan menderita. Tanpa terasa air mata Vivian mengalir membentuk aliran anak sungai di kedua pipinya.
"Stop, stop. Gak perlu terharu gitu. Lo baru boleh terharu kalo udah ngerasa betah di sini. Tapi gue jamin paling lama seminggu sebelum lo merengek minta dipulangin. Lo kan tau sendiri kayak gimana nyinyirnya Eyang gue."
"Ina!" tegur Umi Salamah setengah geli. Dasar perusak suasana. Mau tak mau Vivian pun tersenyum di sela-sela tangis harunya.
"Oalah, karang bocah sembrono. Eyangnya sendiri dikata-katain yang ndak-ndak. Sana pergi, biar Vivian yang tinggal di sini." Usirnya dengan nada marah yang dibuat-buat, membuat semuanya tersenyum.
__ADS_1