
"Ina maunya ke tempat Eyang naik motor, Pa. Kan asyik gitu, berasa banget perjalanannya"
"Papa nggak bisa ngijinin kamu naik motor sampai Jogja." Einsteina menghentakkan kakinya kesal.
"Kan ada Om Adrian juga, lagian di HDCI, kan semua teman Papa. Mereka bakal ngadain event di Prambanan, sekalian aja Ina ikut dari sini. Kan pisahnya gak jauh. Please, Pa. Ina udah janji sama Vivian mau liburan ke Jogja. "
"Tidak boleh! Apalagi sama Vivian tanpa papa, memangnya di rumah ini sudah tidak ada mobil. Tidak aman anak gadis menempuh perjalanan jauh dengan motor. Lagian kemarin-kemarin siapa yang ribut mau ke Hollywood bareng Lolita? "
"Ya udah, kalo gitu papa ikut aja. Lama juga kan Papa gak ikut traveling bareng mereka." Lukman memang tergabung dalam Harley-Davidson Club Indonesia, bersama Adrian, sahabatnya. Dapat dilihat koleksi motor gedenya yang terparkir memenuhi garasi. Namun karena kesibukannya dalam mengurusi bisnis, ia jarang ikut dalam setiap event yang diadakan oleh club para pecinta motor gede tersebut.
"Papa sibuk, Na. Gak bisa nemenin kamu sama Vivian. Kan ada Pak Sardi, naik mobil aja ya."
"Ah gak asyik! Pokoknya Ina pengen naik motor gede ke Jogja. Ayolah, Pa. Please"
Lukman menyingkirkan laptopnya sambil melepas kacamata bacanya, keningnya berkerut heran. Dipandanginya anak gadisnya yang tengah merengek manja sambil menarik-narik lengan bajunya yang digulung sampai siku. Tipikal Einsteina kalau sedang menginginkan sesuatu. Dasar!
"Sudah dong, Na. Lecek nih. Ntar nggak ada yang mau melirik Papa, kalau penampilan Papa kamu rusak." Ujar Lukman sambil mengelus puncak kepala putrinya dengan sayang.
"Kayak Papa mau aja dideketin cewek." Cibir Einsteina yang disusul kekehan Lukman. Ah putrinya ini gampang sekali teralihkan kalau sudah membahas mengenai calon mama tiri.
"Emangnya kamu mau punya mama tiri?" jawab Lukman disertai cengiran putrinya.
"Iklas, Pa. Eyang juga kayaknya ngebet banget pengen dapet cucu lagi dari Papa. Udah kawin aja pa, Albert bilang kawin tuh enak." Tawa Lukman berderai mendengar kalimat terakhir putrinya.
__ADS_1
"Kasihan yang bakal jadi mama tiri kamu, Na. Pasti cepet tua ngadepin anak badung seperti kamu."
"Badung juga warisan dari Papa kok," jawabnya asal, membuat Lukman nyengir mengingat masa mudanya yang sangat bandel. Dulu saat masih kuliah Lukman adalah raja tawuran, berantem menjadi salah satu hobinya. Tiap malam terlibat taruhan kebut-kebutan di jalanan bersama teman-teman club motornya.
Tapi dari semua kelakuan buruknya, Lukman adalah laki-laki yang cerdas dan tampan, ia selalu menjadi idola para gadis. Namun demikian bapak beranak satu itu sama sekali tidak pernah berani memacari salah satupun dari para penggemar beratnya itu. Senakal-nakalnya Lukman, ia adalah putra Romo Abdurrahman, pemuka agama yang sangat dihormati di kampungnya. Ajaran untuk tidak pacaran ia pegang dengan teguh.
"Meskipun dulu Papa badung tapi gak pernah tuh dapat nilai di bawah sembilan. Lah kamu, nilai lulus KKM saja sudah luar biasa. Dulu Papa pinter selalu jadi juara kelas, nggak kayak kamu pemalas" Ujar Lukman tak mau kalah mengolok putrinya.
Einsteina memang tidak ketulungan malasnya kalau disuruh belajar, padahal dulu saat masih duduk di Sekolah Dasar Einsteina selalu menjadi juara kelas dari kelas satu hingga kelas enam, tak ada yang mampu menandingi nilai-nilainya yang selalu sempurna. Lukman tahu kalau anak gadisnya tersebut sangat cerdas, tapi entah mengapa semenjak menginjak SMP Einsteina selalu bermasalah dengan nilai-nilainya. Tak hanya itu, ia juga berubah dari gadis yang manis menjadi gadis barbar yang suka sekali menghajar orang.
Sudah tak terhitung entah berapa kali Lukman dipanggil kepala sekolah lantaran Einsteina membuat babak belur teman sekelasnya. Lukman juga sudah berkali-kali menghukum gadis nakal tersebut, tapi tak pernah ada kapoknya. Entah mengapa ia merasa Einsteina sedang berusaha menghukum papanya sendiri.
"Please deh, Pa. Mana ada orang pinter ngaku dirinya pinter. Anak itu turunan dari orang tua. Jadi baik maupun buruknya anak, ya warisan dari orang tuanya."
"Ya udah, kalo bukan dari Papa berarti dari orang yang udah ngelahirin Ina. Salahin aja dia. Lagian Papa ngapain nikahin orang bodoh dan pemalas. Jangan-jangan dia juga mata duitan, doyan nikung laki orang, sampai Papa ceraiin dia." Seketika Lukman terdiam mendengar kalimat putrinya yang entah mengapa Lukman merasa memang sengaja diucapkan oleh Einsteina, wajahnya berubah mendung. Ia menghela nalas berat sebelum berucap.
"Gak pantes kamu ngatain Mama kamu begitu, Na. Biar bagaimanapun Mama orang yang udah berjasa ngelahirin kamu." tegur Lukman, Einsteina bisa merasakan nada getir dalam suara sang papa. Tapi ia menolak kasihan, dengan sengaja ia terus mencela wanita yang tak pernah ia sebut dengan panggilan mama.
"Berarti bener dong, kalo dia sama seperti yang Ina bilang?"
"Kamu tidak pernah tahu seperti apa sebenarnya mama. Rubahlah padangan kamu ke mama, sesekali dengerin Papa kalau lagi cerita tentang mama. Memangnya kamu tidak ingin tahu?"
"Buat apa? Ina gak pengen tau. Udah ada Umi sama Mak Jum, mereka adalah Mama yang luar biasa buat Ina. Jadi Ina gak perlu tau cerita apapun tentang dia, Ina anggep Papa cuma pinjem rahimnya buat ngelahirin Ina, selesai. Udah ah, Ina ngantuk." Katanya tak acuh seraya menguap lebar dan beranjak, mengabaikan teguran Lukman yang menyuruhnya kembali duduk.
__ADS_1
"Jadi beneran nggak mau liburan ke Hollywood, katanya pengen ketemu Robert Pattinson?" tanya Lukman mencoba meningatkan putrinya tentang awal pembicaraan mereka, Einsteina hanya menanggapinya dengan mengibaskan tangan tanda tidak mau. Moodnya sudah berubah sangat buruk setelah membahas tentang wanita yang telah berjasa melahirkannya. Berjasa kata papa, cih!
Lukman menghela napas berat. Meskipun tidak diungkapkan, tapi Lukman merasa Einsteina seolah menyesal lahir dari rahim mamanya. Bahkan anak itu terang-terangan menolak tahu tentang wanita yang telah melahirkannya, meski tanggapannya terkesan masa bodoh tapi Lukman bisa merasakan kekecewaan putrinya.
Atina, wanita yang sangat dicintainya itu meninggalkannya seminggu setelah Einsteina lahir, untuk mengejar karirnya. Awalnya Atina minta pada Lukman untuk kembali berkarir begitu anak mereka lahir, tapi tentu saja Lukman menolak tegas keinginan istrinya tersebut. pertengkaran demi pertengkaran mewarnai rumah tangga mereka, puncaknya saat usia kandungan Atina mencapai sembilan bulan, Atina mengajukan gugatan cerai yang jelas ditolak mentah-mentah oleh Lukman. Hingga istrinya itu nekat pergi meninggalkan suami dan anak yang belum lama dilahirkannya. Tentu saja Lukman marah dan kecewa, bagaimana mungkin wanita yang sangat dicintainya tersebut tega meninggalkannya begitu saja, bahkan hingga kini mereka belum resmi bercerai. Alasan itu pulalah yang membuatnya tidak mau menikah lagi sampai sekarang. Atina memang menyakitinya, tapi ia juga tak bisa berhenti mencintai wanita itu.
Sejak berusia seminggu, Einsteina diasuh oleh Umi Salamah, buliknya di Jogja hingga ia berusia dua belas tahun. Tidak mudah menjadi orang tua tunggal bagi Lukman. Kesibukan membuatnya tidak sanggup mengurus anak dan pekerjaannya sekaligus, sehingga ia terpaksa menitipkan buah hatinya pada orang tuanya di Jogja. Namun kang Fatah, kakak kandung Lukman yang belum lama kehilangan anak ketiganya, meminta Einsteina untuk diasuh dirinya bersama istrinya, Umi Salamah.
Kemudian begitu lulus Sekolah Dasar, dirasa Einsteina sudah cukup besar, Lukman membawa putrinya tersebut tinggal bersamanya di Jakarta.
Meskipun Lukman berusaha membagi waktu antara pekerjaan dan putrinya, tapi tetap saja ia merasa tidak bisa menjadi sosok ayah idaman bagi Einsteina. Memeluk putrinya sebelum tidur, mengantarkannya ke sekolah setiap pagi, atau mendengarkan curhatannya saat putrinya mulai jatuh cinta. Lukman tidak bisa melakukan semuanya. Bahkan sejak ia membawa putrinya ke Jakarta, belum sekalipun Lukman pernah mengambil raport Einsteina di sekolah, selama ini Pak Sardi, sopir mereka yang selalu mewakili dirinya. Bukannya Lukman sengaja tak mau datang ke sekolah putrinya, agar tidak mendegar laporan kelakuan nakal Einsteina, tapi setiap kali penerimaan raport selalu berbenturan dengan pekerjaanya yang tak bisa ditinggalkan, seperti sedang meeting dengan klien penting maupun perjalanan keluar negeri.
Pernah sekali, ia sengaja terbang dari New York meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengambil raport Einsteina, tapi sesampainya di sekolah Lukman mendapati putrinya mengacungkan buku raport padanya sambil cemberut, disampingnya Pak Sardi tersenyum memaklumi. Ia terlambat.
Yang lebih parahnya lagi saat Einsteina pertama kali mengalami datang bulan, Lukman kebingungan waktu putrinya itu menyodorkan pembalut padanya dan bertanya bagaimana cara mengenakannya. Einsteina bilang iklan di televisi tidak memberikan tutorial pemakaiannya.
Dengan muka merah padam menahan malu, keesokan harinya Lukman bertanya pada sekretarisnya yang super genit, dengan senang hati dan nada yang menggoda sekretarisnya tersebut bersedia menjelaskannya pada bossnya yang ganteng nan sexy.
Belum lagi saat Einsteina harus memakai bra, Lukman juga yang mengajarinya cara memakai. Hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu, namun justru sebagai ayah Lukmanlah yang mengajarkannya. Namun Lukman merasa semua itu belum cukup untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi Einsteina, karena selama ini waktu Lukman lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan dibanding menemani putrinya. Bahkan saat di rumah sekalipun saat ia menemani Einsteina nonton film kartun kesukaannya, Lukman pasti tetap sambil berkutat dengan laptopnya memeriksa perkerjaannya. Hal yang menurut Lukman sangat tidak adil untuk putrinya.
Einsteina juga tidak pernah mengeluh, mau sesibuk apapun papanya ia tak sekalipun menuntut perhatian dari Lukman. Einsteina memang menyebalkan, suka menggoda papanya, tapi ia selalu memberi pengertian pada Lukman. Satu hal yang membuat Lukman semakin merasa bersalah pada putrinya itu.
Lukman menarik napas dengan berat. Ditutupnya laptop yang ada dihadapanya, pekerjaan bisa ditunda. Ia ingin menemani putrinya, membelainya sebelum tidur. Berharap bisa sedikit mengobati rasa bersalahnya.
__ADS_1