Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 26


__ADS_3

Keresahan kembali melanda Billy saat Lulu, adiknya mengadu sambil gemetar menahan tangis bahwa ia dihadang oleh preman-preman bertampang sangar yang mengaku suruhan Ario Gumelar, mereka mengancam akan membuat masalah dengan kakaknya dan tidak segan-segan akan menyakiti keluarga Billy jika sampai Eisnteina tidak hadir pada pertandingan nanti malam.


Sebenarnya tidak hanya itu, sebelumnya Billy sendiri juga mengalami hal yang sama. Namun Billy menganggap tidak masalah toh mereka pasti hanya menggertaknya saja, namun setelah adik dan juga Ayahnya diganggu oleh mereka Billy tidak bisa diam begitu saja. Ia harus segera bertemu dengan Einsteina untuk membicarakan masalah ini.


Sayangnya Einsteina tidak terlihat batang hidungnya nyaris seminggu ini, ponselnya juga tak bisa dihubungi. Hal yang membuat Billy kian frustasi. Sebenarnya mudah bagi Billy agar secara langsung menemui sahabatnya itu di rumahnya saja, tapi yang jadi masalah Billy sama sekali tidak mengetahui alamat rumah Einsteina. Sangat lucu mengingat mereka sudah bersahabat sejak kelas sepuluh.


Disaat Billy tengah dilanda kebingungan, Albert muncul di rumahnya dengan kondisi yang masih belum sembuh total. Wajah lebamnya masih tampak bengkak dengan sudut bibir sobek yang masih belum hilang bekasnya, gips masih belum dilepas dari lengan kirinya yang patah tulang dengan selendang penyangga yang dililitkan di bahunya. Ia mengkhawatirkan kabar Einsteina setelah menerima tantangan Ario Gumelar. Merasa tidak sendirian Billy akhirnya menceritakan masalahnya pada Albert, ternyata Albert juga mengalami hal yang sama. Setelah itu Albert menghubungi seseorang yang katanya dekat dengan Einsteina.


Dan berakhirlah mereka di sini, di depan pagar rumah Einsteina yang tinggi menjulang yang terletak si sebuah perumahan elit. Billy masih belum pulih dari rasa shocknya menyaksikan tempat tinggal sahabatnya itu saat Albert menepuk bahunya dan turun dari motor vespanya. Dilihatnya Albert berjalan mendekati pos satpam dan mengatakan sesuatu pada pria paruh baya yang tak lain adalah satpam yang sedang berjaga di sana.


Tak lama kemudian setelah satpam tersebut berbicara dengan seseorang melalui walkie talkie, keduanya dibukakan gerbang dan dipersilakan masuk. Billy kembali ternganga, menyaksikan halaman yang luasnya melebihi lapangan sepak bola di kampungnya yang ditumbuhi berbagai macam tanaman yang sudah pasti selalu tersentuh perawatan dari tangan-tangan profesional, dengan rumput yang tampak segar terpangkas rapi. Beberapa tanaman pakis tampak berjejer di dekat tembok pembatas.


Setelah memastikan Albert kembali naik ke atas jok motornya, Billy memacu vespa bututnya tersebut menelusuri jalan beraspal yang lumayan jauh untuk sampai pada bangunan yang menjulang di depan sana. Billy yakin jika ditempuh dengan jalan kaki pasti akan memakan waktu cukup lama.


Keduanya tiba di depan rumah mewah bergaya Victorian. Billy memarkir vespanya dan berjalan beriringan dengan Albert melewati sebuah kolam mini dengan pancuran patung wanita Yunani membawa sebuah guci yang mengalirkan air, menuju sebuah pintu utama yang dijaga seorang laki-laki berbadan besar dan tegap dengan pakaian serba hitam, seolah sudah menantikan kedatangan keduanya dan langsung mempersilakannya masuk.


Begitu keduanya melewati pintu, pemandangan ruang tamu yang luas dengan lantai bermozaik langsung menyambut keduanya. Berbeda dengan Albert yang tampak tenang-tenang saja, Billy lebih banyak ternganga menyaksikan rumah bernuansa putih dengan gorden berwarna senada tersebut tampak mewah dengan berbagai macam perabotan. Kursi kulit bergaya Victoria yang mereka duduki, guci-guci naga antik yang Billy tahu harganya lebih mahal dari harga sebuah mobil, juga lukisan-lukisan Picasso yang menghiasi dinding, hingga meja jati berukir naga dengan beberapa vas bunga mawar putih asli yang tampak segar tanda belum lama diganti berjejer di atasnya, serta patung-patung Yunani yang semakin menambah kesan mewah pada ruangan luas tersebut.


Ia masih belum percaya, sahabatnya yang suka serampangan itu tinggal di rumah semewah ini. Belum usai keterkejutannya, seorang pria tampan dengan wajah tersenyum ramah datang menghampiri keduanya.


Itu 'kan Lukman Al Hakim. Andai saja ada lalat yang lewat, saat itu pasti akan mampir ke mulut Billy yang kembali ternganga. Siapa yang tak mengenal Lukman Al Hakim, pemilik industri perkapalan yang bolak-balik masuk Koran karena kesuksesanya. Tahun lalu Billy sempat membaca beritanya di Koran online, ia memberikan sebuah yacht sebagai hadiah ulang tahun putrinya yang ke enam belas tahun.


Seseorang tolong katakana bahwa apa yang saat ini ada dipikirannya tidak benar. Putri Al Hakim tidak lain pasti si sableng Einsteina, kan? Billy semakin shock. Jadi selama ini ia berteman dengan putri seorang konglomerat.


"Apa kabar, Albert?" Lukman menyalami Albert dengan hangat. Wajah tampannya tampak ramah. Diusianya yang sudah menginjak empat puluh, Lukman tampak segar dengan tubuh tegapnya yang berotot membuat Billy menelan ludah lantaran iri. Pantas saja bapak yang satu ini dijuluki si Duda sexy.


"Beginilah, Om. Sendirian merana ditinggal Vivian." Lukman tertawa mendengarnya. Albert tampak santai, berbeda dengan Billy yang sudah berkeringat dingin.


"Makanya cari pacar biar gak kesepian." Candanya yang dibalas dengan cengiran oleh Albert. "Kalau ini pasti Billy. Ina sering sekali bercerita tentang kalian." Billy menjabat uluran tangan Lukman dan tersenyum canggung mengiyakan.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong ada apa dengan wajah dan tanganmu, Al?" tanya Lukman seraya duduk di seberang mereka. Albert melirik Billy lalu menghela napas sebelum menjawabnya.


"Kecelakaan Om." Kemudian ia berdeham membersihkan tenggorokannya sebelum melanjutkan." Kalau saja waktu itu Ina tidak datang mungkin saya sudah tidak bernyawa, Om." Albert tidak sepenuhnya berbohong, karena memang seandainya Ina tidak datang sudah pasti ia habis dihajar anak buah Ario Gumelar.


"Loh, kapan kejadiannya? anak itu sama sekali tidak memberitahu Om." Lukman sedikit mengangkat punggungnya yang bersandar pada sandaran kursi dan menyimak dengan penuh minat.


"Seminggu yang lalu. Dia juga yang mengurus segala keperluan saya di rumah sakit bareng Billy hingga dini hari."


"Sebenarnya saya berkali-kali menghubungi Ina agar bersama mengunjungi Albert di rumah sakit, tapi Ina susah dihubungi, Om. Dia juga tidak pernah kelihatan di sekolah. Makanya kami datang kemari, khawatir karena tidak biasanya dia susah dihubungi." Tutur Billy setelah bungkam sejak tadi.


Lukman tampak manggut-manggut mengeri. Sekarang ia mendapat jawaban atas kekhawatirannya selama seminggu ini. Anaknya pergi hingga pukul tiga dini hari karena menolong sahabatnya yang mengalami kecelakaan. Senyum simpul menghiasi bibirnya, ia lega sekaligus bangga. Ah, ia sudah berpikan buruk tentang putrinya. Hanya saja benaknya dipenuhi keheranan, kenapa Einsteina tak mau jujur padanya. Ia lebih memilih mendapat amarah dari Papanya. Terbersit rasa bersalah di hati Lukman, seharusnya ia tidak marah pada anak gadisnya itu.


"Oh ya, Om. Ngomong-ngomong boleh ketemu Ina, gak?"


"Tentu saja. Sebentar, biar Om panggilkan." Setelah Lukman beranjak, Albert dan Billy saling menyikut.


"Kalo si Duda tau kejadian yang sebenarnya habislah kita." Bisik Billy di telinga Albert. Albert menjawabnya dengan gerakan bibir-jangan sampai.


Lalu tiba-tiba Billy bangkit dari duduknya dan memiting kepala Einsteina di antara ketiaknya, membuat si empunya terkejut tanpa sempat mengelak.


"Kenapa lo gak bilang, kalo lo dapet yacht di ulang tahun lo kemarin." Desis Billy tak terima yang disambut kekehan oleh Albert .


"Males, lo palingan bakal numpang buat mancing." Ucapnya asal, terengah diantara pitingan ketiak Billy yang baunya menyamai kaos kaki yang tak penah dicuci selama seminggu.


"Sialan, lo. Punya bokap sekece Lukman Al Hakim disembunyiin aja. Takut dapet Mak tiri ato gimana, lo." decak Billy seraya menoyor kepala sahabatnya.


"Gue malah lagi nyari bini buat si Duda, tapi kalo yang daftar macem Lolita mana sudi gue. Mending piatu sampe mati."


"Eh, jadi lo beneran deket sama Lolita?" Einsteina hanya mengedikkan bahunya dengan cuek. Billy menggumamkan kata pantas sebelum kemudian menghempaskan pantatnya kembali ke kursi.

__ADS_1


"Kita mau bahas masalah serius, Na. Tapi sebelumnya gue mau bilang makasih dan juga sorry buat kejadian waktu itu." Albert memulai dengan sedikit ragu, mengingat sekarang ada di rumah Einsteina. Tidak menutup kemungkinan akan ada yang mendengarnya.


Seolah mengobati keraguan mereka, tak lama kemudian Lukman muncul sambil memegangi ponselnya tampak sedang bicara dengan seseorang, di belakangnya sang asisten mengekorinya sambil membawakan tas hitam serta beberapa map di tangannya. Lukman melambai pada mereka saat melewati ruang tamu. "Papa ke kantor, ada hal penting yang harus diselesaikan. Ingat, jangan berani bertingkah!" pesannya sambil lalu. Einsteina balas melambai sambil tak lupa memberikan kecup jauh yang langsung dapat reaksi pura-pura muntah dari Billy yang baru kali ini melihat sisi lain dari Einsteina.


"Kita ke teras samping aja, di sini ada mata-mata Papa." Bisiknya setelah Lukman mengilang di balik pintu sambil melirik sosok yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk. Lalu ketiganya beranjak meninggalkan ruang tamu.


Billy dan Albert berjalan mengekori Einsteina melewati pintu yang menghubungkannya dengan ruang tengah. Sebuah ruangan yang sangat luas didominasi warna putih dengan banyak pintu. Langit-langitnya penuh ukiran gypsum yang rumit, hampir mirip dengan desain ruang tamu dengan lampu-lampu Kristal yang bergelantungan di sana.


Sebuah tangga yang melingkari sebuah pilar berada di tengah-tengah ruangan, menghubungkannya dengan lantai dua. Di sebelah kanan tangga terdapat ruangan besar yang disekat menggunakan kaca tembus pandang, memperlihatkan isinya, yaitu berbagai macam peralatan fitness yang sudah dapat dipastikan milik si Duda sexy.


Lalu ketiganya belok kanan menuju sebuah pintu kaca besar yang terletak di samping kanan rumah dan tampaklah sebuah taman bergaya Eropa dengan sebuah kolam renang besar terletak di ujung kirinya berdekatan dengan ruang fitnes. Sedangkan di ujung kanan taman menampakkan belakang sebuah garasi yang terbuka menampilkan seluruh isinya, deretan mobil mewah hingga koleksi motor gede milik Lukman.


Einsteina mengajak kedua sahabatnya itu duduk di kursi ayun, di dekat kolam renang. Suasana santai terasa saat semilir angin meniup dedaunan, serta suara gemericik air yang bersumber dari air terjun mini buatan yang mengalirkan airnya menuju kolam renang.


Namun berbeda dengan kondisi perasaan mereka. ketiganya tampak tegang. Apalagi Einsteina, hilang sudah ekspresi menyebalkannya saat ia menatap kedua sahabatnya itu dengan serius.


"Jadi?" ujarnya setengah berbisik.


"Kemarin Lulu dihadang sama anak buah Ario sepulang sekolah. Bokap gue kena begal saat pulang ngojek. Tapi herannya mereka cuma mukulin bokap gue, motornya malah gak dibawa. Salah satu dari mereka bilang itu salam dari Ario Gumelar." Jelas Billy sambil menahan sesak.


"Gue juga harus bilang ini ke lo, Na. Selama gue di rumah sakit ada beberapa orang yang datengin gue. Mereka juga ngancem hal yang sama. Intinya mereka minta lo dateng ke boxing malam ini." Einsteina tampak berpikir sejenak, sambil berkali-kali menarik dan menghembuskan napasnya.


"Gue gak bisa libatin lo berdua dalam masalah yang udah gue bikin. Mau gak mau ntar malem gue harus dateng, biar demit tua itu gak berani macem-macem lagi ke lo berdua." Albert menghela napas berat mendengar ucapan Einsteina.


"Semua salah gue. Andai waktu itu gue dengerin omongan lo, kejadiannya gak akan sampai seperti ini."


"Menyesal juga percuma, Al. Mending kita hadapi. Tinggal gimana caranya gue pergi tanpa ketahuan Papa. Lo lihat, sekarang rumah dijaga ketat." Einstein menunjuk beberapa laki-laki berbaju hitam melalui dinding kaca yang tampak mondar-mandir di rumahnya. "Semua itu gak ada sebelum gue ketahuan pulang malem waktu itu."


"Lo cuma tanding sekali aja, kan. Setelah itu udah selesai?" tanya Billy mulai tampak khawatir.

__ADS_1


"Lo gak tau gimana liciknya Ario Gumelar. Demit tua itu gak bakalan biarin orang luar menang begitu saja. Dia punya seribu satu cara kotor untuk mengalahkan lawannya. Sekarang gak ada pilihan lain selain kembali menghianati kepercayaan Papa. Ini rencana gue...." Einsteina membisikkan sesuatu yang langsung ditanggapi dengan gumaman tak rela oleh kedua sahabatnya. Namun apa daya, mereka juga tak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2