
Pukul tujuh malam sebuah sedan hitam masuk dan berjalan menuju gerbang kedua yang tampak seorang penjaga tengah membukakan pagar besi setinggi dua setengah meter itu, setelah melewati pos penjagaan yang terletak di pintu gerbang pertama.
Pesantren Miftahul Ulum memang terdapat dua pintu gerbang di jalan utama. Yang pertama adalah gerbang setinggi dua setengah meter di bawah gapuro selamat datang yang terdapat dua buah pos penjagaan di kedua sisinya. Dari gerbang pertama menuju gerbang kedua terdapat bangunan-bangunan sepanjang lima puluh meter yang digunakan sebagai asrama pengunjung dan kantor yang berhadapan dengan bangunan yang terdiri dari beberapa ruang kelas. Kemudian barulah tiba di gerbang ke dua yang bangunan di kiri-kanannya merupakan asrama santri.
Sedan hitam tersebut kemudian berhenti tepat di depan kediaman Kyai Abdul Fatah dan turun seorang pemuda tampan mengenakan sarung putih dan koko batik, kupluk putih tampak bertengger di atas kepalanya. Pemuda tersebut berjalan melewati jalan beraspal yang di kiri-kanannya tumbuh tanaman indah yang terawat sempurna menuju pintu utama.
"Assalamualaikum." Sang pemuda mengetuk pintu seraya mengucap salam. Tanpa menunggu lama terdengar jawaban dari dalam yang dibarengi dengan pintu terbuka.
"Waalaikum salam. Masya Allah, Gus Hasan. Mari masuk." Ujar Fikri membuka lebar pintu. Setelah berjabat tangan dengan akrab, kemudian keduanya duduk di sofa ruang tamu.
"Bagaimana kabar keluarga, Gus?" tanya Fikri setelah ingat belum ada seminggu Gus Hasan dan keluarganya ditinggal oleh sanga Ayah.
"Alhamdulillah, semua baik dan sudah kembali seperti semula. Yah, meski rasa duka itu masih terasa." Jawabnya setelah menghela napas berat. Kemudian keduanya terlibat pembicaraan hangat.
"Oh ya, Abah di rumah, Fik?." Tanya Gus Hasan setelah keduanya berbincang cukup lama. Sesuai permintaan Fikri, Gus Hasan hanya memanggil namanya saja tanpa embel-embel 'Gus' mengingat dirinya adalah junior Gus Hasan saat nyantri dulu.
"Ada, Gus. Baru saja selesai diurut tukang pijit."
__ADS_1
"Lho, ada apa dengan Abah? Abah sakit, Fik?" seingat Gus Hasan Kyai Abdul Fatah selalu tampak fit dan jarang sakit, apalagi sampai membutuhkan seorang tukang urut.
"Tidak, Gus. Tadi jatuh waktu mau menolong adik saya, punggungnya sakit. Sebentar, ya saya panggilkan Abah dulu." Pamit Fikri beranjak dari duduknya.
Tak lama kemudian, Kyai Abdul Fatah muncul di ruang tamu diikuti oleh Fikri. Gus Hasan bangkit dari duduknya untuk menyongsong sosok yang sangat di seganinya tersebut dan mencium tangannya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar dan lain sebagainya, Gus Hasan memulai pada inti tujuannya datang kemari.
"Pertama-tama, Abah. Hasan ingin menyampaikan secara langsung undangan peringatan tujuh hari Abah saya. Kemudian yang kedua saya bermaksud menunaikan wasiat dari almarhum Abah untuk menikahi putri panjenengan." Kyai Abdul Fatah tampak mengangguk-anggukkan kepala sebelum kemudian berpaling ke arah putranya yang duduk di sampingnya.
"Fikri, coba kamu panggilkan Eyang kakung kemari, nak. Setelah itu kamu lihat adikmu, jangan sampai berulah lagi."
***
Fikri berjalan mengendap-endap ke kamar Einsteina sambil membawa nampan berisi makanan. Adik sepupu gendengnya itu masih dihukum dengan tidak diperbolehkan keluar dari kamar hingga waktu yang tak ditentukan setelah membuat Kyai Abdul Fatah terserang sakit punggung gara-gara terjatuh saat hendak menangkapnya. Sedangkan Lukman sendiri mengaku rusuknya sakit tertimpa siku anak gadisnya saat terjatuh.
Yang lebih mengesalkan, setelah membuat dua orang cedera si empunya justru sehat walafiat. Mengeluh sakitpun sama sekali tidak. Ia justru terlentang di atas tubuh paman dan papanya, yang semula dikira tengah sekarat menunggu ajal tiba ternyata sedang menikmati empuknya jatuh ke tanah. Tentu saja empuk, orang dia jatuh menimpa tubuh dua penolongnya, tubuh dua orang di bawahnya itu yang remuk. Gerutu Fikri dalam hati.
Fikri membuka handel pintu dan mendapati Einsteina tengah menonton sesuatu di layar ponselnya sambil tertawa guling-guling di atas ranjang.
__ADS_1
"Riadhil Jannah, nih makan dulu. Sebelum Masmu ini berubah pikiran bawa balik ke dapur." Panggil Fikri yang sepertinya menginterupsi keasyikan Einsteina karena gadis itu benar-benar menghentikan tawanya dan menatap Fikri yang sedang meletakkan nampan di atas nakas dengan pandangan tak terbaca.
"Apa?" tanya Fikri saat melihat sepupunya itu menatapnya tanpa kedip.
"Barusan Mas Fikri panggil Ina apa?"
"Riadhil Jannah. Kenapa, ngerasa jelek?" goda Fikri yang sangat mengerti jika Einsteina sangat benci di panggil dengan menggunakan nama belakagnya.
"Panggil Ina, sekarang. Eins-tei-na!" ujarnya memberi penekanan.
"Males ah, bagus Riadhil Janah, kok." Keukeuh Fikri seraya mengedipkan sebelah matanya saat menyadari adik sepupunya itu sudah mulai memerah wajahnya. Marah sepertinya.
Tanpa diduga Einsteina bangkit dari ranjang dan berlari menyerang Fikri. "Aduh, aduh. Ina apaan sih, kok tiba-tiba membabi buta gini. Hei sudah dong, Ina sudah!" Fikri dibuat kewalahan oleh cubitan adiknya yang tiada habisnya.
"Bilang ampun, terus bilang juga gak akan panggil-panggil pake nama itu lagi. Buruan!" teriak Einsteina masih tetap menghujani Fikri dengan cubitannya.
"Nggak mau, bleeww." Fikri menjulurkan lidahnya mengejek setelah berhasil melepaskan diri dari Einsteina yang sudah mirip dengan kalajengking betina. Namun Einsteina tak mau melepaskan kakaknya begitu saja, dan terjadilah kejar-kejaran disertai tawa Fikri dan sumpah serapah Eisnteina.
__ADS_1