
Selepas maghrib Einsteina bersama Billy, Kakek Sutisan dan Bang Damar mulai sibuk oleh perpindahan anak-anak dari sebuah bangunan bekas gedung tua menuju Rumah Baca yang sesungguhnya dengan menggunakan mobil bak terbuka milik Pak RT. Rumah berlantai satu yang di kelilingi pagar besi setinggi satu meter ini cukup besar untuk menampung tiga puluh anak jalanan yang berhasil di kumpulkan oleh Kakek Sutisna, dengan halaman berumput hijau segar yang tampak lapang sudah di lengkapi dengan arena bermain, mulai dari lapangan sepak bola dengan sebuah gawang di masing-masing sisinya yang terletak di samping bangunan hingga meja-meja panjang beserta kursinya di halaman depan yang akan di gunakan sebagai kelas outdoor.
Sebuah pos satpam juga sudah di huni oleh sorang pria berperut buncit yang tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka. Tiga orang wanita paruh baya keluar dari rumah turut menyambut mereka dengan hangat. Mereka adalah orang-orang yang akan mengurus segala kebutuhan anak-anak. Lolita benar-benar sudah mempersiapkan segalanya jauh sebelum mereka datang. Einsteina tersenyum sendiri mengingat jasa sahabatnya itu.
"Selamat datang, Pak Sutisna dan teman-teman. Saya Karimah, panggil saja Mak Imah. Saya ditugaskan Neng Loli untuk mengurus segala kebutuhan anak-anak bersama dua rekan saya Nunung dan Sutiyah." Ujarnya sambil menjabat tangan kami satu per satu.
Lalu anak-anak di giring ke sebuah ruangan yang sangat luas yang terdapat ranjang-ranjang bertingkat dan juga lemari pakaian. Ruangan tersebut adalah kamar mereka yang sengaja di buat jadi satu agar memudahkan pengawasan. Anak-anak tampak riang berebut menempati ranjang , saat masing-masing sudah kebagian mereka langsung rebahan dengan bahagia. Hari sudah menjelang malam, hingga Einsteina bersama Billy pamit undur diri. Menyisakan Kakek Sutisna dan Bang Damar yang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasihnya untuk Neng Lolita kepada Mak Imah dan dua orang rekannya.
****
Derai tawa keluar dari mulut Einsteina yang penuh dengan kunyahan makanan, saat layar televisi 24 inc di depannya menayangkan para Minion tengah berebut masuk ke ruangan Gru dengan membawa alat pemadam kebakaran begitu alarm tanda kebakaran berbunyi, membuat Maya yang tengah selonjoran di bawahnya sambil membaca komik Doremon itu menoleh jijik seraya memandang bajunya yang kena muncratan makanan dari mulut majikannya.
"Dih, Ina jorok banget sih." Protes Maya sambil menepis remah-remah makanan bercampur ludah dari bajunya.
Einsteina hanya nyengir tanpa dosa, kemudian dengan santainya ia kembali meraup keripik kentang dari wadahnya dan memasukkan ke dalam mulutnya banyak-banyak.
"Ahnthi fiyem ih." Ucapnya disela-sela kunyahannya. Maya mengernyit bingung, mencoba mencerna ucapan majikannya itu.
"Ina ngomong apaan sih, Maya gak ngerti. Telan dulu baru ngomong, jadi cewek kok jorok banget." Einsteina buru-buru menelan makanan dalam mulutnya walau masih beberapa kunyahan. Glek, alamak rasanya menusuk tenggorokan. Sakit. Kemudian buru-buru diraihnya air putih di atas meja dan diteguknya sekali tegukan, menimbulkan bunyi gluk yang tak enak didengar. Kedua alis Maya berkerut semakin dalam melihat tingkah majikan sekaligus sahabatnya itu yang jauh dari kata anggun.
__ADS_1
"Ganti film, dodol. Gue udahan, gantian lo sana. Tonton sinetron fevorit lo itu, Aauuuu." Katanya sambil menirukan adegan harimau mengaum di salah satu scene pada tayangan tersebut. Dengan sumpringah Maya meraih remote televisi untuk mengganti tontonan kartun koleksi Einsteina.
"Heran deh, gue. Sinetron alay gak bermutu gitu ditonton tiap hari, udah pemainnya jelek semua, alurnya gak jelas, inti ceritanya juga gak tau apa. Mendingan juga nonton koleksi film gue, tuh Upin&Ipin, Doraemon atau Tom&Jerry. Ya ampun gue seneng banget liat Jerry ngerjain si Tom, kalo liat itu gue jadi ngebayangin lagi ngerjain Albert sama Bulbul. Ngebayangin muka kesel Albert sambil bawa-bawa sandal bakyak punya Eyang Putri, buat dilempar ke gue blablabla..."
Maya pura-pura budhek, sudah kebal dengan semua rentetan kalimat yang akan dikeluarkan Einsteina, tiap kali ia nonton sinetron kesukaannya. Einsteina pasti mencibir setiap kali Maya mengelu-elukan Babang Amar Zoni yang tampak macho saat memeragakan adegan silat, atau Mamas Samuel Zilgwyn yang teramat ganteng. Biarpun Maya membela kedua idolanya sampai mulut berbusa, Einsteina akan terus mencela tanpa ada habisnya.
Huh, dasar nenek lampir cantik! Selera Einsteina kan aktor luar negeri yang namanya saja susah dieja oleh lidah Maya. Seperti itu siapa yang namanya mirip-mirip tetangga depan rumah yang barusan di kait-kaitkan sama Tom&jerry, yang dulu menjadi teman bermain Einstein waktu kecil, tapi sekarang rumah itu sudah berganti pemilik. Entah dimana mereka sekarang. Namanya Albert, orangnya ganteng seganteng aktor yang selalu dipuji-puji sama si nenek lampir cantik itu. Namanya Robert Pattinson, pattinggengah atau entahlah siapa pokoknya mirip-mirip seperti itu.
Tapi meski mulutnya nyinyir Einsteina selalu membiarkan Maya menonton sinetron favoritnya. Buktinya, Einsteina buru-buru minta Maya mengganti film kesukaannya walau belum selesai ditoton. Karena dia tahu jam sekian sudah waktunya tontonan fovorit Maya tayang.
Kebiasaan nonton bareng seperti ini sudah menjadi tradisi mereka berdua sejak kecil. Dimana Maya akan menunggu sinetron favoritnya tayang sambil membolak-balikan majalah atau apa saja koleksi Einsteina yang tersebar di sekitarnya. Sementara Einsteina sendiri akan menoton koleksi dvd kartunnya yang menumpuk. Lalu begitu waktunya sinetron kesukaan Maya tayang Einsteina akan menyetop tontonannya dan mereka akan bergantian menonton. Begitu sejak mereka masih kanak-kanak.
Majikan sekaligus sahabatnya tersebut tingkah dengan wajahnya berbanding terbalik. Einsteina sangat cantik, darah Amerika mengalir dalam tubuhnya. Mamanya adalah dara asal Amerika yang sangat jelita. Ia mualaf dan mengganti namanya menjadi Atina Salsabila lalu menikah dengan Om Lukman dan menetap menjadi WNI. Tapi jangan berani-berani menyebut nama Mamanya di depan Einsteina, kalau tidak ingin bernasib seperti samsak di sudut ruangan. Bedanya samsak tidak memiliki tulang yang dapat remuk oleh tinjunya. Karena Einsteina sangat alergi terhadap sang Mama, entah mengapa Maya juga tidak tahu permasalahannya.
Sedangkan Papanya, Lukman Al Hakim Hadiningrat atau biasa dipangil duda sexy oleh si sableng Einsteina. Sesuai namanya, Om Lukman adalah keturunan ningrat. Romo Abdurrahman Hadiningrat adalah keturunan bangsawan di Jogja.
Om Lukman bertemu dengan Tante Atina di Amerika, saat beliau masih menempuh pendidikan S2 di California. Entah bagaimana ceritanya hingga keduanya menikah dan memiliki anak sableng macam Einsteina, kemudian berpisah saat usia Einsteina baru beberapa hari. Tentu saja Maya tahu, karena menurut cerita Mak Jum sebelum di asuh oleh Umi Salamah Einsteina selalu di asuh oleh Mak Jum setiap kali Om Lukman menitipkannya pada Eyang Aisyah di Jogja, saat itu Mak Jum masih bekerja untuk Eyang Aisyah.
Sebagai pebisnis yang sangat sukses Om Lukman disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya, Namun sebagai orang tua tunggal ia tetap memprioritaskan putri kecilnya. Beberapa kali ia terpaksa membawa Einsteina bayi ke Jogja, menitipkannya pada kedua orang tuanya yang tinggal di kota tersebut saat ia benar-benar kepepet harus mengurus bisnisnya ke luar negeri yang tidak bisa diwakilkan pada asistennya.
__ADS_1
Om Lukman sangat menyayangi Einsteina sehingga ia tidak bisa mempercayakan siapapun untuk merawat putrinya, kecualiorang tuanya yang tinggal jauh darinya. Pernah sekali saat Om Lukman tengah berada di Singapore, beliau menelepon Eyang Putri menanyakan keadaan Einsteina. Saat Eyang Putri bilang Einsteina agak demam Om Lukman langsung terbang pulang meninggalkan urusan bisnisnya begitu saja. Padahal Einsteina hanya demam biasa.
Hingga suatu hari kemudian saat melihat kerepotan putranya dalam mengurus anak dan bisnis, Eyang Aisyah meminta Einsteina untuk di asuhnya. Namun Umi Salamah, kakak ipar Om Lukman yang baru saja kehilangan anak ke tiganya memohon pada Eyang Aisyah agar Einsteina di asuh olehnya saja. Hingga akhirnya Einsteina berada dalam asuhan Umi Salamah dan Suaminya, Kyai Abdul Fatah hingga usia sebelas tahun.
Lalu setelah tamat Sekolah Dasar, Om Lukman membawa Einsteina ke Jakarta dengan membawa serta Mak Jum atas usul dari Eyang Aisyah beserta suaminya yaitu Pak Langlang yang hingga sekarang menjadi tukang kebun di rumah ini. Maya yang saat itu hanya selisih satu tahun lebih tua dari Einsteina juga turut di bawa.
Maya dan Einsteina tumbuh sama-sama, mereka seperti saudara. Sekolah juga sama-sama sejak taman kanak-kanak. Namun Maya hanya tamat SMP saja karena ia tak lagi mau melanjutkan ke SMA meski Einsteina maupun Om Lukman telah memaksanya. Baginya sudah cukup mengenyam bangku sekolah sampai tamat SMP, ia tidak enak terus-terusan menerima kebaikan Om Lukman. Jadi, selepas SMP ia memutuskan membantu Mak Jum , sang ibunya.
Dengar-dengar, saat kuliah di Amerika dulu Om Lukman ini mengepalai sebuah gank ternama yang ditakuti oleh masyarakat. Tidak heran sih kalau kelakuan itu turun pada anak gadisnya yang super nyebelin ini. Berantem adalah hobi Einsteina, entah sudah berapa kali ia terlibat dalam tawuran, bersama Billy atau Bulbul, sahabatnya di sekolah. Membuat babak belur siapa saja yang berani mengganggunya.
Terakhir kali Maya melihat Om Lukman marah-marah saat kepala sekolah melaporkan tindakan Einsteina yang telah menyebabkan lengan Bobb, kakak kelasnya itu patah. Einsteina menghajar Bobb yang notabenya memiliki badan kekar hasil ngegym tiap minggunya, tanpa ampun. Gadis kerempeng itu begitu marah saat Bobb mengerjainnya dengan mencoba menyentuh payudaranya yang baru mau tumbuh. Sebelum tindakannya kesampaian Bobb sudah terlebih dahulu merasakan enaknya tidur di ranjang rumah sakit akibat patah tulang dan tubuh babak belur.
Beruntung banyak yang menyaksikannya dan tindakan Einsteina dianggap sebagai bentuk pembelaan diri atas tindakan tak senonoh yang dilakukan oleh Bobb, membuat Einsteina di ampuni sehingga tidak di keluarkan dari sekolah.
Di luar semua kelakuan minusnya Einsteina adalah gadis yang sangat baik, sikapnya yang bersahabat, berteman dengan siapa saja tanpa pandang bulu, termasuk dengan Maya yang merupakan anak dari pembantu di rumahnya. Ia juga kerap sekali membantu teman-teman yang kesusahan, tak heran banyak sekali yang menyukainya.
Padahal kalau mau sombong jelas ia punya semua yang pantas untuk disombongkan. Memiliki wajah blasteran yang sangat memesona dengan otak cerdas yang bikin cewek manapun rela bertukar tempat dengannya. Papanya, si Naga Asia, raja kapal dengan kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan, yang uang jajannya sehari bisa dibelikan sepuluh ponsel android milik Maya. Tapi semua itu justru menjadikanya low profile, tidak sombong.
Saat teman-temannya bersaing menonjolkan fashion mereka, Einsteina justru nyaman dengan celana jeans butut dan kaos kedodoran yang sudah usang, ia seolah tidak menyadari kecantikan yang di milikinya. Saat teman-temannya nongkrong di cafe-cafe mahal sambil berburu spot selfie untuk di pamerkan di instagram mereka, ia justru asyik menikmati semangkuk indomie telur dan es susu soda di Warmindo langganannya bersama Billy.
__ADS_1
Selain itu ia juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata walau kadang sering kumat malasnya. Dulu, saat memberi nama Einsteina, Om Lukman berharap anaknya akan secerdas Einstein. Dan harapan itu memang menjadi kenyataan. Maya saja sampai terkagum-kagum oleh daya ingat Einsteina yang seperti punya ingatan fotografis. Tapi yang membuat Maya Heran, banyak yang bilang bahwa Einsteina itu bodoh, termasuk Lolita. Si Neng cantik yang suka main kemari. Nilai-nilai Einsteina juga sering sekali dapat merah. Di situ Maya kadang suka bingung.