Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 15


__ADS_3

Dengan semangat Einsteina menjejalkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Hari ini adalah hari terakhir liburannya bersama Vivian di Jogja.


Hatinya sangat riang mengingat akan segera terbebas dari Eyang putrinya yang sangat menyebalkan dan kembali menjalani aktifitasnya yang normal di Jakarta tanpa perlu merisaukan hukuman apa yang akan diterimanya setelah melakukan kesalahan.


Senyumnya merekah lebar membayangkan akan segera pulang. Namun berbeda dengan Vivian yang tampak melipat pakaian-pakaiannya dengan lesu, seolah berat mengakhiri liburannya yang menurut Einsteina sama sekali tidak berkesan.


"Vi, lo gak papa?" Einsteina yang menyadari sahabatnya hari ini terlalu pendiam tak seperti biasanya pun bertanya. Namun Vivian hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, membuat Einsteina semakin yakin ada sesuatu.


Einsteina menutup resleting kopernya dan menendangnya ke samping, lalu ia berdiri menghampiri Vivian yang masih tengah berkutat dengan kopernya sambil berjongkok di lantai.


"Lo hanya perlu ngomong terus semuanya akan selesai, Vi" Kemudian Einsteina turut berjongkok di depan sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Vivian tahu arti kata-kata yang diucapkan oleh Einsteina. Sejak mereka kecil Einsteina selalu mengucapkan kata-kata demikian saat ia sedang memikirkan sesuatu maupun dalam masalah. Karena apapun yang dipikirkan olehnya, Einsteina pasti yang akan turun menyelesaikannya. Vivian hanya perlu mengatakannya saja.


Hal yang selalu membuatnya merasa dilindungi dan disayangi. Semenjak keluarganya berantakan Vivian merasa tak berharga. Rasa percaya dirinya jatuh ke titik terendah. Teman-temannya menjauh satu per satu, tak ada seorangpun yang mau melihat penderitaannya.


Mereka tinggal berpindah-pindah tak tentu arah. Terlebih lagi setelah kematian ibunya, Vivian merasa semakin putus asa. Hanya Albertlah satu-satunya yang menjadi tumpuan hidup Vivian, satu-satunya pula alasan Vivian untuk tidak mengakhiri hidupnya sendiri menyusul ibunya.


Disaat keduanya tengah terpuruk itulah Einsteina menemukan mereka setelah berbulan-bulan mereka meninggalkan rumah mewahnya yang disita bank. Dari situ persahabatan mereka tersambung kembali. Apalagi setelah mengetahui tempat tinggal Vivian dengan Albert, Einsteina selalu berkunjung setiap hari bahkan menjadikan rumah kecil yang terletak di gang sempit itu sebagai rumah keduanya.


Setiap pulang sekolah tempat Einsteina pulang bukanlah rumah mewahnya yang di kawasan elit, melainkan tempat tinggal Vivian yang sempit dan pengap, baru ia akan kembali ke rumahnya setelah hari menjelang malam. Tak jarang pula ia menginap dan pulang keesokan harinya.


Vivian sangat menyadari bahwa persahabatannya dengan Einsteina sangat murni tulus, karena hanya Einsteinalah satu-satunya yang peduli dengannya. Meski tingkahnya menyebalkan tapi Vivian sangat tahu sahabatnya adalah malaikat berwujud manusia menyebalkan. Tak hanya dengan Vivian, Einsteina selalu baik pada setiap orang. Hanya saja kebaikannya tidak ia tunjukkan. Ia menolong sesamanya tanpa orang lain tahu, ia juga suka membantu teman-temannya yang kesulitan dalam hal apapun meski harus lewat perantara orang lain.

__ADS_1


Vivian sangat tahu sekali karakter sahabatnya itu melebihi Lolita, sahabat mereka yang satunya. Banyak sekali kelebihan yang dimiliki Einsteina yang bahkan orang tuanya sendiri tak tahu, tapi lagi-lagi Einsteina tak pernah menunjukkannya.


Pernah suatu hari Vivian memergoki Einsteina mengisi seluruh LKS matematika miliknya dari halaman pertama hingga akhir, dan ketika mata pelajaran tersebut di ujikan hasilnya sangat mencengangkan, tak ada satupun yang salah. Vivian yang terkenal pintar saja tidak mungkin mengerjakannya tanpa salah. Hal itu membuat Vivian semakin yakin, bahwa nilai-nilai jeblok Einsteina selama ini mamang disengaja.


Vivian sendiri tidak tahu kenapa Einsteina harus mengorbankan segalanya hanya untuk terlihat buruk. Vivian yakin ada alasan mengapa sahabatnya berbuat demikian meski hingga saat ini ia sendiri tidak tahu apa, karena pada saat pertama kali mereka bertemu Einsteina adalah gadis yang manis. Hanya dalam waktu tak sampai satu tahun ia berubah menjadi gadis barbar yang hobi sekali berantem, suka menyontek dan membuat keributan di kelas. Tapi apapun alasan Einsteina Vivian akan selalu memahaminya. Janjinya dalam hati.


"Vi?" Vivian segera tersadar dari lamunannya dan mendapatinya sahabatnya itu tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Softlense hitam yang membuat mata Einsteina tampak misterius itu kembali menigingatkan Vivian bahwa Einsteina menutup mata indahnya hanya karena tak mau membuatnya terluka. Ya, Tuhan sebaik itulah Einsteina. Vivian nyaris menangis kalau saja Einsteina tidak mengangkat dagunya agar menatap matanya.


"Gu-guea gak pengen balik, Na." katanya tersendat.


"Kenapa, lo betah di sini?"

__ADS_1


"Gue ngerasa nyaman, setiap pagi diem-diem dengerin para santri ngaji, dzikir. Gue juga pengen belajar seperti mereka, gue pengen berubah, Na. Di sini gue ngerasa tentram, sejenak gue bisa lupa sama dendam gue dan hidup tenang. Di sini gue ngerasa punya keluarga, ada Eyang yang bakal ngehukum kesalahan gue, gue juga seneng banget sama belaian Umi. Gue belum pengen balik, Na. gue..."


"Sstt, sudah." Einsteina memeluk sahabatnya dan membelai punggungnya membiarkan Vivian menangis sepuasnya.


__ADS_2