
Nggak mau, bleeww." Fikri menjulurkan lidahnya mengejek setelah berhasil melepaskan diri dari Einsteina yang sudah mirip dengan kalajengking betina. Namun Einsteina tak mau melepaskan kakaknya begitu saja, dan terjadilah kejar-kejaran disertai tawa Fikri dan sumpah serapah Eisnteina.
Sementara itu di ruang tamu, Romo Abdurrahman, Kyai Abdul Fatah, dan Gus Hasan terlibat pembicaraan serius.
"Dulu, saat Khadijah berumur sepuluh tahun, Kang Jalal meminta Abah untuk menjodohkannya denganmu. Tapi putri Abah tidak hanya Khadijah, Nak Hasan. Untuk itulah supaya adil Abah ingin kamu memilihnya sendiri salah satu dari mereka." Ujar Kyai Abdul Fatah yang membuat Gus Hasn heran. Setahu Gus Hasan Kyai Abdul Fatah hanya memiliki dua orang anak yang masih hidup yaitu Fikri dan Khadijah, gadis hitam manis yang mengabdi menjadi khadimah di rumahnya. Khadijah memang sempat memiliki seorang adik perempuan namun meninggal dunia saat berusia tiga bulan.
Namun begitu Gus Hasan tidak membantah apapun, baginya siapapun pilihan yang diberikan oleh Kyai Abdul Fatah adalah selalu yang terbaik.
"Namun, cucu Eyang yang paling muda belum genap tujuh belas tahun. Untuk itu Eyang berharap Nak Hasan mau bersabar menunggunya genap tujuh belas tahun. Tak akan lama, hanya sekitar enam bulan lagi. Apakah Nak Hasan bersedia?" tanya Romo Abdurrahman yang lagi-lagi membuatnya bimbang. Tujuh belas tahun, apakah tidak terlalu muda untuknya. Namun ia hanya mengangguk mengiyakan. Ia yakin pilihan dari orang-orang yang dihormatinya ini tak pernah salah.
"Tentu, Eyang saya bersedia. Saya percayakan semuanya pada Eyang maupun Abah." Ujarnya mantap. Kyai Abdul Fatah maupun Romo Abdurrahman tersenyum lega.
"Baik, Eyang rasa pembicaraan ini sudah selesai. Nak Hasan sebaiknya kita makan malam dulu saja."
Ketiganya beranjak menuju sebuah pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah yang sangat luas menuju meja makan yang tampak Nyai Salamah sibuk menata hidangan di atas meja dengan delapan kursi yang mengelilinginya, beberapa santri tengah hilir mudik membantunya. Tak lama kemudian semuanya masuk ke dapur saat Kyai Abdul Fatah, Romo Abdurrahman dan Gus Hasan tiba menyisakan Nyai Salamah yang tersenyum hangat menyambutnya.
Ketiganya duduk bersisian. Kemudian pria tampan bernama Lukman yang pernah dikenalkan pada Gus Hasan sebagai adik kandung Kyai Abdul Fatah saat takziah ke rumahnya itu turut bergabung. Gus Hasan menatap bermacam-macam hidangan di depannya yang tampak menggugah selera.
"Ini pindang patinnya kok beda rasanya, Umi. Tidak seperti biasanya?" tanya Kyai Abdul Fatah kepada istrinya yang tengah menghidangkan semangkuk sambal goreng.
__ADS_1
"Yang masak bukan Umi, Bah. Itu buatannya si Ina." Jawab Umi salamah seraya tersenyum. Lukman yang tengah meneguk air putih dari gelasnya tersedak tiba-tiba.
"Mbakyu jangan bercanda, bocah selengekan macem Ina mana mungkin bisa masak seenak ini." Lukman mengunyah pindang patin dalam mulutnya sambil memejamkan mata. Benar-benar enak.
"Lha kok ndak percaya, Ini sambalnya juga buatan anak itu. Kamu sih, bakat anak sendiri kok ndak tau."
"Eyang pernah dibuatkan bubur sumsum sama Ina saat sedang sakit gigi, dan memang enak sekali masakannya." Tambah Romo Abdurrahman membenarkan.
Lalu semuanya terdiam menekuri isi piring masing-masing, menikmati masakan yang memang sangat enak. Gus Hasan sendiri belum pernah merasakan masakan pindang patin seenak ini. Siapapun Ina yang disebut-sebut tadi, Gus Hasan yakin ia pasti wanita yang luar biasa pandai memasak.
Keheningan tersebut tak berlangsung lama, Karena tak lama kemudia teriakan Eyang Aiyah memecah keheningan tersebut. Membuat semua kepala menoleh mencari sumber suara.
"Aaww sakit, Eyang!"
"Bocah sepertimu memang pantas dijewer. Kamu apakan Kakakmu, ha!" teriakan-teriakan masih terus terdengar sampai ke meja makan. Romo Abdurrahman menghela napas panjang.
"Anak itu bikin masalah lagi sepertinya." Katanya kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. Sementara Kyai Abdul Fatah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Gus Hasan yang tak mengerti sama sekali hanya diam.Tak lama kemudian Lukman kembali ke meja makan diikuti oleh Fikri yang tampak lemas.
"Ada apa lagi, Man?" tanya Kyai Abdul Fatah begitu mereka duduk.
__ADS_1
"Ina mengikat Fikri di tiang ranjang dan menggelitiknya sampai Fikri kehabisan tenaga. Lihat, sampai lemas begitu." Jawab Lukman menunjuk keponakannya yang duduk di sebelahnya dengan dagu.
"Memangnya apa yang kamu lakukan padanya, Nak?" kali ini Romo Abdurrahman yang bertanya.
"Memanggil nama belakangnya, Eyang. Dia marah-marah."
"Kamu sama sekali tidak melawan?"
"Tentu saja melawan, Eyang." Jawab Fikri cepat. Tenaganya benar-benar habis.
"Dan kalah sama gadis bertubuh kecil seperti Ina." Cetus Lukman setengah geli.
"Dia memukul leher belakangku dengan jari, Om. Setelah itu tubuhku terasa kaku tidak dapat bergerak. Dari situ Ina menyeret tubuhku dan mengikatnya di tiang ranjang."
"Totok tenaga dalam." Cetus Gus Hasan membuat semuanya menoleh sambil mengernyit. "Itu salah satu jurus yang di ajarkan di dalam dunia persilatan." Lanjutnya.
"Maksudnya Ina menguasai jurus-jurus ilmu persilatan?" kali ini semua mata menatap Lukman dengan tatapan menghakimi, membuat Lukman gelagapan.
"Ina memang belajar bela diri, tapi hanya sebatas Taekwondo saja. Teman baikku yang melatihnya, tentu saja tidak mungkin mengajarkan ilmu tenaga dalam seperti itu." Lukman berusaha membela diri.
__ADS_1
"Lalu dari mana anak itu menguasai ilmu-ilmu seperti itu. Lukman, kamu sepertinya benar-benar harus mengawasi putrimu lebih ketat lagi. Perasaan Eyang tidak enak." Ucapan Romo Abdurahman entah mengapa membuat suasana menjadi lebih tegang.