Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 8


__ADS_3

Malioboro malam hari sangat ramai, para pembeli memenuhi lapak para pedagang yang berjualan di sana. Dengan dikawal oleh Fikri, Einsteina dan Vivian berjalan kesana kemari berburu barang-barang nyeleneh yang menurut Fikri adalah tidak penting. Mulai dari gantungan kunci berbentuk tengkorak, bros dari batok kelapa, kaos-kaos bergambar andong, hingga sandal jepit karakter. Keduanya bahkan memborong jajanan arum manis yang dijual oleh seorang kakek tua di pinggir jalan masuk banteng Vredeburg.


Fikri sebagai pengawal yang kebagian repotnya. Ia harus membawakan belanjaan gadis-gadis tersebut sambil mengikuti keduanya kesana-kemari. Tak lama kemudian ia baru bisa bernapas lega saat Einsteina mengeluh lapar, lalu berjalan mendekati pedagang sate ayam yang sedang jongkok didepan tenggok dan tampah berisi dagangannya, sambil sesekali mengipasi arang di atas pembakarnya dengan menggunakan kipas yang terbuat dari anyaman bambu.


"Dua porsi jadiin satu budhe, pake lontong lima." Ujarnya yang disambut senyum sumpringah budhe penjual sate tersebut, kemudian ia duduk selonjor memperhatikan budhe yang tengah mengipasi sate di atas arang dengan penuh semangat.


"Dua jadiin satu? Terus gue apa dong." Protes Vivian yang sangat mengerti porsi makan Einsteina. Biarpun badan kurus begitu, soal makan porsi Einsteina mengalahkan dirinya, Lolita bahkan Albert. Sampai Vivian heran, kemana larinya setumpuk makanan yang selalu masuk kedalam perut Einsteina, sedangkan tubuh sahabatnya itu sama sekali tak pernah menunjukkan tambahan lemak sedikitpun. Hal yang sangat dicemburui oleh Lolita, sahabat mereka. Gadis paling popular di sekolah yang selalu menjaga porsi makannya dengan ketat agar tetap langsing.


"Ya pesan sendiri dong, emangnya elo mau makan bareng gue. Romantisan gitu." Katanya usil.


"Eneg gue dengernya. Satu porsi lagi budhe." Vivian menirukan panggilan Einsteina pada penjual sate tersebut. "Menyerahkan soal makanan sama elo sama saja gue kudu siap gak kebagian, lo kan rakus." Sambungnya.


"Einsteina itu memelihara naga di dalam perutnya, kalau dirumah saja jatah makanan orang satu rumah mau dihabiskan sendiri." Timpal Fikri yang masih berdiri di samping Einsteina yang tengah duduk selonjor, dengan tangan masih menenteng belanjaan yang didominasi oleh barang-barang milik Vivian. Einsteina kan tidak suka belanja.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Fikri berdering nyaring. Sementara Einsteina dan Vivian menunggu sate mereka, Fikri sibuk mengangkat telepon dengan raut serius.


"Kita harus segera pulang, gadis-gadis. Barusan Abah menelepon, Kyai Jalaludin meninggal dunia. Kita semua harus datang sekarang juga." Fikri berkata setelah sambungan teleponnya terputus.


"Siapa Kyai Jalaludin?" Tanya Einsteina cuek, pesanannya sudah matang. Dengan senang hati ia menerima bungkusan dari kertas minyak berisi tiga puluh tusuk sate ayam dan empat lontong yang diiris-iris, dengan sambal kacang diatasnya yang tampak menggoda untuk segera dinikmatinya.


"Ayahnya Gus Hasan."


"Siapa Gus Hasan?" kali ini Vivian yang bertanya.


"Bayar dulu satenya, Mas!" Seru Einteina, membuat Fikri kembali sambil merogoh saku celananya.


***

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam, akhirnya dua mobil rombongan dari Jogja itu memasuki desa Kembanglimus, kabupaten Magelang. Sebuah mobil Montero putih yang terdiri dari romo Abdurrahman, Kyai Abdul Fatah, Eyang Aisyah, serta Umi Salamah, dengan Fikri sebagai sopirnya tersebut berjalan melewati jalanan yang menanjak menuju gerbang pesantren Al Furqon yang sudah tampak tinggi menjulang dari kejauhan. Sementara itu sebuah Toyota Crown Royal Saloon hitam yang dikendarai oleh Lukman bersama dengan Einsteina dan Vivian tampak berjalan di belakangnya.


Tak disangka, disebuah dataran tinggi dikelilingi oleh alas lebat, serta jalanan sempit yang menanjak ini terdapat bangunan dengan luas hampir dua kali lipatnya dari pesantren Miftahul Ulum. Pemandangan malam hari tampak suram terlihat dari balik kaca mobil sepanjang perjalanan di desa Kembanglimus. Tidak ada penerangan sama sekali, hanya sorot lampu mobil yang menjadi satu-satunya penerang perjalanan. Pepohonan di kiri-kanan tumbuh rapat dan besar-besar dengan belukar liar yang menjalar di sekelilingnya menampah suasana mistis.


Setelah memasuki gerbang pesantren Al Furqon yang dijaga oleh beberapa santri putra, kedua mobil tersebut berhenti tepat di depan kediaman keluarga ndalem yang tampak ramai. Semua turun dari mobil dengan Einsteina berjalan paling belakang sambil terantuk-kantuk.


Suasana duka sangat kental menyelimuti pesantren Al Furqon. Para santri tampak hilir mudik, ada yang mengangkut kursi, memasang lampu-lampu, membawa bak-bak besar persiapan untuk memandikan jenazah, ada juga yang sedang menggelar karpet-karpet lebar. Sebagian tengah membaca tahlil dan yasinan bersama di ruang tamu.


Begitu memasuki halaman keluarga ndalem, Kyai Abdul Fatah, Romo Abdurrahman, Lukman, serta Fikri memisahkan diri dengan berjalan di halaman menuju ruang tamu bergabung bersama para santri yang tengah membaca tahlil, sementara Eyang Aisyah bersama Umi Salamah menggiring Einsteina dan Vivian yang sejak tadi berjalan paling belakang menuju ruang tengah. Ruang tengah ini sangat ramai, sesak oleh para santri putri yang juga tengah membaca tahlil bersama yang dipimpin oleh seorang gadis muda berjilbab ungu.


Kehadiran mereka rupanya memancing perhatian semua yang ada di ruangan tersebut, sebagian besar dari mereka berdiri bersalaman dan mencium tangan Eyang Aisyah dan Umi Salamah dengan takzim. Einsteina yang semula terkantuk-kantuk seketika segar bugar, saat tubuhnya terdesak oleh mereka yang berebut salaman dengan kedua wanita di sampingnya tersebut. Dengan kesal ia meraih tangan Vivian yang juga terdesak oleh mereka, lalu menyeretnya keluar.


Mereka asyik berjalan dalam diam sambil menikmati udara malam yang dingin. Tanpa sadar keduanya sudah berada di halaman samping yang rindang oleh pepohonan. Halaman luas yang menjadi jarak antara ndalem almarhum Kyai Jalaludin dengan asrama pondok putri itu tampak temaram, penerangannya hanya berasal dari sorot lampu dari jendela kaca ruang tamu yang membentang besar tanpa tertutup gorden. Tiba-tiba langkah Einsteina terhenti, mulutnya ternganga saat matanya menangkap sosok di dalam sana. Vivian yang berada di sampingnya mengernyit heran, kemudian matanya mengikuti tatapan Einsteina. Di dalam ruang tamu sosok berkoko putih yang sedang mempersilakan Kyai Abdul Fatah beserta keluarganya dengan wajah tampak muram.

__ADS_1


Hanya Tuhan dan Einsteina yang tahu, bahwa sosok itulah yang selama ini menghampiri mimpi-mimpi Einsteina.


__ADS_2