
"Na, gue nyerah!" teriak Lolita begitu memasuki putaran ke lima. Peluh sudah bercucuran disekitar wajahnya, kemudian ia selonjor begitu saja di jalan membuat Einsteina seketika menghentikan larinya.
"Baru juga mau lima putaran, lo keliatan banget gak niat jogging." Gerutu Einsteina sambil berjalan menghampiri sahabatnya yang tengah mengatur napasnya yang ngos-ngosan itu.
"Gue kan emang gak niat mau jogging." Ujarnya sambil memijat betisnya.
"Terus ngapain semalem ribut ngajakin kesini. Jangan-jangan lo lagi mau pedekate sama cowok lagi." Tebak Einsteina membuat Lolita nyengir.
"Lo liat, deh." Tunjuknya pada seorang cowok yang sedang berlari bersama dengan anjing pudelnya yang lucu. Einsteina mengerutkan kening mengamati cowok yang dimaksud oleh Lolita. "Lihat, keren banget kalo lagi keringetan gitu. Ya ampun, semalem gue gak sabar buat kesini. Dia tiap Minggu selalu jogging disini."
"Rendi? Tau darimana?" Tanya Einsteina sambil ikut selonjoran disamping Lolita.
"Kepoin IG dia dong. Ah sial, muka gue ancur banget. Udah ah, gue samperin dia dulu." Ujarnya sambil bangkit meninggalkan Einsteina begitu saja.
Sambil menggerutu Einsteina bangun dari selonjorannya dan kembali berlari menyusul Lukman yang tampak sudah jauh.
"Lolita mana?" Tanya Lukman begitu menoleh ke belakang hanya mendapati putrinya.
"Tuh," tunjuknya dengan dagunya, "Dia ngajakin ke sini niatnya Cuma mau tepe-tepe doang." Sungut Einsteina sambil menyejajari langkah papanya.
"Tepe?" Lukman mengernyit bingung.
"Tebar pesona, pa."
"Hm, anaknya ganteng. Pinter juga si Loli pilih cowok." Ujar Lukman dengan tatapan tak lepas dari mereka yang tengah asyik ngobrol dipinggir lapangan.
Setelah putaran ke sepuluh, Einsteina berhenti berlari. Ia celingukan mencari Lolita yang sudah tak lagi kelihatan batang hidungnya. Kemudian matanya menangkap sahabatnya itu tengah duduk di tenda bubur ayam menikmati semangkuk bubur ayam. Bergegas Einsteina menghampirinya.
"Udahan tepenya?" ujar Einsteina setelah memesan seporsi bubur ayam, seraya menghempaskan pantatnya pada sebuah kursi plastik di seberang meja, berhadapan dengan Lolita.
"Ah seneng banget gue, Na. Si Rendi lusa tanding lawan anak Nusantara, dia bilang gue wajib nonton. Ya ampun, akhirnya si ganteng itu luluh juga sama pesona gue." Pekik Lolita gembira. Einsteina hanya mengedikkan bahu acuh sambil mulai menyuap bubur ayamnya yang baru saja dihidangkan.
Sahabatnya ini memang sudah hampir satu bulan pedekate dengan Rendi, cowok terkeren di sekolah mereka. Rendi adalah kapten basket yang diidolakan cewek seantero sekolah, bahkan ketenarannya sudah sampai ke sekolah-sekolah tetangga, sehingga diperebutkan oleh banyak cewek adalah hal biasa baginya, bahkan ketika seorang Lolita Prajabuana yang notabenya adalah gadis paling populer di sekolah, mendekatinya tak membuat Rendi seketika menoleh kearahnya. Hal itu membuat Lolita yang sudah terbiasa mendapatkan cowok manapun dengan mudah, kelimpungan.
Berbagai macam cara dilakukannya untuk mengejar sang pujaan, termasuk memaksa sahabatnya ikut jogging pagi, hanya agar bias bertemu Rendi.
Tempat tinggal Rendi masih satu kompleks dengan Einsteina, namun hal itu tidak membuat Einsteina akrab dengannya. Rendi tipe cowok sombong yang tak sembarangan bergaul. Sedangkan Einsteina tipe pembenci orang yang suka membeda-bedakan teman, sehingga meski bertemu hampir setiap hari keduanya sama sekali tak pernah bertegur sapa.
"Napa lo pake softlens, sih. Cantikan mata lo yang asli deh." Tanya Lolita tiba-tiba membuat Einsteina menghentikan suapannya seketika.
"Karena gue benci warna biru." Ujarnya sambil menyesap teh hangatnya pelan.
"Gue aja rela tuker tempat sama lo cuma karena pengen punya mata biru cantik kayak lo. Lah elo yang dikaruniai mata bagus gitu malah ditutup pake softlens. Lepas gih." Lolita bangkit dari kursinya dan mengangkat dagu Einsteina dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bersiap mengarah ke mata Einsteina.
"Lo apaan sih. Woi lepas gak, gila lo ntar dikira gue lagi mesra-mesraan sama lo." Einteina mencoba melepaskan cengkraman di dagunya, tapi Lolita tetap mempertahankan posisinya.
__ADS_1
"Bodo amat. Kapan lo mau keliatan cantik kalo kecantikan lo sebenarnya lo tutup-tutupin gak jelas gini."
"Hallo gadis-gadis, ada apa ini?" Lukman muncul disaat yang tepat. Einsteina buru-buru melepaskan cengkraman Lolita di dagunya selagi Lolita lengah dengan kemunculan papanya.
"Ina nih, om. Punya mata cantik gitu malah ditutup pake softlens, kapan mau dapat pacar kalo tiap hari penampilannya acak-acakan gitu. Pantesan aja lo gak laku-laku."
"Enak aja, biar begini rupa gue, selera gue tinggi.."
"Iya tau, Robert Pattinson." Potong Lolita gemas. "Please deh ya, keburu elo jadi nenek-nenek keriput kalo nungguin Robert Pattinson ngelirik lo. Sekelas Kristen Stewart aja ditinggalin apalagi yang jelek kayak elo. Udah ah, sini gue lepasin softlens jelek lo. Mata lo tuh cantik banget tau gak sih." Lolita kembali berusaha menjangkau wajah Einsteina, namun pemiliknya segera berkelit.
"Lo apaan sih, udah gue bilang gue gak suka warna biru. Gue lebih suka warna hitam." Einsteina terus berkelit dari jangkauan Lolita.
"Halah alasan aja lo. masak tiap hari kemana-mana pake softlense mulu, sesekali tunjukin pesona lo dong."
"Sudah-sudah, masak dari tadi papa dicuekin. Buburnya satu bang!" ujar Lukman pada si abang penjual bubur ayam yang kemudian dibalas anggukan serta senyum sumpringah olehnya. Tambah lagi rejeki hari ini, laris manis, batinnya gembira.
"Uh, ini nih anak om. Dibilangin susah banget. Ina itu sebenernya cantik banget, tapi sayang liat deh penampilannya berantakan banget."
"Entar kalo gue cantik bukannya elo yang rugi, predikat cewek cantik terpopuler bakal kegeser."
"Gue rela punya saingan baru deh, asal lo bisa segera punya pacar. Masak gue udah ganti pacar berkali-kali, lo satupun belum pernah. Sebagai sahabat yang baik gue ngerasa prihatin tau."
"Tuh dengerin temenmu ngomong, Na. sekali-kali tampil seperti perempuan, biar kelihatan cantik." Komentar Lukman sambil mengaduk teh hangat yang baru saja disajikan oleh si abang tukang bubur.
"Emang selama ini Ina bukan perempuan gitu, pa." gerutunya sebal.
"Iyalah, kalau ada yang gangguin kamu main hajar, gebuk sana gebuk sini. Jauh banget sama tingkah perempuan kebanyakan." Lanjut Lukman tak mau kalah.
"Olok aja terus, kalian mainnya keroyokan. Satu lawan satu berani gak?" Einateina mendengus kesal melihat keduanya justru tertawa.
"Ya ampun, jangan ngambek dong beb. Eh tapi beneran deh, lo kenapa sih. Kalo gue perhatiin kayaknya gak suka banget orang lain liat mata asli lo?"
"Udah berapa kali gue bilang, gue gak suka warna biru." Einsteina menyendok bubur ayamnya banyak-banyak kemudian menjejalkannya ke dalam mulut.
"Gue gak percaya. Ada alasan lain?" Lolita memincingkan mata curiga. Dari ekor matanya Einsteina melihat tangan papanya mencengkeram sendok dengan erat. Kesempatan gue, batin Einsteina.
"Ada." Lolita menyingkirkan mangkuk buburnya yang tampak masih penuh, ia menatap sahabat yang duduk di depannya itu dengan penuh minat. "Kasih tau gue, jangan coba-coba nyembunyiin sesuatu dari gue." Ancamnya dengan wajah dibuat –buat. Di samping Einsteina, tanpa diketahui oleh Lolita jantung Lukman berdebar menanti jawaban dari putrinya.
"Mata biru ngingetin gue sama Victoria Alexander, dia juga punya warna mata biru. Gue benci setengah mati sama dia." Ujarnya santai, sesekali matanya melirik papanya yang diam menikmati bubur ayamnya. Einsteina tau, papanya mendengarkan dengan jelas setiap ucapannya.
"What? Kayak lo kenal model cantik itu aja. punya dendam pribadi lo sama dia?"
"Gue gak kenal dan juga gak sudi kenal. Dia itu wanita ular yang menjijikkan. Lo tau kan kehidupan Vivian yang hancur gara-gara papa tirinya?"
"Jangan bilang kalo Victoria Alexander adalah orang ketiga yang selama ini diceritain sama Vivian?"
__ADS_1
"Tepat sekali. Wanita penggoda yang menyebabkan banyak orang menderita." Einsteina menyentilkan ujung jarinya membenarkan ucapan Lolita.
"Ya ampun, gue bener-bener gak nyangka. Tapi lo tau gak, akhir-akhir ini banyak banget berita miring tentang Victoria Alexander, semenjak papa bawa lukisan-lukisan karya ER. Jannah. Papa bilang pelukisnya seolah mau nunjukin sesuatu yang disembunyiin sama Victoria Alexander."
"Gue setuju. Dia itu kayak nyimpen banyak rahasia busuk gitu. Gue sempet baca di media online, katanya si Victoria itu pernah nikah dan punya anak, tapi mereka ditinggalin gitu aja karena suaminya itu bukan dari golongan orang kaya. Gila banget, kan." Einsteina melirik papanya yang tiba-tiba tersedak bubur yang sedang dinikmatinya. Tapi ia pura-pura mengacuhkannya.
"Pelan-pelan, om. Minum dulu." Lolita buru-buru menyodorkan teh hangat dan tissue yang ditariknya dari kotak dihadapannya. Sebelum kemudian melanjutkan, "Bener banget, gue juga baca yang itu. Terus sekarang tunangan sama pengusaha kaya raya yang notabenya adalah papa tirinya Vivian. Gue kok makin gak respect sama dia, padahal dulu gue ngefans banget. Kasihan banget anak sama suaminya ditinggalin gitu aja. Wajar Vivian sampe histeris gitu waktu tau bokap tirinya tunangan sama dia. Gue yang cuma denger ceritanya aja geregetan banget pengen nimpuk pake botol air mineral."
"Wajarlah, gue aja ikut-ikutan marah, apalagi Vivian. lo udah liat kan, sketsa yang dibikin Vivian yang waktu itu gue tunjukin ke om Adrian?"
"Udah, papa bilang sktetsa buatan Vivian menggambarkan kebencian yang sangat. Gue gak habis pikir, kalo gue yang ada dipihak Vivian mungkin gue gak akan sekuat dia. Tante Lidya aja sampe nekat gantung diri. Miris banget." Lolita berdecak prihatin.
"Gue juga sempet baca, katanya waktu muda dulu sebelum jadi model, Victoria Alexander itu gadis gelandangan yang diusir dari rumah sama ibu tirinya. Terus dipungut sama suaminya yang dulu ditinggalin. Kesannya gak tau diri banget, kan. Kalo gue ada di posisi suaminya, gue pulangin dia ke Amrik, balikin jadi gelandangan." Einsteina menyeringai sinis, melihat rahang papanya yang menegang. Ia memang sengaja melakukannya untuk membuat papanya sadar. Wanita ular itu tidak pantas mendapatkan ketulusan cinta dari papanya.
Lukman memang hanya diam tidak ikut mengomentari kedua remaja itu menggosip, tapi ia mendengarkan semua obrolan mereka dengan seksama. Sekarang ketakutannya terbukti, Einsteina sangat membenci wanita yang dicintainya.
"Masak sih, kalo yang itu gue belum baca. Mana, mana. Gue minta linknya dong."
"Sudah cukup acara menggosipnya, gadis-gadis. Habiskan makanan kalian, setelah itu pulang. Sudah siang." Tegur Lukman sambil tetap mencoba menghabiskan makanan di depannya, meski ia sudah kehilangan selera makannya sejak mengikuti obrolan putrinya dengan Lolita. Tapi ia mencoba menyembunyikan raut mukanya agar tetap tenang, saat mendengar pengakuan Einsteina.
"Lukman? Wah, tumben banget pagi-pagi udah disini." seorang wanita memakai kaos ketat dengan celana olahraga yang membungkus paha seksinya hingga lutut, menghampiri meja mereka. ketiganya menoleh serentak.
"Hallo, Deswita. Nemenin anak jogging, nih." Ujarnya sambil menunjuk ke arah Einsteina dan Lolita dengan dagunya.
"Hallo Einsteina, yang ini pasti temannya. Tante boleh bergabung, kan?" sapa wanita yang dipanggil Deswita itu seraya duduk di depan Lukman yang masih kosong. Tante Deswita adalah tetangga mereka, pemilik rumah yang paling ujung. Einsteina bisa merasakan sepakan Lolita pada kakinya di bawah meja.
"Oh tentu, kita juga sudah hampir selesai kok." Ujar Einsteina menyendok suapan terakhirnya, yang langsung diserang kembali dengan sepakan kaki Lolita, kali ini lebih keras. Membuatnya melotot kesal. Lolita justru memberinya tatapan gemas.
"Bang, minta tambah buburnya satu lagi." Teriak Lolita membuat Einsteina mengernyit heran.
"Mangkuk lo masih penuh gitu, buat apa nambah lagi?"
"Udah dingin, gak enak." Jawabnya asal. Namun begitu pesanannya datang, Lolita langsung pura-pura mengangkat teleponnya dengan panik.
"Ya ampun, gue ada janji sama Rendi, Na. Duh, om buburnya buat om Lukman aja ya. Dihabisin ya, om daripada mubazir. Ayo, Na. temenin gue." Lolita buru-buru menarik Einsteina dari duduknya dan menyeretnya menjauh dari tenda bubur ayam, mengabaikan protes Lukman yang ditinggalkannya bersama dengan tante Deswita.
"Lo apa-apaan sih, pake seret-seret gue gini." Gerutu Einsteina mencoba melepaskan cekalan tangan Lolita.
"Katanya lo pengen banget punya mama tiri. Kasih kesempatan dong buat om Duda biar bisa deket sama cewek." Jawabnya enteng.
"Jadi, bubur tadi cuma alasan doang biar papa bisa lebih lama bareng tente Deswita?" Einsteina sudah mulai menduga akal bulus sahabatnya itu.
"Ya iyalah, ya masa gue harus ngabisin dua mangkuk bubur. Bisa melar tubuh langsing gue."
"Kadang otak lo pinter juga sih." Einsteina tersenyum sambil menjitak kepala Lolita, yang disambut pekikan kesal pemiliknya.
__ADS_1
Lolita berniat membalas kelakuan Einsteina, namun dengan gesit Einsteina berkelit, dan terjadilah kejar-kejaran ala Tom&Jerry disertai gelak tawa dari Einsteina dan pekikan kesal oleh Lolita.
Sudah saatnya papa harus melupakan wanita ular itu. Batin Einsteina disela-sela tawanya bersama Lolita.