Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 11


__ADS_3

Einsteina membanting tubuhnya di atas ranjang bertingkat yang paling bawah seraya melepas kerudung serta cadar yang menutupi wajahnya dengan tidak sabar, kemudian melemparkannya ke sembarang tempat dan tampaklah wajah cemberutnya yang kata Lukman sangat menggemaskan itu tengah merona, hal yang sangat jarang terjadi pada Einsteina membuat Khadijah yang berdiri di samping tempat tidur tempat Einsteina berbaring tersebut dibuat heran melihatnya.


"Lo kenapa sih, Na. Muka lo macem kepiting rebus gitu?" tanya Vivian yang sejak tadi duduk di atas ranjang memperhatikan sebelah pipi Einsteina dari samping sambil mengunyah keripik tempe buatan Khadijah.


"Panas make tuh kain." Jawabnya sambil menunjuk seonggok kain didekat kakinya.


"Ah masa, ini pedesaan lho. Sejuk gini kok bisa sampai kepanasan sih." Sahut Khadijah membuat Einsteina salah tingkah. Ia memang merasa malu saat sepasang mata bertemu pandang dengan dirinya, sepasang mata milik orang yang sama yaitu milik seorang pria yang ditemuinya di dalam bus setahun yang lalu. Einsteina tidak mungkin lupa, mata yang memancarkan ketegasan namun juga kelembutan yang sempat mewarnai mimpi-mimpinya. Mata itu pulalah yang terpana tanpa kedip saat tatapan mereka bertemu tadi. Einsteina sama sekali tidak merasakan jantungnya berdebar saat melihatnya, hanya saja entah mengapa ia merasa malu. Hal yang baru pertama kali ini dirasakannya, karena biasanya Einsteina tak pernah sedikitpun punya rasa malu saat berhadapan dengan lawan jenisnya, sikapnya kadang justru malu-maluin malah.


Awalnya Einsteina hanya takut Vivian akan melihat wajahnya saat tanpa memakai softlense, sehingga ia mengikuti begitu saja saran dari Khadijah untuk memakai cadar. Namun karena ia bersama Vivian kemana-mana sehingga tak bisa melepas cadarnya begitu saja. Karena alasan tertentu Einsteina tak mau menampakkan matanya yang berwarna biru itu kepada sahabatnya, meski saat awal kenal Vivian Einsteina sempat bermain bersamanya tanpa memakai softlense. Namun kini semuanya sudah berubah, ia hanya tak ingin melukai sahabatnya lebih dalam lagi, menambah luka Vivian yang selama ini membuatnya terus didera rasa bersalah.


Hanya Khadijah satu-satunya orang di dunia ini yang mengerti alasannya dan langsung memberinya usul untuk memakai cadar yang akhirnya justru membuatnya bersyukur karena sosok laki-laki bermata tegas nan teduh tersebut tidak dapat melihat wajahnya yang tak tahu malu tiba-tiba terasa panas dan merona hanya karena ditatap olehnya.


Einsteina pura-pura mengabaikan ucapan Khadijah, ia bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Vivian seraya merebut bungkusan kripik tempe dari tangan sahabatnya tersebut dan mencomotnya dengan rakus untuk menutupi sikapnya yang salah tingkah. Namun reaksi Vivian sangat di luar dugaannya. Gadis cantik berambut panjang tersebut ternganga shock dengan mata berkaca-kaca, membuat Einsteina kebingungan. Biasanya Vivian akan merebut kembali apapun yang dirampas oleh Einsteina sambil menggerutu sampai mereka berguling-gulingan. Einsteina menatap bungkusan di tangannya dan Vivian secara bergantian. Pasti ada yang salah.


"Ke--kenapa lo mirip banget sa--sama.." seketika Einsteina menyadari kesalahannya dan terlambat, Vivian sudah melihatnya.


"Ada apa, Vivian?" Khadijah yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, mendekat dan duduk di samping Vivian yang tampak masih terbata-bata hendak mengucapkan beberapa kalimat.


"Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa harus elo sih yang mirip banget sama wanita brengsek itu, Na." ucap Vivian setelah berhasil menguasai rasa kagetnya.


"Vi--"

__ADS_1


"Lo tau, gue benci setengah mati sama dia, kenapa gue harus liat muka dia di muka elo!" seru Vivian membuat Einsteina terdiam. Hal yang ditakutinya terjadi juga. Khadijah yang sudah mengerti sejak dulu buru-buru menimpali.


"Maksud Vivian, Ina mirip sama model cantik Victoria Alexander, ya. Menurut Mbak Dijah juga begitu. Bukankah di dunia ini semua serba kebetulan. Banyak lho yang punya kemiripan meski mereka tidak memiliki ikatan darah."


"Kok Mbak Dijah tau, kalo Ina mirip wanita itu?" Vivian memincingkan mata curiga, bergantian menatap Khadijah dan Einsteina yang tak bergeming sedikitpun. Emosi Vivian memang selalu naik seketika setiap ia membicarakan Victoria Alexander, wanita yang dibencinya sejak ia masih kecil.


"Semua orang yang melihat Ina juga akan berpikir demikian. Lihatlah, mereka memang sangat mirip. Kebetulan selalu ada, Vi. Apapun yang sudah kamu alami, kamu tidak boleh menatap Ina dengan tatapan seperti itu. Biar bagaimanapun Ina adalah sahabatmu, kan." Tutur Khadijah lembut. Vivian terdiam tampak berpikir.


"Mbak Dijah bener. Gue minta maaf, Na. Gak seharusnya gue bersikap kayak gitu ke elo." Vivian menunduk sambil memainkan jari-jarinya tampak menyesal.


"Gak papa." Vivian menoleh menatap Einsteina saat mendengar jawaban singkat sahabatnya itu.


"Gue bener-bener minta maaf, Na. lo gak marah, kan?" tanyanya cemas yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Einsteina.


"Maafin gue, Na, maafin--" Vivian menubruk Einsteina dan memeluknya erat sambil terisak. "--harusnya gue gak boleh mikir negatif ke elo. Lo satu-satunya sahabat yang gue punya, lo juga satu-satunya yang selalu ada buat gue. Maafin gue..." Vivian semakin sesenggukan dalam pelukan Einsteina.


"Udah, udah. Ni baju pinjem punya Mbak Dijah, basah tau. Lo jelek banget kalo nangis." Gerutu Einsteina bercanda seraya mendorong bahu Vivian menjauh dari pelukannya.


"Apaan sih, orang lagi sedih juga." Protes Vivian kembali mendekati Einsteina. Einsteina yang mengira akan dipeluk kembali oleh Vivian buru-buru menghindar, tapi rupanya Vivian tidak membiarkan sahabatnya itu lolos dan terjadilah kejar-kejaran di dalam ruangan yang luasnya tak seberapa itu.


"Vivian jijay taukk!" teriak Einsteina tak dapat menghindar saat Vivian menyusut hidungnya yang berair dengan baju syari yang dipinjamnya dari Khadijah.

__ADS_1


"Bodo amat, biasanya juga elo yang ngupil terus ditempelin ke baju gue. Sekarang gantian." Vivian terkekeh puas tanpa menghiraukan sumpah-serapah dari sahabatnya. Khadijah hanya menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keduanya.


****


Seekor burung merpati putih hinggap di jendela kamar Gus Hasan, merpati cantik tersebut tampak menolehkan kepalanya kesana-kemari sebelum kemudian terbang masuk ke dalam kamar dan bertengger di atas nakas di samping tempat tidur. Mata birunya yang jernih menatap Gus Hasan yang tertidur dengan posisi miring masih dengan pakaian yang digunakan saat pemakaman sang Ayah, sarung kotak-kotak putih serta koko putih dengan motif salur bunga bordir berwarna senada.


Seolah merasa tengah diperhatikan, Gus Hasan membuka matanya dan tersenyum saat pandangannya bertemu dengan mata biru jernih milik sang merpati. Dari tempatnya berbaring Gus Hasan mengulurkan tangan hendak menyentuh sang merpati, namun merpati tersebut mundur menghindari sentuhannya. Gus Hasan tersenyum bingung melihat tingkah malu-malu sang merpati putih.


Kemudian ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati merpati tersebut yang herannya selalu menghindar dari sentuhannya. Namun saat Gus Hasan pura-pura berbalik hendak meninggalkan kamarnya, merpati itu justru terbang mendekatinya tapi tetap menjaga jarak dan tak mau disentuh. Gus Hasan semakin dibuat penasaran.


Dengan berjalan pelan-pelan Gus Hasan bermaksud untuk menangkap sang merpati dengan cara menyergapnya diam-diam. Benar saja, saat merpati itu lengah Gus Hasan langsung menangkapnya dengan kedua tangan dan kena. Namun tiba-tiba ia merasa ada yang menendang tubuhnya dari belakang, membuatnya jatuh terjerembab. Merpati dalam genggamannya lepas menyisakan beberapa bulunya yang rontok di lantai. Ya Tuhan, ia pasti sudah menyakiti merpati itu.


Gus Hasan meringis merasakan keningnya nyeri akibat terantuk lantai. Sambil mengelus keningnya Gus Hasan bangkit dan mendapati adiknya tengah duduk di atas tempat tidurnya sambil menggaruk kepalanya.


"Terbang kemana merpatinya, tadi?" tanyanya pada sang adik.


"Merpati apa?" Gus Misbah balik bertanya dengan wajah bingung.


"Merpati yang tadi. Mas barusan nangkap merpati, gara-gara kamu tendang merpatinya lepas."


"Mas mimpi kali, wong dari tadi tidur pulas kok . Misbah tendang Mas Hasan gak sengaja. Habis Mas Hasan tak panggil-panggil ndak semaur."

__ADS_1


Jadi Cuma mimpi? Batin Gus Hasan. Tapi kenapa rasanya sangat nyata. Bukankah burung merpati itu artinya jodoh, kenapa pula harus bermata biru. Gus Hasan kembali merasakan desiran aneh.


__ADS_2