
Lukman menyingkirkan laptop di hadapannya, kemudian menghela napas berat. Ia benar-benar harus ekstra keras mengerjakan kerjaannya yang menumpuk di rumah. Seminggu sudah berlalu sejak kejadian yang membuatnya hampir tak berani meninggalkan rumah meski sekedar pergi ke kantornya. Ia benar-benar mengawasi tingkah putrinya dengat sangat ketat, mengingat seluruh pegawai di rumahnya mulai dari asisten rumah tangga, satpam hingga tukang kebun ternyata diam-diam menghianati dirinya dan lebih berpihak kepada putrinya. Gadis nakal yang suka memberontak itu benar-benar membuat Lukman mengeluarkan kemarahannya yang bisa dikatakan hampir selama hidupnya tak pernah ia tampakkan. Mengingat tingkah Einsteina membuat kekhawatiran Lukman semakin meningkat.
Malam itu Lukman masih berada di Singapore dan seharusnya baru pulang keesokan harinya, namun asistennya mengatakan baru saja mendapat pesan dari rumah bahwa ada undangan untuk menghadiri rapat wali murid esok hari di sekolah Einsteina untuk membahas perihal ujian nasional yang sudah semakin dekat.
Tak ingin mengecewakan putrinya untuk yang ke sekian kalinya, Lukman memutuskan untuk pulang malam itu juga agar seok hari bisa mengadiri rapat wali murid. Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih selama satu jam, Lukman tiba di Jakarta. Namun karena ada sedikit masalah di kantornya ia tak langsung pulang, melainkan langsung ke kantor setibanya di bandara. Jiwa kerjanya menguasai dirinya saat itu, seperti biasa hingga lupa waktu dan menyelesaikan semua pekerjaannya sampai larut malam.
Ia tiba di rumah saat semua lampu sudah dimatikan. Bahkan Pak Sakri yang bertugas jaga di pos satpam bergantian dengan Pak Muhidin pun sudah tampak terkanduk-kantuk, berkali-kali menguap saat membukakan pagar besi tersebut untuk Lukman.
Hal pertama yang dituju begitu ia memasuki rumah adalah kamar putrinya, namun ia mendapati kamar Einsteina kosong. Lukman berpikir mungkin Einsteina tidur di kamar Maya atau seperti biasa ngusel ke kamar Mak Jum. Hanya sekedar memastikan Lukman berjalan ke belakang, dimana kamar-kamar asisten rumah tangganya berjejer berdekatan dengan dapur, lalu mengetuk pintu.
Ketika pintu dibuka, yang tampak adalah wajah Maya dengan rambut awut-awutan serta mata setengah terpejam. Namun mata yang terkantuk-antuk itu seketika membulat saat melihat siapa yang berdiri di depannya. Maya panik dan menutup pintu dengan cepat, membuat Lukman merasa ada yang tidak beres.
Benar saja, tak lama kemudia Mak Jum keluar diikuti Maya dan juga Mbak Latifah yang berjalan di belakangnya dengan takut-takut.
"Dimana Einsteina?" tanya Lukman begitu ketiganya sudah melewati ambang pintu. Tak ada satupun yang berani membuka suaranya, ketiganya berdiri menunduk menatap lantai tanpa berani menatap majikannya. Lukman semakin merasa ada yang tidak beres. Namun setelah melalui aksi desak-mendesak dan juga sedikit gertakan, akhirnya Maya buka suara.
__ADS_1
Orang tua mana yang tidak khawatir mengetahui anak gadisnya pergi hingga hampir pukul satu dini hari belum juga kembali. Lukman seperti orang gila berteriak membangunkan seluruh penghuni rumah, ia bahkan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Einsteina.
Tak henti-hentinya ia mondar-mandir di ruang tengah sambil terus bicara dengan ponselnya. Einsteina sendiri sama sekali tidak bisa dihubungi karena ponselnya tertinggal di rumah. Lukman mencoba menepis berbagai bayangan buruk yang merasuk pikirannya.
Hingga pukul tiga dini hari, barulah terdengar suara mobil memasuki garasi. Lukman tercekat saat melihat putrinya masuk melalui pintu kaca besar yang menghubungkannya dengan garasi.
Penampilan Einsteina terlihat sangat kacau, babydoll Angry Birdnya yang tampak kedodoran itu penuh bercak merah. Ia benar-banar mirip seperti korban pemerkosaan. Namun penampilan dan raut wajahnya seratus delapan puluh derajat berbeda.
Sambil nyengir kuda khas Einsteina, ia setengah berlari menghampiri Lukman lalu memeluknya erat seolah tak terjadi apa-apa. Betapa Lukman sangat ingin balas memeluk erat anak gadisnya ini serta mengelus rambutnya dengan sayang, namun ia justru melepas pelukan Einsteina. Lalu dengan tegas ia menatap bola mata putrinya yang tampak masih tak rela pelukannya di lepas secara sepihak oleh sang Papa. Lukman lega tapi sekaligus marah.
Einsteina tampak sedang berpikir sebelum membalas. Lukman memincingkan matanya menyadari putrinya sedang berusaha memikirkan sebuah jawaban.
"Jangan coba-coba membohongi Papa. Kamu tahu, tingkahmu kali ini sudah sangat keterlaluan. Keluyuran tanpa mengenal waktu dan pulang-pulang dalam keadaan seperti ini. kamu nyaris membuat Papa kena serangan jantung, Einsteina! Sekarang jawab. Dari mana kamu, ha?!" kemarahan yang berbalut rasa khawatir membuat Lukman membentak Einsteina, hal yang belum pernah dilakukannya sepanjang hidupnya.
Einsteina tampak kaget oleh bentakannya, sebersit rasa bersalah muncul di hati Lukman. Namun ia benar-benar tidak boleh menunjukkannya. Einsteina sudah keterlaluan, dan semua yang dilakukannya untuk kebaikan Einsteina juga. Lukman harus tegas terhadap putrinya.
__ADS_1
Einsteina sama sekali tidak menjawab pertanyaan Lukman, ia hanya menunduk sambil memainkan jari-jarinya. Membuat kemarahan Lukman semakin menjadi.
"Tidak mau menjawab, baik! Sekarang masuk kamar. Bersihkan diri dan jangan coba-coba keluar rumah selain pergi sekolah. Dan satu lagi, mulai besok Roy dan Jordi akan mengawalmu kemanapun kamu pergi."
"Tapi, Pa..."
"Masuk, Einsteina!" kalau sudah memanggilnya lengkap seperti itu, artinya Lukman sudah tidak bisa dibantah sama sekali. Setelah menghembuskan napas Einsteina berjalan ke arah kamarnya dengan lunglai. Sekilas Lukman bisa melihat tatapan mata putrinya yang tampak kecewa.
Sejak malam itu Lukman sama sekali tidak mengajak bicara Einsteina. Ia sengaja memberi hukuman kepada putrinya karena tidak mau jujur pada Papanya sendiri. Tapi hal itu justru membuat Lukman uring-uringan sendiri. Terbayang sorot kecewa Einsteina sebelum meninggalkan dirinya masuk ke kamar sesuai perintahnya, membuat Lukman merasa seperti ada yang salah.
Lukman kembali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan berat. kemudian terdengar pintu di ketuk dari Luar. Seorang pria dengan tubuh besar dan tegap masuk setelah dipersilakan.
"Ada dua orang yang mengaku sahabat Nona ingin bertemu, Pak. Apakah anda memperbolehkan Nona Einsteina menemui mereka?" lapor Jordi, salah seorang yang ditugaskan Lukman untuk terus mengawasi putrinya.
"Biar saya yang temui mereka." ujar Lukman seraya bangkit dari kursi putar yang di dudukinya.
__ADS_1