Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 4


__ADS_3

Einsteina membanting buku agenda milik Lukman yang dicurinya lima tahun yang lalu itu dengan kasar ke lantai kamarnya. Sudah kesekian kalinya ia membaca isi buku agenda tersebut dan Einsteina selalu merasa amarah yang meledak tanpa dapat dibendung tiap kali selesai membacanya. Hatinya sangat sakit merasakan kesedihan dan kekecewaan yang bercampur hingga menjadi amarah yang sangat besar. Jadi begini rasanya tak diinginkan. Einsteina meremas dadanya yang terasa nyeri. Tanpa ia sadari butiran air matanya jatuh membentuk anak sungai dikedua pipinya.


Jika ada hal yang nyaris tidak pernah dilakukan oleh Einsteina, itu adalah menangis. Seburuk apapun hal yang menimpa Einsteina, ia tak pernah sekalipun menangis. Einsteina selalu bisa menutupi kesedihannya dengan perilaku serampangannya. Namun berbeda dengan hal ini, tak diinginkan bahkan dibuang oleh orang yang melahirkannya adalah sebuah kesakitan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hingga air matanyalah yang menggantikannya mengungkapkan.


Dengan tangan gemetar ia meraih ponselnya, kemudian ia mengetik sebuah nama dan menekan tanda panggil.


"Ajak gue ke tempat biasa, Bang." Ujarnya begitu nada sambung di seberang sana terjawab.


****


Mengunjungi boxing illegal sudah menjadi kebiasaan bagi Damar, namun tak pernah sekalipun ia memiliki niat untuk ikut bertanding diatas ring. Tempat ini memang membebaskan siapa saja yang ingin bertanding melawan para pegulat yang memang sudah bekerja ditempat ini, namun berani melawan salah satunya sama saja dengan bunuh diri. Meskipun Damar adalah seorang pelatih Taekwondo, tapi seluruh anak buah Ario Gumelar ini bukan pegulat sembarangan, bahkan Damar pernah dengar selentingan kabar bahwa Ario Gumelar tengah menyiapkan seorang buron, pembunuh berantai yang tengah diburu polisi. Namun hingga kini Ario Gumelar belum menurunkannya ke arena pertandingan.


Berbeda dengan Einsteina, anak didik Kakek Sutisna, guru silat yang menguasai tenaga dalam itu justru nekad melompat ke atas panggung pertandingan sebelum Damar sempat mencegahnya, dengan berani ia menudingkan telunjuknya melawan anak buah Ario Gumelar tanpa ragu. Anak itu benar-benar cari mati.


Mata Damar tak lepas memperlihatkan panggung kecil yang digunakan sebagai arena pertandingan, di sekelilingnya ratusan penonton yang terus meneriakkan yel-yel kematian bunuh! Banting! Patahkan!. Mata Einsteina yang tertutup softlens hitam itu menyorot sedingin es. Keduanya bersiap memasang kuda-kuda.


Terlihat seperti pertandingan yang tidak seimbang, dengan laki-laki pelontos yang hanya memakai sebuah boxer yang sudah melorot dibawah pusarnya, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kekar penuh dengan tatto permanen dengan gambar-gambar tak senonoh seolah sengaja untuk membuat nyali lawannya menciut.


Sedangkan Einsteina, dengan pakaian lengkap milik tukang kebunnya yang tampak melekat kebesaran pada tubuh kerempeng gadis itu, serta kumis tipis palsu dan wig kelimis membuat penampilan Einsteina jauh dari kata seorang pegulat, sehingga tak heran taruhan terus dinaikkan ketika pertandingan memasuki menit ke sepuluh, namun keduanya belum ada yang tumbang.


Sudah terlambat bagi Damar untuk menyeret Einsteina pulang. Sekarang ia hanya bisa menyaksikan kematian Einsteina dari kerumunan penonton. Damar tak henti-hentinya mengutuk kebodohan Einsteina. Gadis itu benar-benar ratu nekad, sudah tentu tenaga perempuannya tidak mampu mengalahkan kekuatan seorang pegulat terlatih seperti si Joni pelontos meski ia adalah murid satu-satunya Kakek Sutisna. Tapi hanya karena dikuasai emosi Einsteina melompat ke atas panggung tanpa pikir panjang.


Ketika Einsteina meneleponnya dan meminta dibawanya ke tempat ini, Damar pikir gadis itu hanya ingin menonton seperti yang sudah-sudah. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata si geblek itu justru mempertaruhkan nyawanya disini. Kalau sejak awal tahu begini Damar jelas akan menolak mentah-mentah ajakan Einsteina. Dalam hati Damar menyesali tindakannya yang menuruti kamauan gadis gila itu.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar bunyi tulang patah yang diikuti dengan lolongan kesakitan. Damar memejamkan matanya tak berani melihat pemandangan yang pasti akan menghantui mimpinya seumur hidup. Bunyi pukulan bertubu-tubi terus terdengar tanpa henti, teriakan para penonton menyamarkan lolongan kesakitan dari atas panggung. Lalu tiba-tiba senyap.


Dengan perasaan tak menentu Damar memaksakan diri membuka matanya. Apakah Einsteina sudah mati, apa yang harus dikatakannya pada orang tua Einsteina nanti, bagaimana reaksi Kakek Sutisna kalau tahu Damar telah membawa murid kesayangannya itu menuju kematian. Ya Tuhan, mungkinkah Kakek Sutisna akan meremukkan seluruh tulang-tulangnya. Batin Damar terus berkecamuk.


Damar melotot shock begitu pandangannya menabrak panggung pertandingan. Dengan tatapan dingin membekukan Einsteina tengah memegang kepapa pelontos si Joni yang tampak sudah banjir darah, bersiap memelintirnya hingga patah, namun ia berhenti sejenak menunggu reaksi Joni. Ketika hanya napas putus-putus yang keluar dari hidung Joni yang sudah patah dengan darah mengalir dari dalamnya, Einsteina melepaskan kepala lawannya, kemudian dengan sekali sentakan ia menghempaskan tubuh kekar Joni ke lantai panggung dan kembali menghajarnya tanpa ampun. Joni yang sudah tak sanggup lagi melawan hanya mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah.


Gemuruh penonton kembali memenuhi ruangan gelap nan pengap itu. Damar menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya dengan lega sekaligus takjub. Tiba-tiba lengannya diseret dengan kasar dan dipaksa mengikuti penyeretnya keluar gudang tua itu dengan tertatih-tatih.


****


Dengan lantang Tina mengatakan kalau ia ingin melenyapkan bayi yang tengah dikandungnya, keesokan harinya aku sangat marah ketika melihat botol soda yang sudah separuh kosong tergeletak di meja rias istriku.


Wasit memberi aba-aba tanda pertandingan dimulai. Joni menatap lawannya dengan tatapan mencemooh, Einsteina balas menatapnya dengan tatapan sedingin es. Malam ini ia akan melampiaskan kemarahannya pada pria berkepala pelontos yang tengah berdiri dengan pongah di hadapannya itu, jadi bersikaplah sesukamu sebelum tamat riwayatmu, batin Einsteina sinis.


Masih dengan tatapan dinginnya yang membekukan, Einsteina memasang kuda-kuda dengan santai. Begitu pula dengan Joni. Ketika Joni menyerangnya Eintseina menghindarinya, begitu terus hingga pertandingan memasuki menit ke sepuluh. Einsteina masih ingin bermain-main dengan lawannya, ia tak langsung membalas serangan Joni.


Bayi ini adalah penghambat karirku, bayi ini yang membuatku terikat padamu. Aku benci anak sialan ini!


Joni melancarkan serangan-serangannya yang dengan gesit ditangkis oleh Einsteina, kemudian ia membalas dengan tak kalah brutalnya. Satu serangan dari Joni yang tak mengenainya dibalas Einsteina dengan lima serangan yang tepat mengenai sasaran. Einsteina tak peduli pada sekitarnya yang terus memberinya semangat dengan yel-yel kematian, ia juga mengabaikan taruhan yang terus merangkak naik untuk kemenangan dirinya.


Demi Tuhan, Tina. Einsteina kelaparan, dia menangis terus. Aku mohon susuilah dia.


Einsteina menghajar Joni tanpa ampun, bunyi tulang patah terdengar mengerikan. Sambil berteriak keras ia terus tubuh Joni tanpa henti. Teriakan kemarahannya bercampur dengan lolongan kesakitan yang keluar dari mulut Joni.

__ADS_1


Aku tidak sudi menyusui bayi yang tidak ku inginkan, Lukman. Payudaraku bisa kendor! Minta saja orang lain untuk menyusuinya!.


Setetes air lolos dari mata Einsteina. Darah sudah membanjiri wajah Joni, namun Einsteina tak memedulikannya. Tangannya kanannya meraih kepala Joni, sementara tangan kirinya mencekik lehernya dengan erat bersiap memelintir leher lawannya hingga patah. Namun tiba-tiba ia teringat papanya. Ia bukan pembunuh, sesakit apapun hatinya tak seharusnya ia sampai membunuh seseorang yang tak tahu apapun. Hati kecilnya mengingatkan.


Dengan segera ia membanting tubuh Joni dan menghajarnya lagi dan lagi, hingga Joni mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Lalu ditengah gemuruh penonton ia melompat turun, menerobos desakan penonton dan menyeret bang Damar keluar dengan kasar.


****


Einsteina tampak sangat menikmati indomie kuah yang ada dihadapannya, tangannya tak berhenti menyuap. Sesekali ia menyeruput kuah indomienya itu langsung dari mangkuknya. Damar memperhatikannya tanpa kedip.


"Jadi?" tanya Damar setelah keduanya cukup lama bungkam. Sejak Einsteina menyeretnya dari tempat boxing ilegal itu, mereka belum mengucapkan sepatah katapun.


"Jadi apanya?" Tanya Einsteina balik Tanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari mangkuk indomienya.


"Na, gue gak bisa pura-pura buta liat lo membahayakan nyawa lo sendiri. Lo tau, anak buah Ario Gumelar itu bukan orang-orang sembarangan, lo juga tau kalo aturan disana Cuma nyerah atau mati. Gue tau elo bodoh, tapi gue gak habis pikir lo sebodoh itu nekad mempertaruhkan nyawa hanya karena lo sedang marah. Lain kali otak lo dipake kalo mau ngelakuin sesuatu." Sembur Damar setelah ditahannya sejak tadi. Ia benar-benar marah oleh tindakan nekad gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri ini.


"Gak udah lebay deh, bang. Nyatanya gue juga baik-baik saja, kan." Ujarnya acuh.


"Itu karena lo lagi beruntung, besok-besok kalo sampai kejadian ulang kayak tadi siapa yang berani menjamin nyawa lo masih bertahan di badan kerempeng elo. Please, Na lo harus janji sama gue, jangan pernah ulangi tindakan gila lo lagi. Untung lo tadi langsung kabur setelah bikin Joni sekarat." Tadi Einsteina memang langsung melompat kabur dan menyeret Damar keluar begitu lawannya meyerah, kalau saja Einsteina masih bertahan disana lebih lama sedikit saja, bisa dipastikan Ario Gumelar akan memaksanya untuk kembali bertanding melawan anak buahnya yang lain hingga kalah. Kelicikan Ario Gumelar memang sudah menjadi rahasia umum. Ario Gumelar tidak pernah membiarkan pendatang mengalahkan anak buahnya. Jika orang luar berani dating melawan anak buahnya, dapat dipastikan ia akan membuatnya menyerah kalah atau mati.


"Boleh gue tau, apa yang bikin lo semarah itu?"


"Nggak ada, gue Cuma lagi pengen menghajar orang." Jawab Einsteina seraya mencomot sebuah gorengan dan menjejalkannya ke dalam mulut.

__ADS_1


"Na, lo tau kan kalo lo udah gue anggep sebagai adik gue sendiri. Lo juga tau gue khawatir kalo terjadi apa-apa sama lo, jadi please kalo semisal lo ada masalah apapun cerita ke gue, gue bakal berusaha bantu elo. Tapi jangan sekali-kali nekad melakukan hal bodoh kayak tadi, ngerti. Dengerin gue ngomong, bocah!"


"Iya-iya, bang. Cerewet amat sih. Udah kenyang, sekarang anterin gue pulang." Einsteina bersendawa seraya menepuk perutnya, membuat Damar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.


__ADS_2