Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 2


__ADS_3

Lolita turun dari mobil dengan wajah ceria seperti biasanya, setelah memarkir mobilnya secara asal di halaman rumah Einsteina yang seluas lapangan sepak bola.


"Pagi, Pak Sardi. Semalam mimpi indah?" sapanya akrab. Pak Sardi yang tengah mengelap mobil dengan sebuah kanebo itu menoleh dan mendapati gadis cantik berpakaian olahraga tengah tersenyum menawan padanya.


"Pagi juga, Non. Bapak lupa mimpi apa semalam, pagi-pagi sudah ketemu gadis cantik. Tumben sekali jam segini sudah nyampe sini. Mau ngajak Non Ina lari-lari ya." Ujarnya dengan logat Jawa yang sangat kental.


"Yuhuu, betul sekali. Ina udah bangun, Pak?"


"Wah, kalau itu Bapak ndak tau Non. Coba deh masuk saja, kalau belum bangun juga Non Loli pasti bakal maksa bangunin Non Ina." Lolita tertawa merdu.


"Pak Sardi tau aja deh, ya udah Loli masuk dulu ya."


Lolita masuk melalui pintu utama rumah megah tersebut yang langsung bertemu dengan ruang tamu  super mewah dan luas. Rumah mewah Einsteina sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Lolita, mengingat hampir setiap hari ia bermain ke rumah ini sejak SMP.

__ADS_1


Ayah Lolita, Adrian Prajabuana adalah sahabat dekat Papanya Einsteina. Mereka berteman sejak kuliah. Awal Einsteina tinggal di Jakarta, Lukman selalu mengajak Einsteina setiap betandang ke rumah Adrian, begitu juga sebaliknya, Adrian pasti akan turut mengajak Lolita setiap ketemu sahabatnya tersebut, hal itu membuat keduanya sering bermain bersama, ditambah mereka satu sekolah meski tidak sekelas, sehingga keduanya semakin akrab.


Lolita berjalan menuju tangga yang akan membawanya ke kamar Einsteina di lantai dua. Namun matanya menangkap sesosok mahluk sexy tengah mengangkat barbel diruang kaca dengan berbagai macam peralatan fitnes di dalamnya.


"Oemji, pagi-pagi udah dapet pemandangan menakjubkan gini, hoki banget sih gue." Rasanya liur Lolita hampir menetes menyaksikan tubuh seksi penuh keringat di dalam sana.


"Matanya gak perlu sampai melotot gitu. eneg banget gue liatnya." Einsteina tiba-tiba muncul di anak tangga terakhir lengkap dengan pakaian jogging, tangannya berkacak pinggang sambil menatap Lolita dengan pandangan mencemooh.


"Jijik lo ah. Selera lo sekarang berubah rupanya."


"Ya enggaklah, selera gue tetep sekelas Rendi. Tapi kalo untuk yang satu ini pengecualian. Gila bokap lo makannya apaan sih, bodinya keren banget gitu, seksinya kelewatan. Setau gue Papa juga tiap hari ngegym, tapi perutnya kok ngalahin Mama yang lagi hamil enam bulan." Mata Lolita masih terpaku pada Lukman yang tengah melakukan gerakan push up. Sebentar lagi Lolita memang akan memiliki adik lagi, karena tante Erica sedang mengandung anak ke empat.


"Kalo saja bukan bokap lo, udah gue pacarin beneran tuh si Duda."

__ADS_1


"Guenya yang ogah punya ibu tiri macem lo. Jadi jogging gak nih, keburu siang." Lolita mengangguk, namun matanya masih enggan mengalihkan tatapannya dari si Duda Sexy, kemudian buru-buru memalingkan wajahnya ketika sang empunya menoleh ke arah mereka.


Didalam sana, Lukman menyudahi olahraganya begitu melihat anak gadisnya dan Lolita sudah lengkap dengan pakaian olahraga. Diraihnya handuk kecil yang tersampir di atas treadmill, kemudian sambil berjalan menghampiri mereka, dilapnya keringat di tubuhnya dengan handuk tersebut.


"Kalian mau jogging?" tanyanya seraya menyampirkan handuk ke pundak seksinya yang telanjang, membuat Lolita menelan ludah dengan susah payah.


"Papa mau ikut?" tawar Einsteina setelah selesai mengencangkan tali sepatunya.


"Jadi pengawal dua gadis cantik, boleh deh. Papa ganti baju dulu sebentar." Lukman berlalu dan menghilang di ruangan di samping tangga.


"Gila, kalo dilihat dari deket seksinya berlipat-lipat, Na. Ya ampun, nyaris sama kayak bodinya Eugenio Siller. Gue bisa ngiler, Naaa!" Bisiknya setengah histeris. Einsteina hanya memutar bola matanya malas.


Tak lama kemudian Lukman datang lengkap dengan sepatu dan training olahraganya yang berwarna hitam, semakin menambah ketampanannya dimata Lolita. Mereka berjalan beriringan keluar rumah menuju lapangan kompleks perumahan.

__ADS_1


__ADS_2