Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 22


__ADS_3

Einsteina berdiri di belakang Billy yang tengah diperiksa oleh seorang bodyguard dengan tubuh besar dan seram, yang menjaga pintu masuk gudang tua tersebut. Einsteina menghembuskan napas tak sabar. Kelamaan, Albert keburu mati. Gumamnya kesal.


Sudah menjadi peraturan tak tertulis bahwa setiap pengunjung harus diperiksa sebelum masuk, untuk memastikan tidak ada yang membawa kamera ataupun senjata dalam bentuk apapun. Segala jenis handphone dan alat perekam disita sebelum masuk ruangan. Namanya juga tempat ilegal, para pengunjung diperiksa dengan ketat. Karena dikhawatirkan bisnis gelap ini akan tercium polisi. Meski sebenarnya pemilikng boxing ilegal ini merupakan seorang pebisnis yang dapat perlindungan dari orang penting di negeri ini. Sehingga tempat ini dibiarkan berdiri sekian tahun tanpa tersentuh oleh aparat setempat.


Tak lama kemudian Billy sudah selesai, kini giliran Einstein maju untuk diperiksa. Bodyguard tersebut mengernyit saat melihat Einsteina, lalu tatapanya berubah mesum. Sontak Einsteina melotot galak sembari mengacungkan bogem mentahnya tepat di depan hidung si bodyguard. Dengan senyam-senyum mesum ia memeriksa tubuh Einsteina dari atas ke bawah. Einsteina menggertakkan gigi menahan marah saat merasakan tangan besar itu menggerayangi tubuhnya. Demi Albert sialan, sabar, tahan emosi. Batinnya mencoba menenangkan diri.

__ADS_1


Seteah selesai Einstein melangkah dengan menghentakkan kakinya kesal dikuti Billy yang berjalan di belakangnya dengan takut-takut. Bodyguard sialan itu mengiringi langkahnya dengan senyum mesum yang masih tatap bertahan dibibirnya. Sialan.


Begitu masuk ruangan mereka disambut oleh teriakan yel-yel kata bunuh, hajar, banting, hancurkan menggelgegar memekakkan telinga, membuat Billy yang berjalan di belakang Einteina semakin menciut nyalinya. Tidak ada yang memedulikan kedatangan mereka.


Bau anyir darah memenuhi indera penciuman Einsteina saat pria berkepala pelontos di atas sana kembali menghujani lawanya yang sudah tak berdaya dengan pukulan. Einsteina berjalan semakin mendekati ring. Mulutnya ternganga diikuti desis ketakutan Billy di belakangnya.

__ADS_1


Itu Albert, sudah dalam kodisi nyaris mati. Tapi lawannya yang berkepala pelotos, atau Jarwo terus menyerangnya tanpa henti. Dengan gesit Einsteina menyelinap di antara penonton yang berdesakan. Teriakan yel-yel yang serasa memecahkan gendang telinganya tak lagi dipedulikannya. Bahkan teriakan Billy pun tidak dihiraukanya, ditinggalkannya begitu saja gemetar ketakutan di belakang. Yang ia pikirkan hanya satu, menyelamatkan nyawa Albert.


Jarwo semakin bersemangat menghajar Albert yang sudah bersimbah darah, semakin lawannya mati maka bayaran yang akan diterimanya semakin besar. Einsteina mengepalkan tangannya melihat Albert yang sudah banjir darah. Dasar bodoh! Kalau butuh uang kenapa harus mempertaruhkan nyawanya seperti ini. Dengan senang hati Einsteina akan membantunya, kalau saja ego prianya sedikit dikesampingkan. Apa gunanya punya teman kalau tidak mau saling membantu. Lagian kalau dia menang, bagaimana perasaan Vivian saat tau dirinya sembuh dengan taruhan nyawa abangnya. Albert *****! kalau sampai lo tetap hidup setelah keluar dari sini, giliran gue yang bakal bikin lo babak belur, maki Einsteina dalam hati.


Dengan gesit, Einsteina melompat ke atas arena pertandingan.

__ADS_1


__ADS_2