Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 18


__ADS_3

Billy mencomot bakpia dari kotak kemasan yang ada di depannya dan memasukkan ke dalam mulut lalu mengunyahnya dengan penuh semangat.


"Jadi?" tanyanya pada Einsteina yang masih asyik dengan mangkuk baksonya.


"Beneran cuma jadi pelatih?" Einsteina balik bertanya.


Siang itu mereka bertemu di kantin sekolah. Billy yang sudah seminggu yang lalu menunggu kepulangan Einsteina tanpa buang waktu langsung menghampiri sahabatnya tersebut yang tengah asyik mengunyah bakso Bang Mamat, langganan mereka di sekolah dan mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi.


Bang Damar bersama Kakek Sutisna, guru silat Einsteina yang merupakan tetangga Billy akan mendirikan rumah baca untuk anak-anak jalanan. Namun rumah baca tersebut tidak hanya sekedar tempat anak-anak belajar membaca, tapi sekaligus sekolah bagi mereka. Mereka akan belajar membaca, menulis, berhitung, berlatih beladiri, melukis, hingga masih banyak kegiatan lainnya.


Saat ini mereka membutuhkan banyak tenaga pembimbing sukarela yang bersedia membantu. Billy yang dipercaya oleh Kakek Sutisna untuk mencari tenaga sukarela teringat akan sahabatnya yang jago berkelahi, pemegang ban hitam Taekwondo sebagai juara bertahan tingkat nasional yang sebentar lagi akan maju ke tingkat Asia Tenggara mewakili Indonesia di SEA Games yang akan datang dan juga terpilih menjadi satu-satunya murid Kakek Sutisna, pesilat terhebat se-DKI Jakarta, yang merupakan hal luar biasa karena Kakek Sutisna tidak sembarangan mengangkat seseorang menjadi muridnya.


Belum lagi beladiri Jepang yang tidak terlalu diketahui oleh Billy, namun selentingan kabar bahwa Einsteina juga berguru pada Yoko sensei untuk menguasai beladiri Judo dan mahir dalam memainkan senjata serta membanting orang itu sampai juga pada telinga Billy. Untuk itulah ia meminta sahabatnya itu untuk menjadi salah satu pembimbing yang akan melatih beladiri anak-anak secara sukarela.


"Tentu saja, gue harap lo mau dan gue juga yakin lo mau. Kalo soal mengajar membaca dan berhitung gue bisa minta tolong sama Vivian, anak itu kan pinter. Eh by the way kemana tuh anak, kok tumben gak barengan sama lo?"


"Di Jogja." Jawab Einsteina singkat.


"Kok bisa, gak ikut balik?"

__ADS_1


"Nyaman di sana. Biar, deh yang penting dia bisa bahagia."


"Tunggu, tunggu. Gue gak ngerti maksudnya, nih." Billy mengambil gelas es teh Einsteina dan meneguknya begitu saja tanpa memedulikan tatapan protes yang punya.


"Udah ketemu jalan yang bener, betah di pesantren gak mau balik lagi." Ungkapnya setelah berhasil merebut kembali gelas es tehnya yang tinggal separuh dan meneguknya habis takut dicuri lagi oleh Billy. Namun Einsteina mengerutkan keningnya heran saat sahabatnya itu dengan sukarela menyerahkan gelas es teh tanpa perlawanan seperti biasanya.


Kantin yang semula ramai itu tiba-tiba senyap. Einsteina menatap Billy yang tengah terbengong dengan mata tak berkedip menatap sesuatu di pintu masuk kantin, lalu netra hitam kelam Einsteina beralih ke arah sumber perhatian Billy. Matanya menatap Lolita bersama dua dayangnya tengah berjalan menuju ke arah mereka. Berpasang-pasang mata mengikuti setiap langkahnya nyaris tanpa kedip termasuk Billy.


Para siswa laki-laki menatapnya dengan kagum dan takjub, melihat gadis tercantik dan terpopuler di sekolah mereka berjalan memasuki kantin. Hal yang nyaris tidak pernah terjadi, karena biasanya kebutuhan Lolita selalu dilayani oleh kedua dayangnya, termasuk dalam hal mengantre makanan di kantin.


Sementara para gadis menatapnya penuh dengan rasa iri, kenapa mereka terlahir tidak sesempurna Lolita. sudah cantik, popular, kaya raya pula.


"Elo ngapain sini. Hus,hus." Itu bukan pertanyaan, tapi Einsteina terang-terangan mengusir Lolita.


Semua mata memandangnya tak percaya, Billy juga terperangah. Seorang Lolita Prajabuana diusir oleh Einsteina, gadis barbar yang levelnya jauh bagaikan langit dan bumi dari Lolita. Namun lagi-lagi semuanya dibuat terkejut oleh reaksi Sang Bintang. Lolita menjitak kepala Einsteina dengan keras hingga sang empunya mengaduh kesakitan.


"Dasar Nenek Lampir cucunya Nenek Gambreng. Napa tadi main kabur aja, gue belum selese ngomong sama elo, dodol!" makinya sambil kembali menjitak kepala Einsteina. Kali ini meleset Einsteina keburu menghindar. Namun telinganya yang sial, Lolita menjewernya dengan keras sebagai gantinya.


"Omongan lo gak penting. Pergi sono, ah!" usirnya sekali lagi seraya memegangi telinganya yang terasa panas.

__ADS_1


"Heh, Bocah geblek! Gue mau nagih oleh-oleh. Ya, ampun, lo makan bakpia tanpa bagi-bagi ke gue. Kejem lo, kejem. Padahal gue bawain parfum Channel ori langsung beli di Amrik. Dan ini..." tunjuknya pada kotak bakpia yang terbuka menampilkan isinya yang hanya tersisan tiga biji. "Lo lebih suka berbagi bareng manusia jelek ini ketimbang sama gue, teman tidur lo sejak kecil..."


"Berisik lo! Nih ambil kalo doyan." Potong Einsteina sambil menyodorkan kardus bakpia yang hanya tersisa tiga biji tersebut. Di luar dugaan, Lolita menerimanya dengan sumpringah. Lalu ia berbalik melenggang diikuti kedua dayangnya yang setia mengekorinya terus-terusan.


"Gue gak mau bilang makasih, karena ini cuma tiga biji. Ntar pulang skul gue mau mampir, kasih gue dua kotak lagi baru gue bilang makasih." Katanya kembali berbalik menatap Einsteina yang sudah kembali menekuri mangkuk baksonya sebelum kemudian melenggang dengan angkuh keluar kantin, meninggalkan tatapan penasaran dari puluhan pasang mata.


"Berisik!" gerutunya di sela-sela kunyahan baksonya. Billy yang sejak tadi ternganga sambil menahan napas buru-buru menghembuskannya setelah merasa paru-parunya seperti mau meledak kekurangan oksigen.


"Na, itu serius si Lolita. Mata gu gak rabun kan. Ya, ampun kenapa bisa keliatan akrab banget sama elo, sih. Gila deketin gue sama dia dong, please."


"Diem bisa, atau mau gue siram pake nih kuah!" Ancamnya kesal.


"Yaelah, jangan pelit-pelit amatlah sama temen. Lo tau gue naksir banget sama Lolita, ah gak cuma gue semua cowok di sekolah juga sudah pasti naksir dia. Eh, tapi gue beneran penasaran nih. Kok lo bisa deket banget sama dia sih, Na. Mana dia bilang teman tidur...."


"Lo berisiknya ngalahin Lolita, deh Bul. Nih kuping pegel dengernya." Potongnya gemas. Memang tidak ada yang tahu persahabatannya dengan Lolita selain Vivian. Meski mereka satu sekolah namun keduanya jarang bertemu, selain karena beda kelas tempat nongkrong mereka juga beda.   Ditambah lagi Einsteina tidak mau orang-orang memanfaatkannya untuk mendekati Lolita jika mereka tahu keduanya bersahabat, hal itu sudah menjadi kesepakatan berdua untuk jalan sendiri-sendiri saat di sekolah.


Kini semua orang penasaran ketika Einsteina yang berantakan dan jauh dari kata populer itu terlihat akrab dengan Sang Bintang. Selama ini teman yang selalu bersama Einsteina hanya Billy dan Vivian.


Namun semua orang di kantin yang melihat interaksi mereka dapat menduga seberapa akrab keduanya. Billy pun diam-diam merasa tidak mengenal sahabatnya tersebut. Lolita bukan orang yang suka berteman dengan sembarang orang, dia hanya berteman dengan orang-orang yang dianggapnya sekelas dengannya. Meski berteman namun Lolita tak pernah sekalipun tampak berakrab-akraban dengan mereka, sedangkan interaksinya dengan Einsteina terlihat sangat akrab seperti mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Kalau Billy melihat mereka sudah lebih dari sekedar berteman. Entah mengapa untuk pertama kalinya Billy ragu akan semua hal tentang Einsteina selama ini. Mungkinkah semua yang terlihat dari Einsteina tidak seperti anggapannya selama ini. Pikiran Billy terus berkelebat.


__ADS_2