
Gus Hasan berjalan keluar meninggalkan kamar Uminya yang saat ini tengah beristirahat ditemani oleh Nyai Salamah dan Eyang Aisyah. Sejak semalam Nyai Maemunah berkali-kali pingsan, beliau sangat shock ditinggal oleh suaminya dengan cara yang sangat mendadak seperti ini. Meski beliau sudah ikhlas melepas kepergian Kyai Jalaludin.
Setelah berkali-kali dibujuk oleh Pak Lik Aminudin, adik kandung Uminya agar Gus Hasan istirahat saja dan menyerahkan sisanya pada Pak Lik Aminudin, barulah Gus Hasan bisa sedikit tenang memasuki kamar pribadinya dan menghempaskan diri di atas ranjang king sizenya. Ia juga merasa sangat lelah setelah seharian mengurus pemakaman, menerima tamu yang terus berdatangan hingga ***** bengek lainnya. Belum lagi ia masih harus membujuk Gus Misbah yang entah mengapa tiba-tiba menjadi sangat manja. Adiknya yang sudah hampir menginjak usia tujuh belas tahun itu tiba-tiba merengek lapar dan minta dilayani, hal yang menurut Gus Hasan sangat bukan sifat adiknya. Biasanya Gus Misbah akan langsung ke dapur dan mengobrak-abrik lemari makan jika sudah kelaparan, ia juga tidak peduli yang lainnya sudah makan atau belum yang terpenting dirinya makan sampai kenyang, kebiasaan buruk adiknya yang sering sekali membuat orang yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Tapi hari ini Gus Misbah bertingkah tidak biasanya. Setelah mengeluh lapar ia merengek minta diambilkan makanan, tak hanya itu Gus Misbah juga minta disuapi oleh kakaknya. Saat Gus Hasan menggerutu heran oleh tingkah adiknya yang tak biasa, Gus Misbah langsung berkaca-kaca dan kemudian sesenggukan menangis membuat Gus Hasan semakin bingung. Eyang Aisyah yang melihat hal tersebut justru tersenyum, beliau mengambil alih sendok serta sepiring makanan yang dipegang oleh Gus Hasan kemudian dengan penuh kasih sayang beliau menyuapi Gus Misbah sambil beberapa kali mengelus surai hitam remaja tersebut.
Tak cukup sampai di situ, setelah kekenyangan Gus Misbah menguap dan minta kakaknya untuk menemaninya tidur yang langsung diangguki kepala oleh Eyang Aisyah. Gus Misbah tak mau tidur berjauhan dengan kakaknya, sehingga Gus Hasan mau tak mau harus berbaring di sisi adiknya tersebut. Sudah hampir setengah jam menemani adiknya, namun yang ditemani tak kunjung tidur juga. Ia terus meracau minta dibelai kepalanya sambil membolak-balikkan badannya gelisah yang membuat Gus Hasan menurutinya meski dengan kening berkerut heran sekaligus takjub oleh tingkah ajaib adiknya yang tak biasa.
__ADS_1
Eyang Aisyah bilang sikap adiknya sangat wajar, ia masih berkabung ditinggal oleh ayahnya hingga bersikap ngadi-adi. Beliau juga menjelaskan, bahwa sikap ngadi-adi atau manja berlebihan itu biasa terjadi pada anak yang baru ditinggal pergi oleh sosok yang sangat dipujanya. Untuk menghadapi anak yang bersikap demikian hanya perlu dengan memberinya perhatian dan kasih sayang, maka lama kelamaan ia akan pulih dengan sendirinya.
Gus Hasan berbaring telentang, mata lelahnya memandang langit-langit kamarnya yang bercat putih bersih itu dengan tatapan menerawang. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat-ayat suci dari luar kamarnya, membuat matanya yang terasa berat itu tertutup perlahan. Tak lama kemudian ia sudah berada di alam mimpi.
__ADS_1