Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
PART 19


__ADS_3

Lolita menatap mangkuk mie ayamnya dengan tak berselera. Hari ini Einsteina memang berjanji akan mentraktirnya makan, hanya saja ia tak menyangka sahabatnya itu begitu pelit sehingga mengajaknya makan di warung tenda yang bising dengan seporsi mie ayam jamur yang membuat Lolita tampak tertekan menatap makanan berminyak yang sudah pasti mengandung lemak. Apa kabar tubuh seksinya kalau makanan itu sukses mengisi lambungnya.


Namun Einsteina sangat santai menikmati makanannya mengacuhkan keengganan sahabatnya itu.


"Kalo lo mau minta bantuan tinggal bilang aja maunya apa, gak usah pake janji-janji mau traktir makan segala." Sungut Lolita dengan kesal.


"Tinggal makan aja ribut, lo. Gue yang bayar gak usah khawatir." Jawabnya santai, terlihat sangat menikmati kekesalan sahabatnya. Lolita menepuk keningnya frustasi. Dasar Einsteina.


"Jadi?" cecar Lolita tidak sabar. Einsteina mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Lolita yang kemudian di balas helaan napas sahabatnya itu.


****


"Gue gak nyangka Lolita ternyata sangat dermawan, dia kemarin datang ditemani oleh dua orang bodyguard menemui Kakek Sutisna, dan lo tau apa yang dia bilang ke Kakek?" Billya tampak menggebu sampai melupakan sepiring gorengan pesanannya.


"Memangnya apaan?" tanya Einsteina masih dengan mulut penuh makanan.


"Dia siap jadi donatur untuk Rumah Baca. Bayangin donatur, Na. Yang bikin gue makin kagum dia juga nyumbangin salah satu properti keluarga dia untuk Rumah Baca. Katanya daripada menempati bekas gudang tua gak sehat. Ya ampun, udah cantik ternyata juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Makin respek gue ama dia. Kakek Sutisna aja sampai berkaca-kaca gitu saking terharunya."


"Ya bagus dong, kalo gitu anak-anak bisa semakin semangat belajarnya. By the way kapan anak-anak akan di pindahin?"


"Secepatnya, Na. Kemarin gue sama Bang Damar udah cek lokasinya. Asli strategis banget. Itu bangunannya juga lumayan luas. Gue sampe sekarang belum bisa percaya, berasa mimpi gitu."

__ADS_1


"Ya udah, ntar gue ikut bantu-bantu deh. Gue ikut seneng, dengan begitu semoga anak-anak lebih bersemangat lagi." Einsteina meneguk es tehnya hingga tandas menyelesaikan makan siangnya.


"Eh ngomong-ngomong Albert apa kabarnya, sudah lama dia gak pernah ada kabar?" tanya Billy membuat Einsteina seketika mengangkat kepalanya kaget. Ia benar-benar melupakan Albert. Sejak pulang dari Jogja, Einsteina disibukkan oleh kegiatannya mendirikan Rumah Baca bersama Billy dan Bang Damar, sampai ia lupa hanya sekedar untuk mampir ke tempat Albert seperti biasanya bersama Vivian sepulang sekolah. Sekedar bertukar pesan singkat pun tak pernah.


"Gue bener-bener ngelupain dia tiga bulan ini, Bul. Ntar pulang skul gue samperin, deh." Ujarnya tidak enak.


***


Hari sudah sore saat Einsteina datang ke rumah Albert. Albert sendiri tampak baru saja selesai membereskan bengkelnya dan bersiap menutup rolling door, namun urung saat melihat Einsteina berlari kecil menyusulnya.


"Kemana aja lo?" tanyanya dengan mata berbinar. Melihat gadis serampangan ini mengingatkannya pada Vivian, tempat Albert mencurahkan kasih sayangnya.


"Gue kangen Vivian. Dia sakit, Na" cetusnya sembari duduk di sebuah kursi panjang. Ia mengapus peluh yang merembes di keningnya menggunakan lengan kaosnya yang lusuh penuh noda oli.


"Sakit? Kok gue gak tau. Vivian sakit apa?" Einsteina ikutan duduk di sebelah kakak sahabatnya itu.


"Ginjal, Na. Dia harus cuci darah dalam waktu dekat. Dua minggu yang lalu dia nelepon gue minta doa."


"Ya ampun, gue bener-bener gak tau. Eyang gue juga gak cerita, Al. Gue minta maaf."


"Bukan salah lo. gak perlu minta maaf. Gue ngerasa membebani keluarga lo kalo Vivian terus di sana. Gue..."

__ADS_1


"Lo mau bawa Vivian balik sini lagi. Al, Vivian di sana udah bahagia. Dia udah bisa ngelupain masa lalunya sedikit demi sedikit." Potongnya cepat.


"Tapi gue gak bisa ngerepotin keluarga lo terus-terusan, Na. Adik gue yang sakit tapi keluarga lo yang mengurus semuanya. Lagian biaya cuci darah itu gak murah!" jawab Albet nyaris berteriak. Ia merasa tak berdaya sebagai seorang kakak.


"Al, lo tuh gak sendirian. Lo punya banyak sahabat yang siap bantu lo."


"Dan berhutang budi selamanya. Gunanya gue sebagai kakak apa, kalo gue selalu minta bantuan lo, Na. gue ini laki-laki, sementara adik gue sakit dan gue gak berdaya. Cuma bisa ngandelin orang lain. Tidak, Na. gue bakal usaha sekuat yang gue bisa untuk kesembuhan Vivian."


Einsteina memijat keningnya bingung. Albert memang seorang lelaki sejati, ia memiliki harga diri yang sangat tinggi. Meski hidupnya pas-pasan pantang baginya menerima bantuan orang lain. Hal yang kadang membuat Einsteina kesal. Tapi di sisi lain Einsteina juga tidak bisa membiarkan Vivian kembali ke Jakarta. Anak itu sudah bahagia, ia sudah bisa damai dengan masa lalunya. Membawanya kembali ke Jakarta hanya akan membuatnya kembali merana. Di sana ia sudah memiliki keluarga yang menyayanginya. Masalahnya hanya pada harga diri Albert sebagai seorang laki-laki. Itu saja.


"Gini aja, biarkan Vivian tetap di Jogja. Kita bisa cari duit di sini buat pengobatan dia. Lo gak boleh egois mementingkan harga diri lo, lo juga kudu mikirin kebahagiaan dia, Al." Einsteina berusaha melunakkan.


"Gue butuh kerjaan yang bisa menghasilkan uang dalam waktu singkat, Na. Boxing ilegal tempat lo nongkrong bareng Bang Damar itu masih buka, kan?" cetus Albert, Einsteina terbelalak tak percaya.


"Jangan gila lo. kalo lo datang ke boxing buat tanding, lo sama aja siap kehilangan nyawa!" seru Einsteina khawatir.


"Tapi bukannya lo diam-diam juga sering tanding di sana, kan?" Einsteina memang seringkali ikut bertanding, namun yang Albert tahu hanyalah seperti pertandingan kecil biasa. Albert tidak pernah tahu bahwa anak buah Ario Gumelar bukan pegulat biasa. Butuh seorang dengan ilmu bela diri yang luar biasa untuk bisa mengalahkan salah satunya. Contohnya Einsteina, ia berkali-kali mampu mengalahkan mereka karena ia punya bekal ilmu bela diri yang tidak di miliki orang lain, seperti silat yang melibatkan ilmu tenaga dalam yang di ajarkan oleh Kakek Sutisna. Selain itu ia juga lulus bela diri judo langsung di bawah pelatihan Yoko sensei. Seorang pelatih yang sangat di segani dalam olah raga beladiri. Tidak cukup hanya dengan bela diri Taekwondo seperti dugaan Albert selama ini.


"Beberapa kali. Tapi percaya sama gue, gue cuma beruntung bisa mengalahkan mereka. Bukannya gue ngeremehin, tapi ilmu Taekwondo aja gak cukup untuk ngalahin mereka, Al. Jadi jangan cari masalah. Kerjaan lain masih banyak, gue bisa bantuin lo buat dapet kerjaan asal lo mau."


"Dan membiarkan diri gue berhutang lebih banyak lagi sama lo. Tidak, Na. Gue akan nyoba peruntungan di arena boxing, bisa saja gue beruntung dan menang kayak lo." Dan pulang tinggal nama, batin Einsteina gundah. Albert sama sekali tidak tahu kondisi sebenarnya. Gimana Einsteina harus menjelaskannya agar Albert mengerti. Ini akan sulit.

__ADS_1


__ADS_2