Seteduh Taman Surga

Seteduh Taman Surga
Part 29


__ADS_3

Siang itu cuaca sangat terik. Matahari seolah sedang tersenyum mengejek pada sekelompok remaja berseragam abu-abu putih yang tampak sedang berteduh di depan gerbang sekolah menunggu jemputannya masing-masing. Hari ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan ujian nasional, yang artinya mereka boleh bernapas lega setelah sebelumnya digempur soal-soal setiap hari sebelum ujian nasional. Belum lagi jam tambahan yang kadang membuat mereka stress berkepanjangan.


Seorang remaja laki-laki dengan seragam abu-abu putih yang celananya tampak sudah cingkrang tampak asyik berdiskusi dengan beberapa temannya, sehingga ia tak menyadari sebuah sedan hitam jemputannya sudah sejak tadi menunggunya, lalu seorang laki-laki memakai celana denim biru dengan atasan kemeja putih polos yang ujung lengannya digulung hingga siku, turun menghampirinya. Seketika senyum remaja laki-laki tadi terbit melihat siapa yang datang menghampirinya.


"Eh, Mas sudah datang rupanya. Hari ini jadi, kan?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Tentu saja. Mas sudah pamit sama Umi, tadi. Ayo jalan!" Dengan sumpringah ia berpamitan pada teman-temannya, lalu berjalan di sisi Kakaknya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.


"Jadi, kita akan berbelanja hari ini, Mas?" tanyanya bersemangat, setelah mobil berjalan memasuki jalanan beraspal.


"Tentu saja, karena Mas sudah berjanji dan kamu sudah berhasil khatam seribu Nadhom Alfiyah, jadi kita belanja buku serta kitab-kitab untukmu." Gus Hasan tersenyum menanggapi antusias adiknya.


"Terus peci sama baju kokonya jadi, tidak?" tanyanya kembali seraya melepas baju Osis yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan kaos polo hitam.

__ADS_1


"Tentu saja, apapun untukmu." Gus Misbah semakin sumpringah mendengar jawaban kakaknya, membuat Gus Hasan mengacak surai gelap adiknya dengan gemas.


Sebelumnya Gus Hasan memang sudah menjanjikan akan mengajak adiknya jalan-jalan dan membelikannya buku-buku favorit yang sudah lama diincar oleh adiknya namun belum juga kesampaian. Gus Misbah sebenarnya sudah berkali-kali menagihnya. Namun karena kesibukan, Gus Hasan belum juga bisa memenuhi janjinya. Hari ini kebetulan ia sedang ada waktu luang, sehingga ia menyempatkannya sekalian nanti sore ia harus memenuhi undangan syukuran di kediaman Kyai Abdul Fatah.


Apalagi adiknya itu baru saja mengkhatam seribu bait nadhom alfiyah Ibnu Malik. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Gus Hasan tahu jika adiknya itu sangat cerdas. Sejak Sekolah Dasar hingga sekarang ini belum ada satupun teman sekolahnya yang berhasil menyaingi prestasinya. Dalam bidang akademik maupun non akademik. Bahkan ia sudah hapal Al quran jus tiga puluh sejak lulus Sekolah Dasar, yang saat ini sudah bertambah hingga tujuh jus.


Selain itu, Gus misbah juga anak yang penurut, tidak pernah membangkang perintah orang tua dan kakaknya, sehingga Gus Hasan sangat menyayangi adik semata wayangnya itu. Apalagi setelah wafatnya ayahanda mereka, Kyai Jalaludin. Selain berperan sebagai seorang kakak, Gus Hasan merangkap sebagai seorang ayah bagi adiknya.


Mobil memasuki pelataran parkir sebuah toko buku yang lumayan besar. Gus Hasan turun diikuti Gus Misbah. Lalu keduanya berjalan memasuki toko tersebut.


"Ayo, Misbah." Panggil Gus Hasan yang sudah membuka pintu mobil dan bersiap masuk.


"Tunggu sebentar, Mas!" Lalu dengan buru-buru disambarnya Koran tersebut dan bergegas menuju kasir. Gus Misbah merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu lembar sepuluh ribu yang sudah lecek kemudian membayarnya.

__ADS_1


"Kamu beli apa lagi, sih?" mobil sudah berjalan dengan mulus membelah jalanan kota Magelang.


"Waahh, Adrian Prajabuana akan mengeluarkan karya ER. Jannah yang terbaru dalam pelelangan yang akan dibuka sebulan lagi. Wuih, gak ada matinya nih pelukis. Pasti artis itu lagi yang jadi model." Bukannya menjawab pertanyaan kakaknya, ia justru sibuk berceloteh sendiri sambil membuka Koran di tangannya. Gus Hasan hanya mengangkat alisnya tidak berkomentar.


Adiknya itu memang sangat mengidolakan pelukis ER. Jannah. Ia nyaris tak pernah ketinggalan berita mengenai pelukis yang baru-baru ini terkanal melalui karya-karyanya yang menggegerkan. Bagaimana tidak heboh kalau semua objek lukisannya adalah seorang model terkenal yang sudah mendunia. Pelukis seolah memiliki dendam pribadi dengan model tersebut, atau ingin mengungkapkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang awam seperti dirinya. Sebenarnya Gus Hasan sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, hanya saja mendengar adiknya terus-terusan membicarakan pelukis tersebut, mau tak mau Gus Hasan jadi tahu.


Gus Misbah sepertinya memang punya jiwa seni. Selain sangat menyukai hal-hal yang berbau seni, ia juga seolah bisa membaca pesan-pesan lukisan karya ER Jannah. Buktinya anak itu tak pernah berhenti berceloteh mengenai setiap makna lukisan yang harganya bisa untuk membangun sebuah pondok pesantren. Setiap pagi ia selalu mengganggu bacaan kakaknya dengan menarik-narik Koran harian yang tak pernah dilewatkan oleh Gus Hasan, semata-mata hanya untuk mencari berita tentang ER. Jannah. Tak jarang juga Gus Misbah meminjam ponsel atau laptop miliknya hanya sekedar untuk browsing pelukis idolanya itu.


"Suatu saat kalau aku ke Jakarta, akan ku cari galeri milik Adrian Prajabuana. Nanti aku akan minta ketemu dengan ER. Jannah untuk berfoto dan meminta tanda tangannya." Celotehnya kembali. Khas remaja yang sedang berbicara tentang idolanya. Gus Hasan tertawa menanggapinya. "Lho, Mas. Kok kita tidak langsung pulang?" Gus Misbah baru sadar jika mobil yang mereka tumpangi berjalan berlawanan arah dengan jalan pulang.


"Kita akan ke rumahnya Kyai Abdul Fatah. Ada undangan tasyakuran, jadi langsung saja." Gus Hasan menjawab tanpa menoleh. Ia mengemudi dengan santai, namun matanya tak lepas dari jalanan di depannya.


"Tapi aku tidak bawa baju ganti, Mas." Ujarnya setengah memprotes.

__ADS_1


"Tenang saja. Mas sudah bawakan kamu baju. Tuh di jok belakang." Tunjuknya pada sebuah plastik hitam di jok belakang, dengan dagunya.


Gus Misbah mengedikkan bahunya lalu kembali fokus pada Koran di tangannya.


__ADS_2