
Einsteina memasuki ruang kerja Lukman saat sang Papa sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Ia tak pernah memikirkan sopan-santun saat bersama Papanya, jadi dengan santai ia melenggang memasuki ruangan yang didominasi warna abu-abu tersebut dan duduk di depan layar televise yang sedang menyala menampilkan iklan pembalut yang tak juga menyertakan tutorial pemakaiannya sejak jaman Einsteina pertama kali mengalami datang bulannya. Tak bermaksud mencuri dengar pembicaraan Papanya, namun Eisnteina sedikit bisa mendengar suara Lukman diantara suara televise yang tak begitu keras.
"Ibu harus bersabar, Ina kan ujian saja belum. Setelah ujian selesai, bu. Lalu menunggu hasil kelulusan. Setelah itu baru bisa. Lagian Ina masih sangat muda umurnya saja baru mau tujuh belas. Iya, bu saya janji setelah itu. Apapunlah, yang Bapak sama Ibu katakan itu pasti yang terbaik."
Einsteina mengerutkan keningnya. Papanya pasti sedang bicara dengan Eyangnya. Kenapa harus bawa-bawa namanya. Einsteina melirik sekilas Lukman yang duduk di sampingnya lalu kembali fokus pada iklan pembalut yang entah kenapa diulang-ulang beberapa kali, meski pikirannya tak di sana. Sepertinya Papanya sudah selesai berbicara dengan nenek lampir.
"Eyang, ya?" tanyanya dengan mata tak lepas dari layar televisi. Lukman mengangguk sebagai jawaban, tangannya masih menimang ponsel tersebut dengan raut tampak sedang berpikir.
"Na, apa pendapatmu tentang pernikahan?" Einsteina seketika melongo mendengar pertanyaan di luar perkiraannya.
"Eyang nyuruh Papa nikah lagi? Udah deh, Pa. Kan Ina sudah berkali-kali bilang kalau Papa mau nikah tinggal nikah aja. Ina seneng kok. Boleh tau calonnya siapa? Tante Deswita? Atau jangan-jangan Eyaang sudah pilihin buat Papa. Ya ampun, Pa jangan mau. Selera Eyang kadang payah...." Cerocos Eisnteina tak mau berhenti. Lukman menoyor kepala putrinya dengan gemas.
"Ah sudahlah. Ngomong sama kamu ngelanturnya jadi kemana-mana. Ngapain kamu kemari?" Einsteina memutar bola matanya malas.
"Sejak kapan Papa peduli Ina kemari ngapain. Suka-suka Ina dong, ngapain Papa tanya-tanya." Jawabnya asal. Ah, sebenarnya memang ada maksud sih ia kemari. Hanya saja masak ia mengatakan aku ingin selalu di dekatmu, Pa. Untuk mengurangi rasa bersalahku karena membohongimu. Aku merasa tidak tenang. Tentu saja itu tidak mungkin, meski sebenarnya ia ingin.
"Loh, ini kan ruang kerja Papa. suka-suka Papa juga dong kalau mau nanya-nanya." Balas Lukman tak mau kalah. Einsteina siap melemparkan balasan ketika layar televisi menayangkan sebuah acara gosip selebriti. Berita hangat tak jauh-jauh dari pasangan fenomenal Arman Thomas-Victoria Alexander yang belum lama ini melangsungkan pertunangan.
Keduanya tersentak. Lukman tampak tegang sementara Einsteina menatap Papanya dengan sorot mata yang tak dapat diartikan. Memahami kegugupannya, Lukman segera meraih ponselnya dan pura-pura sibuk mengecek pesan. Sedangakan raut wajah Einsteina sendiri langsung membeku.
Dengan kasar ia melempar remot televisi ke atas meja kaca di depannya. Lalu berujar dengan ketus.
__ADS_1
"Sejak kapan orang sesibuk Lukman Al Hakim punya waktu untuk menonton gosip murahan."
"Yaelah. Mana Papa tahu kalau itu acara gosip. Lagian tadi waktu Papa nonton, acara gosip belum mulai tuh."
"Mana mungkin. Acara gosip pagi kan mulai jam tujuh. Ini sudah hampir setengah delapan. Berarti sejak tadi Papa nonton gosip!" Cecar Einsteina galak.
"Loh, kok kamu hapal jadwal tayangan gosip. Jangan-jangan justru kamu yang hobi nonton gosip." Tandas Lukman cepat. Einsteina tampak gelagapan, namun hanya sedetik. Detik berikutnya ia sudah kembali membalas ucapan Lukman dengan judes.
"Huh, mana mungkin! Mendingan Ina ngurusin kucingnya Lolita yang lagi hamil daripada nonton acara murahan gitu."
"Kucingnya Lolita hamil lagi, Na?" Lukman segera mengalihkan topik pembicaraan, jika tidak masalah bisa runyam. Einsteina sudah terlihat siap meledak. Harus segera ditenangkan.
"Iya tuh, dasar ganjen. Doyan kawin!" Sahutnya meski tahu itu gak nyambung.
"Ah taulah, mungkin kucing kampung milik tetangga, Pa. Anaknya sampe banyak gitu, kecil-kecil pula."
"Ya baguslah, banyak anak banyak rejeki." Kok melencengnya jauh, yak.
"Nah, tau. Kalo gitu Papa juga kudu banyak anak biar rejekinya makin banyak." Einsteina kok ngelantur, sih.
"Ya sudah ntar Papa bikinin adik buat kamu yang banyak." Dududuuh. Topiknya makin gak jelas.
__ADS_1
"MAU BIKIN ANAK GIMANA KALO BINI AJA PAPA GAK PUNYA!" Teriak Eisnteina sebelum menghentakkan kakinya dengan kesal, tak lama kemudian terdengar pintu dibanting dengan keras.
Lukman menghela napas dan menghembuskannya dengan berat. lalu ia memijit keningnya yang terasa berdenyut. Hanya gara-gara acara gosip keduanya jadi bertingkah tak jelas seperti ini. Einsteina lebih parah lagi, anak itu tiba-tiba emosinya meledak hanya gara-gara mereka membahas kucingnya Lolita. Lukman merasa kepalanya semakin berdenyut.
Victoria Alexander. Nama itu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari kondisi normal dan membuat Einsteina marah-marah. Selalu.
****
Sejak kejadian itu sepanjang hari anak dan ayah tersebut seperti saling menghindari. Setelah Einsteina membanting pintu ruang kerja Papanya ia langsung mandi dan bersiap ke sekolah dengan hati geram. Sial! Papanya belum juga move on dari wanita ular itu. Berkali-kali ia menendang apa saja yang ada di depannya sambil memaki-maki, hingga kakinya terasa nyeri.
Sementara Lukman sendiri buru-buru meninggalkan rumah menuju kantornya tanpa sempat berpapasan dengan Einsteina.
Lalu, ketika keduanya dipertemukan di meja makan pada saat makan malam. Masing-masing membuang muka dan pura-pura sibuk dengan menekuri piringnya sendiri-sendiri. Hal seperti itu berlanjut hingga esok hari.
Barulah Lukman mengajaknya bicara saat Einsteina sedang membetulkan tali sepatunya, setelah aksi sarapan sendiri-sendiri. Kebetulan mereka berpapasan dengan Lukman yang sudah siap pergi ke kantornya.
"Nanti malam nginep lagi aja di rumah Lolita sampai Papa pulang. Papa sudah menelepon Om Adrian, sekalian belajar bareng, biar ada yang mengawasi. Harus fokus, besok kamu sudah mulai UN. Siang ini Papa berangkat ke Belanda selama lima hari di sana." Ujarnya tanpa menatap anak gadisnya.
Einsteina masih berkutat dengan tali sepatunya hanya bergumam lirih. Namun saat Lukman mengulurkan tangannya mau tak mau ia menjabatnya juga dan menciumnya, meski dengan wajah cemberut. Masih kesal. Lukman mau tak mau menahan senyumnya.
"Sudah jangan cemberut. Ingat nginep di rumah Lolita sampai Papa pulang, dan jangan berulah. Sudah, sana berangkat! Pak Sardi sudah menunggu." Usirnya seraya mendorong bahu putrinya pelan. Setidaknya Lukman lega sudah mengajak putrinya baikan, semenjak kejadian kemarin yang membuat tingkah keduanya seperti ABG labil yang ngambek gara-gara keinginannya tidak dituruti. Kalau Einsteina masih remaja jelas wajar. Lah sedangkan dirinya, bapak dari seorang remaja. Kalau dipikir-pikir sangat tidak pantas. Makanya Lukman berinisiatif mengajak bicara Eisnteina lebih dulu.
__ADS_1
Dengan begitu ia sedikit lega meninggalkan putrinya untuk perjalanan ke luar negeri. Ia juga sudah menitipkan Einsteina pada Adrian, sahabatnya. Jadi ia tak perlu khawatir anak itu akan kembali berulah. Adrian pasti akan menjaganya dengan baik.
Untuk sementara semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.