
"Demi ketek si Duda sexy, apa lo udah gila!" teriak Lolita histeris, suaranya mampu memecahkan gendang telinga Einsteina kalau saja ia tidak menutup telinganya dengan bantal.
"Teriaknya gak usah pake otot, bisa! Telinga gue belom tuli." Semburnya gemas.
"Permintaan lo tuh suka yang aneh-aneh, tau. Kemarin gue di paksa-paksa suruh ngurusin jual beli rumah atas nama bokap gue, belom lagi harus nyediain dua orang satpam sama nyariin mbak-mbak buat ngurus penghuni rumah baca. Masih belom cukup juga gue disuruh-suruh nyariin perlengkapan untuk mereka. mana pake mohon-mohon segala pula, dan sekarang lo minta gue ijin ke Duda sexy bahwa ntar malem anaknya bakal nginep di rumah gue, tapi pas malem-malem dia bakal kabur keluar rumah ngeluyur kencan sama si Bulbul. Einsteina darling, lo tau seberapa besar utang lo ke gue?" Einsteina mengabaikan cerocosan Lolita, ia hanya melipat tangan kedua tangannya ke dada, menyaksikan tingkah Lolita yang tengah mengobrak-abrik lemari pakaiannya.
"Ya ampun, kalau isi lemari lo kayak gini sumpah gue gak iklas nolongin lo. gak ada yang bisa gue ambil dari lemari lo. bahkan parfum pun lo gak punya!" Einsteina bercedak kesal melihat tingkah sahabatnya itu.
"By the way itu tas Hermes kalau bukan dari gue dari siapa, ya. Pacar lo yang kayanya melebihi Bulbul?" tandasnya sarkastik. Lolita tidak menggubris sindiran Einsteina, ia justru beralih ke rak sepatu Einsteina.
"Lo pikir ngurus taman baca itu mudah. Harusnya imbalan tas doang mah gak ada apa-apanya dibanding apa yang udah gue lakuin ke elo. Dan jangan pernah sebut-sebut pacar yang itu. Dia udah gue tendang jadi fosil. Beliin make up gue aja gak mau, miskin apa pelit." Gerutunya sembari memungut sebuah sepatu berwarna hitam. Begitulah Lolita, kalau jiwa matrenya kumat jangankan pacarnya, sahabatnya pun tega dirampok.
"Udah deh, lo mau bantuin gak, nih. Kalo gak mau mending lo pulang sana, daripada bikin kamar gue berantakan."
"Huh, emang sejak awal udah berantakan juga. Imbalannya apa kalo gue bantuin lo?" Einsteina memutar bola matanya dengan malas.
"Apa aja, deh. Terserah lo biar cepet." Lolita tampak sok serius berpikir.
"Gue udah lama sih ngincer gaun Givency yang kemarin belom sempat gue beli. Bokap gue sih pelit, gak kayak bokap lo. Kemarin sewaktu habis belanja kartu kredit gue langsung disita, sampe sekarang belom balik." Paparnya dengan mimik sok sedih. Einsteina mengangkat sebelah alisnya sambil mencibir, dasar ratu drama.
__ADS_1
"Baguslah kalo gitu. Om Adrian mengambil langkah yang tepat, sebelum terlanjur dibikin bangkrut sama anaknya yang gila belanja." Lolita memukul lengan Einsteina dengan cemberut.
"Kekayaan Adrian Prajabuana tidak akan habis sampai tujuh turunan. Enak aja bangkrut."
"Masalahnya elo generasi ke delapan, jadi gak ada sisa kekayaan buat lo." kali ini sebuah cubitan melayang di lengan Einsteina. Namun belum sempat Einsteina membalasnya, Lolita sudah ngacir terlebih dahulu keluar kamar.
"Kalo dipikir-pikir gaun Givency aja gak cukup. Gue juga mau parfum Chanel sama jam tangan Cartier." Teriaknya sebelum pintu kamar tertutup. Einsteina mendengus sebal. Ia sediri bahkan belum pernah mengenakan merk-merk mahal itu. Dasar tukang palak.
***
Tepat saat azan subuh selesai berkumandang, Einsteina memasukkan mobilnya ke garansi setelah membangunkan Pak Muhidin di pos satpam untuk membukakan pintu gerbang. Lalu dengan letih ia berjalan memasuki rumahnya.
"Kok sudah pulang?" sapanya seraya menyisir rambutnya dengan jari-jarinya sebelum kemudian mengenakan peci putih.
"Bete, gak bisa tidur. Lolita tidurnya gak bisa diem." Jawabnya lesu, ia tak jadi masuk kamarnya melainkan duduk di sofa sambil menyalakan televise dengan asal. Lukman mendekati dan duduk di sampingnya.
"Terus ini pipi lebam begini, kenapa?" Einsteina merasakan nyeri saat tangan Lukman menyapu tulang pipi kanannya, buru-buru ia menepis tangan Papanya.
"Jatuh kena lantai ditendang samaLolita. Udah deh sana Papa salat, gangguin aja deh." Protesnya seraya menutup wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
"Duh, kasihan anak Papa. Kamu tidak ikut salat?"
"Lagi M"
"M beneran apa M malas?" Lukman mengacak rambut putrinya yang kini sudah selonjoran di sofa sambil menutup mata. Einsteina hanya mengibaskan tangannya . Lukman meninggalkan putrinya untuk menunaikan kewajibannya. Namun Einsteina masih bisa mendengar gerutuan sang Papa."M kok selalu dijadikan alasan."
Perlahan Einsteina membuka mata dan menghembuskan napas panjang. Rasa bersalah kembali mucul dalam benaknya. Maafkan aku, Pa. Batinnya penuh sesal. Ia sukses membohongi Papanya dengan melibatkan Lolita.
Malam itu sesuai kesepakatannya, Lolita meminta ijin pada Lukman agar Einsteina menginap di rumahnya dengan alasan belajar bersama mengingat ujian nasional tinggal hitungan hari. Tentu saja dengan senang hati Lukman mengijinkannya. Hanya saja Lukman tidak bodoh, ia menghubungi Adrian untuk memastikan bahwa putrinya benar-benar menginap di sana. Adrian yang kala itu melihat keduanya sedang asyik bercengkrama tentu saja mengonfirmasi keberadaan Einsteina.
Namun sesuai rencana awal Einsteina, tengah malam saat semua sudah terlelap ia menyelinap keluar menemui Billy yang sudah menunggunya tak jauh dari sana, tentu saja dengan bantuan Lolita. kemana lagi kalau bukan mengunjungi boxing ilegal. Memenuhi tantangan Ario Gumelar agar ia berhenti membuat masalah dengan kedua sahabatnya.
Einsteina berhasil melewati pertandingan dengan selamat, setelah menghajar habis –habisan lawannya di ring tinju hingga tak berdaya. Sejak awal Einsteina memang tidak berminat sama sekali terhadap pertandingan, hingga ia bertanding hanya untuk menyelesaikan urusannya dengan Ario Gumelar tanpa menikmatinya seperti yang sudah-sudah. Ia bahkan menghajar lawannya dengan cepat, membuatnya tak berdaya dan selesai. Pertandingan yang sangat tidak menarik, membuat susana tak semeriah biasanya.
Tentu saja hal itu sangat merugikan bagi Ario Gumelar. Bandar tak menaikkan taruhan, penonton dibuat kecewa karena tak ada adegan saling menyerang lantaran Einsteina sudah menyerang tanpa ampun bahkan disaat lawannya boleh dikatakan belum persiapan sama sekali. Ia hanya ingin menyelesaikan pertandingan secepat mungkin, lalu kembali ke kediaman Lolita.
Einsteina memang tak sepenuhnya bohong. Lolita memang tidak bisa diam saat tidur, ia menendang Einsteina hingga jatuh dengan kening mencium lantai. Beruntung lantai kamar Lolita dilapisi karpet tebal sehingga efeknya tidak begitu terasa, meski lebam di pipinya bukan disebabkan oleh itu. Memar biru itu didapatnya di arena boxing.
Hanya saja bukan masalah itu yang membuat Einsteina balik ke rumahnya bahkan disaat pemilik kamar sedang asyik-asyiknya berada dalam mimpi. Ia hanya merasa bersalah pada Papanya. Entahlah, rasanya sangat tidak mengenakkan di dada. Mendapati Lukman yang memperlakukannya dengan sayang membuat rasa bersalah Einsteina semakin besar.
__ADS_1
Semua memang gara-gara Ario Gumelar. Ya, siapa lagi kalau bukan salah demit tua itu. Einsteina merasakan matanya memanas, namun buru-buru menggeleng dengan keras menolak air mata sialan itu turun. Tidak! Ia tidak akan membiarkan dirinya lemah hanya gara-gara dedemit seperti Ario Gumelar. Setelah semua ini selesai ia janji akan memohon ampunan kepada Papanya. Papa pasti akan mengerti dan memaafkannya, lalu semua berjalan kembali seperti semula. Ia janji tidak akan lagi mengunjungi tempat jahanam itu selamanya, meski ia membutuhkan pelarian dari kenangan tentang Victoria Alexander sekalipun. Huh, kenapa ia jadi memikirkan wanita hina itu. Pokoknya saat ini ia hanya butuh pelampiasan, siapa lagi kalau bukan Ario gumelar. Dengan membencinya, Einsteina bisa sedikit mengurangi rasa bersalahnya pada sang Papa. Betul begitu, kan? Harus betul!