
Einsteina bersama Vivian membongkar banyak paper bag yang dibawakan oleh Fikri tadi sehabis maghrib, lalu keduanya kompakan mengeluh begitu melihat isinya. Semuanya adalah pakaian syari yang baru dibeli lengkap dengan label harganya yang belum dibuang.
"Masa kita pake baju kayak mak-mak mau ke pengajian gini sih, Vi." Keluh Einsteina sambil berkacak pinggang.
"Bokap lo punya selera bagus soal fashion muslimah masa kini, tapi gak cocok kalo gue yang pake, apalagi elo, Na."
"Masalahnya baju-baju kita enggak tau dimana rimbanya sekarang. Kayanya dibakar sama si nenek gambreng deh. Dih, nyebelin banget sih eyang gue." Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar.
"Gadis-gadis, ayo buruan. Sudah ditungguin mas Fikri tuh." Terdengar suara Lukman dari balik pintu kamar mereka.
"Terpaksa deh kita pake nih pakaian. Ya ampun gak bisa dibayangin, beneran." Vivian menghembuskan napas lelah, lalu ia memungut sebuah baju gamis berwarna putih gading. Einsteina mengikutinya tanpa semangat.
Tak lama kemudian keduanya keluar dari kamar. Namun baru beberapa langkah mereka keluar, teriakan cempreng eyang putri kembali terdengar.
__ADS_1
"Mau kemana kalian?" Einsteina memutar bola matanya malas.
"Jalan-jalan, nyari makan. Habis tadi baru datang bukannya ditawarin makan malah langsung kena jewer, bahkan terancam botak." Ujarnya sarkastik.
"Ndak boleh. Perempuan keluar rumah tanpa mengenakan jilbab itu ndak boleh. Memperlihatkan auratnya pada yang bukan mahramnya, kalau mau keluar harus memakai jilbab."
"Ya ampun, Na. kita kan udah pake beginian, masa harus ditambah jilbab sih. Panas tau." Bisik Vivian yang ternyata cukup keras untuk didengar telinga eyang Aisyah.
"Panas di dunia itu ndak ada apa-apanya dibandingkan panas di neraka karena kalian mengumbar aurat kalian. Sekarang ambil jilbab dan pakai. Memangnya kalian ndak malu sama santri-santri di sini dengan pakaian kalian."
"Eyang gue cerewet banget ya, Vi. Huh, nyesel kenapa kemarin harus liburan kemari. Liburan kali ini bener-bener sial." Gerutunya sambil mengenakan kain berwarna coklat tua itu ke kepalanya.
"Anak ini, dikasih tau baik-baik malah ngatain eyangnya cerewet. Lukman benar-benar salah kaprah dalam mendidik anak. Kalau tau begini seharusnya romo terima saja tawaran kyai Jalaludin dari dulu, biar bocah gendeng ini ndak banyak tingkah." Semprot eyang Aisyah sambil menjitak kepala cucunya. Einteina mengaduh, eyangnya meski sudah tua tapi staminanya benar-benar patut diacungi jempol. Jitakannya saja terasa sakit. Diusia tujuh puluh dua tahun eyang putri masih tampak bergas, jarang sakit-sakitan. Tadi sore saja beliau masih sanggup mengejar Einsteina dan Vivian, meski setelahnya mengeluh encoknya kambuh.
__ADS_1
"Sudah, bu. Biarkan mereka pergi, nanti keburu malam lho. Ina sama Vivian sudah sana, bilang sama Mas Fikri jangan ngebut, pulangnya juga jangan malam-malam." Umi Salamah buru-buru menimpali sebelum ibu mertuanya ini bicara yang tidak-tidak.
Setelah mencium tangan Umi Salamah dan Eyang Aisyah, Einsteina dan Vivian bergegas keluar rumah menuju halaman pesantren dimana Fikri sudah menunggu di samping pintu mobil.
"Ibu, Saya mohon jangan ungkit masalah itu lagi. Saya takut Ina paham dan nanti ngamuk-ngamuk. Ibu kan tau sendiri bagaimana anak itu." Ucap umi Salamah begitu kedua gadis tersebut telah menghilang di balik pintu.
"Cepat atau lambat kita memang harus menepati janji pada Kyai Jalaludin. Dulu Romo ndak menolak, tapi hanya meminta waktu. Ina dan putrimu sudah tumbuh dewasa, Ibu rasa sudah waktunya. Apalagi Ina, tingkah anak itu sudah sangat menghawatirkan. Dia harus dididik dan diarahkan kembali dengan benar."
"Tapi, Ibu. Sekarang belum waktunya. Ina masih belia, anak itu bahkan belum lulus SMA. Apalagi Ina itu pemberontak, dia beda dengan Khodijah."
"Lalu bagaimana dengan Khodijah, putrimu itu sudah berusia dua puluh tahun." Sanggah Eyang Aisyah.
"Setidaknya kita tunggu sampai Ina lulus sekolah dulu."
__ADS_1
"Itu berarti tinggal satu semester lagi. Ibu harus membicarakannya kembali dengan Romo."