Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Bukan ibu yang kejam


__ADS_3

Tamparan yang keras itu membuat pipi Kenzi yang berwarna putih kini jadi memerah. Kenzi menatap Alin dengan sorot tajam.


"Lalu, apa namanya kalau bukan anak haram, hah? Aku yakin, selama ini anak itu tersiksa karena tidak tau siapa ayahnya! Ha ha ha, kau benar-benar seorang ibu yang kejam."


Lagi-lagi Kenzi mengatakan hal yang begitu buruk pada Alin. Tentu saja kini Alin sudah kehilangan kesabaran, dia berlari ke sembarang arah untuk menumpahkan air matanya. Meninggalkan Kenzi yang kini tersenyum puas.


"Paman," ucap seorang anak laki-laki yang sejak tadi sebenarnya mendengar percakapan mereka.


Kenzi tersentak kaget begitu melihat Naufal yang muncul tiba-tiba.


"Ka-kau? Sejak kapan kau di situ?" tanya Kenzi dengan wajah gugup.


"Paman, aku memang tak pernah bertemu ayahku. Tapi … Mami bukanlah seorang ibu yang kejam. Paman, jaga bicaramu," ucap Naufal dengan suara yang datar tapi penuh ancaman. Anak sekecil itu, dia tahu bahwa dirinya harus melindungi Alin dari pria jahat seperti Kenzi.


Naufal pun mengejar Alin yang terus berlari, meninggalkan sosok Kenzi yang kini tiba-tiba merasa resah setelah mendengar ucapan Naufal.


***


"Mami!" panggil Naufal ketika melihat ibunya menangis di taman dekat wahana kereta gantung.


Alin menoleh, kemudian terlihat sosok Naufal yang terengah-engah. Mata Alin pun membulat kaget. 'Jangan-jangan Naufal mendengar ucapan Kenzi barusan?'


Alin menghampiri Naufal yang kini terduduk di tanah. Anak itu kelelahan.


"Nau sayang, jangan lari-lari, kan, baru sembuh," ucap Alin. Mata Alin masih terlihat merah karena baru menangis. Bahkan sisa-sisa air matanya masih kelihatan.


"Mami, jangan nangis," ujar anak itu.


"Mami nggak nangis, Sayang." Alin berdusta, sayangnya Naufal tak percaya.


"Mami nggak kejam, kok. Mami adalah ibu paling baik di dunia." Naufal memeluk tubuh Alin lalu menangis di dadanya.


'ya Tuhan, Nau mendengar semuanya. Maafkan Mami, Nak. Ini salah Mami. Dia … Pria itu, adalah ayahmu. Maafkan mami tak bisa memberitahu kalian sebenarnya,' ucap Alin dalam hati.


"Cup … sayang. Sudah, jangan nangis. Yuk, kita main lagi. Oh, iya Om Rafa tadi mau ajak makan lho. Sebentar Mami telpon Om Rafa dulu, soalnya tadi Om Rafa pergi ke kedai. Pasti sekarang dia nyariin Mami."

__ADS_1


Alin mengambil ponselnya di dalam tas lalu segera menghubungi nomor telepon Rafa. Benar saja feeling Alin, Rafa mencarinya dan Naufal. Sekarang Rafa menunggu mereka berdua di kedai, dia sudah memesan makanan untuk mereka.


Alin menutup teleponnya lalu menggendong tubuh Naufal menuju kedai. Dia menggendong anak itu karena takut Naufal kelelahan setelah berlari barusan.


"Mami, Mami nikah saja sama Om Rafa. Mau, ya, Mami. Nikah sama Om Rafa."


Entah keberanian dari mana, Naufal bisa berkata seperti itu. Dia hanya ingin ada laki-laki dewasa yang bisa melindungi ibunya.


Alin hanya tersenyum pasrah mendengar ucapan sang anak. Dia tak mau menjawab ataupun menolak, sebab saat ini yang terpenting bukan masalah itu. Yang terpenting adalah mencari donor sumsum tulang belakang untuk sang anak.


***


Di kedai ternyata ada Kenzi dan Melodi juga. Mereka makan di tempat yang sama, hanya saja makan di meja yang berbeda.


Alin dan Naufal menghampiri meja yang sudah disiapkan oleh Rafa. Di atas meja itu, tersedia makanan kesukaan Alin dan Naufal.


Ketiganya tampak seperti keluarga yang bahagia. Alin sosok ibu yang sangat cantik, Rafa sosok ayah yang tampan dan perhatian, juga Naufal sosok anak yang lucu dan ikut.


Sementara di meja lain, Kenzi sulit untuk memalingkan wajahnya dari ketiga orang itu. Hatinya panas tidak karuan melihat kemesraan antara Rafa dan Naufal. Dia tak mengerti mengapa bisa merasakan hal seperti itu.


"Tidak, cepat habiskan makananmu. Kita harus pulang," ujar Kenzi. Dia pun segera menghabiskan makanan miliknya dan berusaha menepis perasaan tak enak yang bersarang di hatinya.


Setelah selesai makan, Melodi mengajak Kenzi untuk berpamitan pada Alin dan Naufal.


Naufal yang semula ramah pada Kenzi, kini terlihat tak acuh. Dia bahkan tak melirik sedikit pun ke arah pria itu. Sebaliknya, dia sangat menempel pada sosok Rafa.


"Sudah, ayo kita pulang!" seru Kenzi. Suaranya terdengar marah, dia tak suka melihat kedekatan antara Naufal dan Rafa. Kenzi dan Melodi pun meninggalkan tempat itu.


Alin hanya bisa menghela napas berat. 'Janhan salahkan aku, Kenzi. Kau sendiri yang membuat Naufal membencimu,' ujar Alin dalam hati.


***


Hari Senin pun tiba. Alin bekerja di mall seperti biasanya. Namun, kali ini Alin juga membuat beberapa video untuk dia edit dan dia posting di media sosial. Ya, dia berharap dengan menjadi konten kreator, dia akan mendapatkan pundi-pundi rupiah untuk pengobatan Naufal yang tak gratis itu.


Ketika Alin sedang beristirahat, tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor itu belum disimpan, tetapi dia ingat itu adalah nomer paman Melodi, yang tak lain adalah Kenzi.

__ADS_1


Alin enggan mengangkat teleponnya. Dia pun menyibukkan diri dengan membersihkan beberapa etalase tempat sepatu-sepatu dipajang.


Di tempat lain, Kenzi ngamuk-ngamuk tidak jelas karena Alin mengabaikan teleponnya.


Alex yang melihat itu sangat-sangat kewalahan. Bosnya ini sebenarnya kenapa?


"Alex. Buat acara perjamuan di hotel kita. Untuk merayakan berdirinya restoran baruku. Dan kamu pastikan, Alin menyanyi di acara tersebut. Berikan gaji yang besar agar wanita itu mau," perintah Kenzi pada sang asisten.


"Ba-baik, Bos!" Jawab Alex cepat.


'Oh, sepertinya Bos uring-uringan seperti ini karena ada sesuatu dengan Nona Alin? Sebenarnya apa hubungan Nona Alin dengan Bos?' tanya Alex dalam hati.


Dia pun bergegas mengabari band yang mengisi acara di ulang tahun Nenek Aulia. Dia meminta agar Alin yang bernyanyi lagi kali ini.


***


Alin baru saja selesai mengganti pakaiannya. Dia hendak pulang, tapi tiba-tiba tubuhnya didorong, dia dibawa paksa ke dalam kamar mandi perempuan.


Tiga orang perempuan yang merupakan pegawai lama itu terlihat sinis saat melihat wajah Alin yang cantik meski sudah menghapus make-upnya.


"Lo pasti pakai susuk, kan! Ngaku?" seru seorang pegawai bernama Rahma. Wanita itu yang paling iri pada Alin karena dia ingin sekali diajak syuting tetapi bos malah mengajak Alin.


"Sudah pasti dia pakai susuk. Juga sudah pasti dia ini jadi simpanan om-om. Makanya bisa perawatan muka kayak gini," sahut yang lain.


Alin benar-benar merasa kesal pada ketiga teman pegawai itu. Dia tak pernah sedikitpun mengganggu mereka, tapi kenapa mereka selalu iri padanya.


"Lepaskan!" pinta Alin. Kedua tangan Alin diikat dengan tali.


"Lepas? Sory, gue nggak bisa. Ini hukuman buat Lo yang udah sok kecantikan di sini!" Seru Rahma. Dia pun melakban mulut Alin kemudian mengunci Alin di dalam kamar mandi lalu menuliskan tulisan WC sedang diperbaiki di pintunya.


"Mampus!" seru ketiga wanita itu. Mereka tertawa puas lalu meninggalkan Alin yang terkurung di dalam toilet.


Di dalam toilet, Alin ingin berteriak, sayang mulutnya tertutup.


Dia hanya bisa berharap dalam hati, kali ini ada yang menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2