
Lagi-lagi keheningan menemani perjalanan Alin dan Kenzi ke rumah Nenek Aulia. Kenzi menyesal karena menanyakan hal yang kurang tepat. Dia pun memilih diam sampai di depan rumah neneknya.
Saking semangatnya Nenek Aulia menyambut kehadiran sang cicit, dia sudah menunggu di depan dengan wajah sumringah. Padahal, cuacanya sangat terik. Keringat keringat kecil juga terlihat menghiasi wajah keriput Nenek Aulia.
Alin dan Kenzi segera keluar dari mobil. Kenzi menggendong Naufal, sontak anak berusia empat tahun itu terbangun. Matanya mengerjap lucu. Dia mencari sosok Alin, takut kalau-kalau saat dia terbangun ibunya tak ada lagi di sampingnya.
"Ya Tuhan, ternyata aku sudah punya cicit!" seru Nenek Aulia. Tubuh ringkih itu berlari menghampiri Naufal yang masih kebingungan di gendongan sang ayah.
Alin menunduk, merasa malu karena sudah menyembunyikan Naufal dari Nenek Aulia. Dia berpikir, pasti Nenek Aulia sangat marah padanya.
Akan tetapi, pikiran Alin salah. Nenek Aulia memeluk tubuh Alin begitu sampai di dekatnya.
"Ya Tuhan, betapa beratnya kamu, Nak. Mengurus dan membesarkan cicitku sendiri tanpa kehadiran sosok suami," ucap Nenek Aulia disertai Isak tangis.
Kenzi yang mendengar hal itu langsung menoleh melihat reaksi wajah Alin. Alin hanya tersenyum kecil, menerima pelukan hangat neneknya itu.
Alin disambut baik oleh Nenek Aulia. Nenek itu langsung menciumi pipi cabi Naufal.
"Aku nenek buyutmu, siapa nama kamu, anak manis?" tanya Nenek Aulia.
Naufal tersenyum senang. "Yeee aku punya nenek buyut! Aku Naufal, Nenek. Panggil aku Nau!" jawab anak itu dengan semangat yang menggebu gebu.
"Nek, bertanyalah sepuasnya nanti. Sekarang ayok kita masuk dulu. Pasti Naufal juga sudah haus." Kenzi memberi interupsi.
Namun, bukannya menuruti ucapan sang cucu. Nenek Aulia malah memukul kepala Kenzi dengan kencang menggunakan tongkatnya. Sontak, Kenzi pun mengaduh kesakitan.
"Dasar cucu nakal kamu, laki-laki nggak berguna. Ke mana saja kamu selama Lima tahun? Kenapa baru sekarang kamu bawa cicitku pulang, Kenzi!" suara Nenek Alin meninggi. Membuat Kenzi merasa takut dan sedikit bersalah.
"Sudah, Nek jangan menyalahkan Kenzi saja, aku juga bersalah. Ayo masuk," ajak Alin dengan wajah yang tenang.
"Cucu mantuku memang paling baik. Cuma pria bodoh yang tidak bisa menyadari hal itu," sindir Nenek Aulia pada Kenzi.
Mereka pun memasuki rumah Nenek Aulia yang sangat besar. Namun, selama ini Nenek Aulia merasa kesepian. Dulu, ketika Kenzi dan Alin masih jadi suami istri. Alin selalu menjenguk dan menginap di rumah ini.
__ADS_1
Alin merasa hatinya berdenyut haru. Perasaan lengkapnya kekeluargaan yang sudah lama hilang dalam hidupnya.
Nenek Aulia mengajak Naufal dan Alin ke ruang keluarga. Mereka duduk di sofa.
Di atas meja sudah tersedia banyak camilan anak-anak dan susu UH* kesukaan anak-anak. Naufal sangat senang menerimanya.
"Kenzi, kau ajak lah Nau ke ruang atas. Nenek sudah banyak sekali membelikan mainan untuk Nau," ujar Nenek Aulia.
"Nek, Alin baru sembuh. Biar Alin istirahat dulu, baru Nenek ajak ngobrol, ya," bujuk Kenzi. Dia sebenarnya agak was-was ketika meninggalkan Nenek dengan Alin.
Sayangnya sikap Nenek Aulia begitu tegas pada Kenzi.
"Jangan atur-atur Nenek! Sana bawa Naufal! Nenek mau di sini sama Alin."
Alin hanya bisa tersenyum melihat tingkah pasangan cucu nenek itu. "Sudahlah, Kenzi. Kau turuti saja kata Nenek," ucap Alin. Biar bagaimanapun, pasti Nenek ingin mendapatkan penjelasan dari mulutnya langsung.
Kenzi akhirnya mengalah. Dia membaca Naufal menuju ruang atas. Dan ketika sampai, benar saja banyak sekali mainan untuk Naufal.
Anak berusia empat tahun itu berteriak heboh, karena melihat mainan-mainan bagus yang sudah dia sukai sejak lama tapi belum terbeli.
Di ruang tamu, Nenek memandang Alin dengan seksama. Wajah Alin sedikit pucat.
"Alin, sekarang ada Naufal di antar kamu dan Kenzi. Apa kamu tidak ingin kembali menjadi istri dia?" tanya Nenek to the point.
Alin tersentak kaget. Dia tak menyangka hal yang akan ditanyakan oleh Nenek Aulia justru mengenai hal ini.
"Nek, bukankah Kenzi akan menikahi Laura?"
Nenek Aulia menghela napas berat. Sebenarnya, dibandingkan dengan Laura, Nenek lebih menyukai Alin.
"Apa kamu siap melihat anakmu memanggil wanita lain dengan sebutan ibu atau mama?" tanya Nenek Aulia.
Alin tersenyum. 'Yang paling penting, aku tidak dipisahkan dari anakku, Nek,' jawab Alin dalam hati.
__ADS_1
"Andai Kenzi bisa lebih percaya padamu saat itu. Pasti kalian bisa hidup bahagia. Sayangnya anak itu tak mau mendengar kata nenek."
Nenek Aulia adalah satu-satunya orang yang tidak mempercayai bahwa Alin selingkuh. Dia yakin, Alin adalah wanita baik-baik.
"Itu sudah masa lalu, Nek. Lagi pula, kita tak punya bukti. Lagi pula, sekarang aku dan Naufal sudah ada di sini. Untuk apa mengungkit hal yang sudah lama?"
"Dasar anak baik. Ya sudah, kalau gitu Nenek nggak akan maksa kalian untuk bersama."
Alin mengangguk. Dia hendak menyusul Naufal dan Kenzi tapi tiba-tiba suara Laura terdengar dari arah pintu utama.
"Nenek!" seru Laura. Perempuan itu berlari mendekat ke arah Nenek Aulia lalu memeluk tubuh Nenek Aulia. Tidak lupa dia cipika cipiki. Tampak sangat akrab dan dekat.
"Nenek sudah lihat anak ganteng itu, kan? Gimana, Naufal sangat manis sekali bukan? Aku menjaganya beberapa hari yang lalu saat dia baru selesai operasi," jelas Laura, seakan-akan menjelaskan bahwa dia sudah siap menjadi ibu sambung bagi Naufal.
Alin yang mendengar ucapan Laura pun sedikit tidak nyaman hatinya. Di saat Naufal selesai operasi? Saat itu, apakah Naufal tidak menanyakan kehadirannya? Batin Alin bertanya-tanya.
"Kenzi dan Naufal sedang di atas. Biarkan mereka istirahat. Kamu pulang saja," jawab Nenek Aulia tanpa menjaga perasaan Laura sedikit pun.
Laura cemberut mendengar jawaban dari wanita tua di depannya.
"Aku kangen sama anak itu, Nek. Dia juga pasti kangen banget sama aku!" seru Laura. Dia pun segera berlari menuju lantai dua. Meninggalkan Alin yang berdiri di tangga.
Alin menoleh ke arah Nenek Aulia.
"Nek, itu … aku mau istirahat. Di kamar mana ya?" tanyanya gugup dan malu.
Alin merasa, dirinya bukan siapa-siapa di rumah ini.
"Kamar yang biasanya saja, Alin. Satu lagi, jangan anggap omong kosong Laura tadi. Dia kayak gitu pasti cuma ingin bikin kamu sedih," ucap Nenek Aulia yang mengerti ekspresi wajah Alin.
Alin hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju kamar yang biasanya dia pakai untuk menginap dulu.
Sesampainya di kamar, tangis Alin pecah. Dia bisa berpura-pura kuat di depan Nenek, Naufal, bahkan Kenzi. Tetapi ketika sendiri, dia sangat rapuh.
__ADS_1
"Tuhan, apakah aku mampu melihat anakku hidup bersama dengan wanita lain sebagai ibu sambungnya?" tanya Alin. Sampai saat ini, Alin tak tahu bahwa Kenzi membatalkan rencana pernikahan dengan Laura.