
Alin, Naufal dan Melodi berjalan-jalan ke pantai. Ketiganya tampak sangat senang, terutama Naufal. Mereka berenang, makan di pinggir pantai, berfoto dan lainnya.
Setelah mereka lelah, Alin pun mengajak pulang.
"Nyonya, Tuan Kenzi meminta anda pergi ke restoran A, Tuan muda Naufal dan Nona muda Melodi biar saya antar ke rumah," ucap Alex.
Alin melihat arloji di tangannya. Dia pun mengangguk lalu memasuki mobil. Melodi dan Naufal kelelahan, mereka pun tertidur di dalam mobil.
Alex memberhentikan mobil di depan sebuah restoran. Alin terhenyak sekejap melihat tempat tersebut.
"Untuk apa Kenzi mengajakku ke sini?" Batinnya.
Restoran ini adalah tempat makan favorit mereka dulu. Sebelum Alin berpisah dengan Kenzi. Alin pun turun dari mobil, tak lupa dia menyuruh Alex untuk berhati-hati.
Alin berjalan menuju restoran dengan perlahan. Sekelebat masa lalu datang dalam ingatan.
Di sini, adalah tempat Alin dilamar oleh Kenzi. Saat itu, Alin menjadi salah satu wanita paling bahagia di dunia karena dilamar oleh lelaki yang dia cintai.
Ketika kaki Alin memasuki restoran, matanya menatap sekeliling. Sepi …
Hanya ada seorang pria yang duduk, tepat di meja yang dulu mereka pakai.
Alin kebingungan. Untuk apa semua ini?
Kenzi melambaikan tangan pada Alin, berisyarat agar Alin mendekat. Mata mereka terkunci, dan Alin merasakan desiran asing kembali datang di dalam hatinya.
"Silakan duduk," ucap Kenzi.
Alin mendudukkan dirinya di kursi. Dia memandangi sekeliling. "Kau memesan satu restoran?" tanya Alin to the point.
"Ha ha, iya. Sekarang aku cukup kaya untuk membooking tempat ini. Bagaimana, apa kau suka?" tanya Kenzi.
Kenapa Kenzi harus mengatakan hal seperti itu.
"Buang-buang uang," jawab Alin.
Kenzi menatap mata wanita itu dengan tajam. Banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Alin, terutama setelah melihat postingan Rendy beberapa waktu lalu.
Apakah benar selama ini Alin tak bersalah?
Pelayan datang membawakan makanan pesanan Kenzi. Dan semua makanan itu adalah makanan kesukaan Alin. Alin sampai kebingungan. Namun, dia tak bertanya lebih.
"Ayo dimakan," ucap Kenzi.
Alin pun mulai mencicipi makanan yang tersedia di atas meja. Wajahnya langsung berseri ketika rasa makanan di tempat itu tak berubah. Masih sama seperti dulu.
__ADS_1
Akan tetapi, berbeda dengan Kenzi. Dia tak begitu antusias pada makanannya. Dia lebih antusias pada ekspresi wajah Alin saat ini.
"Alin, apakah rasa makanan ini sama seperti perasaan kamu padaku?" tanya Kenzi.
Alin menghentikan kunyahan. Dia menatap wajah Kenzi yang saat ini memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Untuk apa kau tanyakan hal ini?"
"Jawab saja," ujar Kenzi. 'Jika perasaan kau masih sama, aku bersedia… bersedia menjadi tempatmu bersandar kembali,' tambahnya dalam hati.
Namun, Alin tak mampu mendengar isi hati Kenzi. Dia menggeleng.
"Kau sudah akan menikah, tentu saja aku tak mungkin memiliki perasaan pada calon suami orang lain," ucap Alin berdusta.
Kenzi mengepalkan tangannya. Ternyata dia benar-benar telah tak memiliki posisi di dalam hati Alin.
Cincin yang sejak tadi dia genggam di dalam saku pun tak kunjung dikeluarkan. Kenzi hanya bisa tertawa miris di dalam hati.
***
Alin kelelahan, sejak masuk ke dalam mobil Kenzi, dia langsung tertidur sampai di depan rumah Nenek Aulia. Kenzi hendak membangunkan wanita itu, tetapi melihat wajah Alin yang tenang dan tersenyum dalam tidurnya, Kenzi tak tega.
Dia pun menggendong Alin ke kamar.
Sesampainya di kamar, Kenzi meletakkan tubuh Alin perlahan. Namun, tangan Alin masih memegang leher Kenzi dengan erat. Mau tak mau, tubuh Kenzi ikut ambruk.
Tangan kekar pria itu pun mengelus wajah Alin. "Bagunlah," ujar Kenzi.
Alin dalam keadaan bermimpi. Di dalam mimpinya, dia sedang berbulan madu dengan Kenzi. Dia berlarian di pinggir pantai malam-malam sambil melihat bintang. Kenzi memeluknya dengan erat.
Wajah Alin pun tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum, Alin?" tanya Kenzi. Pria itu merasa lucu karena Alin tertawa kecil ketika tidur.
"Kau pasti bermimpi hal yang menyenangkan," lanjutnya.
Mata Alin terbuka, namun dia tak sadar bahwa ini bukan di alam mimpi. Wajah mereka berdekatan, dan … cup. Bibir mungil Alin mengecup bibir Kenzi.
Mata Kenzi membelalak. Jantungnya berpacu cepat.
"I Love you," bisik Alin pada Kenzi.
Pertahankan Kenzi mulai goyah. Selama lima tahun, dia tak pernah menyentuh wanita lain. Saat ini, di depannya. Wanita yang masih mengisi hatinya malah menciumnya.
"Alin, apa kau sadar? Kau menciumku," ujar Kenzi.
__ADS_1
Alin tersenyum. Dia masih berpikir bahwa dia di dalam mimpi. Dan Kenzi yang sedang memeluknya itu adalah Kenzi yang ada di alam mimpi.
Tangan Aku mengelus rambut hitam Kenzi. "Kenzi, i Love you," ucap Alin. Kali ini terdengar jernih, jelas, tak ada ragu-ragu.
Hati Kenzi tiba-tiba menghangat. Dan bagian tubuhnya yang bawah memanas. Kenzi menelan ludah susah payah. Dia pun melonggarkan pelukannya.
Menyentuh wajah Alin, lengan Alin dan pinggang Alin. Perlahan-lahan tapi pasti.
Alin mendesah.
"Alin, tatap mataku. Kalau kau menyuruh aku berhenti maka aku akan berhenti," ujar Kenzi di sela-sela gairahnya.
Alin tertawa kecil, lalu berkata, "Sayang, jangan berhenti." Mata Kenzi lagi-lagi memelotot.
"Alin, jangan salahkan aku," ucap Kenzi kemudian mencium bibir Alin dengan dalam. Mel*mat hingga keduanya kesulitan bernafas.
Malam itu, Alin menyerahkan kembali tubuh dan hatinya pada Kenzi.
Kenzi merasa bahagia. Begitu juga Alin, dia merasa mimpinya begitu nyata.
Di saat Kenzi menyentuh, mencium, memeluk, dan membisikkan kata-kata manis. Semuanya terasa nyata.
***
Alin terbangun, dia mengerang ketika merasakan tubuh bagian b*wahnya perih dan pegal. Tangannya sulit untuk digerakkan, ternyata ada lengan Kenzi yang memeluk tubuhnya.
Alin sontak terkejut. Dia langsung melihat sekeliling.
"Aku … di mana ini?" Alin berusaha mengingat ingat.
Mata Kenzi pun terbuka perlahan lahan. Dia mengeratkan pelukan pada wanita di sisinya.
"Kenzi?" tanya Alin.
Sebentar… sebentar. Alin mencubit lengannya.
"Aw, sakit." Dia mendesah, ini bukan mimpi. Pria di sampingnya juga nyata. Jadi… jadi …. Mereka melakukan?
Alin masih belum percaya, dia memandang wajah Kenzi lalu tangannya mencubit hidup pria itu.
Kenzi memelotot. "Kenapa kau mencubit hidungku?" tanya Kenzi.
Alin gugup, pipinya kemerahan. Dia ingin sekali menutupi wajahnya, tapi Kenzi malah memegangi tangannya.
"Kenzi, eh … kita?" Malu rasanya Alin untuk bertanya. Toh, sudah jelas. Pria di depannya ini tidak berpakaian. Dia juga merasakan tubuhnya tak dilapisi apa-apa selain selimut putih ini.
__ADS_1
Kenzi tersenyum. "Kenapa? Kau melakukannya tanpa sadar, ayolah Alin. Kau tidak mabuk. Kau benar-benar sadar."
Wajah Alin semakin memerah. Iya, dia tadi melakukannya dengan sadar, tapi dia pikir dia sedang bermimpi.