
Roda kehidupan memang berputar, jadi Alin tak merasa putus asa di saat dia sekarang berada di bawah. Dia sempat terhenyak saat melihat nominal yang harus dibayar ke pihak rumah sakit untuk biaya kemoterapi Naufal. Belum lagi biaya transportasi. Dia juga harus mencari pendonor yang tepat untuk putranya itu. Meski sekarang keadaan Naufal masih terlihat sehat-sehat saja, tapi dia takut Naufal akan mengalami drop di kemudian hari.
Dia juga berharap, dengan rutinnya Naufal menjalani kemoterapi, kanker itu perlahan lahan sembuh tanpa operasi.
“Kemoterapi dilakukan dalam durasi 1 Minggu pengobatan dan 4 Minggu istirahat. Tapi memang cara paling cepat untuk menyembuhkan kanker darah ini adalah operasi, jadi semoga Nyonya Alin bisa mencari donor yang cocok,” ucap dokter.
Alin mengangguk patuh. Dia pun menunggu Naufal yang sedang menjalani pengobatan di lorong rumah sakit. Dia melihat jam di pergelangan tangan, beberapa jam ke depan dia sudah harus sampai di hotel Z. Beruntung dia sudah membawa baju ganti untuk tampil malam ini.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Naufal keluar dari kamar pengobatan. Dia terbaring di atas bed. Wajah Naufal sedikit pucat. Alin pun menemani Naufal kembali ke kamar rawat inap anak.
Sesampainya di kamar, Alin segera mendekati Naufal lalu berkata lembut.
“Sayang, kita pulang besok pagi, ya. Malam ini Nau tinggal di rumah sakit dulu sama Nenek. Mami ada pekerjaan.”
Sebenarnya Naufal tak mau ditinggalkan Alin malam ini, tapi dia juga tidak bisa mencegah ibunya itu. Dia tau, ibunya harus bekerja demi dirinya.
“Mami, kalau Nau sudah besar nanti, Mami tidak perlu bekerja lagi. Biar Nau yang cari uang untuk Mami,” ucap anak berusia empat tahun itu.
Alin benar-benar terharu dengan ucapan sang anak. Dia memeluk Naufal lama sebelum keluar dari kamar itu.
Beberapa panggilan tak terjawab dari rekan band-nya pun sudah tak bisa terhitung. Dia segera berlari ke arah parkir dan mencari-cari taksi yang lewat di sekitar sana.
“Semoga aku nggak terlambat,” ucap Alin. Dia melihat sebuah taksi kosong hendak keluar dari area parkir, dia pun segera berlari untuk mencegatnya. Mobil taksi pun berhenti.
“Pak, hotel Z,” ujar Alin setelah duduk di kursi belakang.
Sopir taksi mengangguk lalu segera menyalakan mobil. Di dalam taksi, Alin segera membenahi dandanannya. Dia sudah tak ada waktu untuk mengganti pakaian, jadi dengan terpaksa dia harus mengganti pakaian di dalam mobil.
“Pak! Jangan coba-coba melihat ke belakang!” seru Alin memperingati si sopir.
Alin pun segera mengganti pakaiannya dengan gaun yang cantik.
**
Taksi berhenti di parkiran hotel Z beberapa menit sebelum acara dimulai. Telepon Alin kembali berdering. Dia segera mengangkatnya.
__ADS_1
“Lin, lo udah nyampe mana? Cepet!” seru Hendi—salah satu rekannya.
“Gue udah di parkiran hotel. Bentar lagi gue naik,” jawabnya terburu-buru. Dia segera membayar taksi tersebut lalu terkejut sejenak setelah melihat bahwa orang yang mengendarai mobil ternyata seorang perempuan.
“Terimakasih, Non,” ucap sopir itu sopan. Mobil pun menjauh. Alin juga tak mau berlama-lama di tempat itu, dia segera naik menggunakan lift.
**
Sesampainya di lantai 5, Alin segera bergabung dengan grup band-nya. Pembukaan restoran milik Kenzi ternyata lumayan meriah. Bahkan, beberapa artis pun diundang. Tiba-tiba Alin merasa gugup.
“Kenapa sih harus band kita yang dapat job di acara ini. Jelas-jelas yang punya acara bisa ngundang artis. Masa dia gak bisa membayar penyanyi profesional,” gerutu Alin yang didengar oleh seluruh rekannya.
“Hus, Lo gak boleh ngomong gitu. Ini rezeki kita, mana boleh ditolak,” sahut Hendi. Pria itu benar-benar bersyukur karena bisa dapat job di saat dia membutuhkan uang untuk sang istri yang sedang mengandung anak pertamanya.
Alin menepuk bibirnya yang terlalu blak-blakan. Dia pun meminta maaf.
“Ayo, kita naik ke panggung. MC sudah membuka acara. Kita bentar lagi tampil.”
Alin naik ke atas panggung. Tetapi dia sama sekali belum melihat sosok Kenzi di antara para tamu.
Berikutnya, Alin pun bernyanyi. Dia menyanyikan lagu yang cukup populer beberapa minggu ini.
In my life, in my mind
Where i make up stories all the time
And i pretend that i am not sameone
Left to face the world alone
Lately i’m not the same
I’ve found a stranger calling out my name
Have a feeling you would be so proud
__ADS_1
And he’s gon’ need me now
But he’s not you
He’s not you ....
He Will never be you ....
Suara Alin mengalun merdu. Membuat para tamu undangan nyaman berlama-lama mendengarkan lagunya. Ditambah pesona wajah Alin yang begitu memikat. Banyak para pengusaha sukses yang hadir di sana dan tertarik pada sosok penyanyi cantik itu.
“Suaranya merdu, wajahnya cantik,” puji seorang pria dengan wajah rupawan. Dia adalah salah satu rekan bisnis Kenzi yang diundang ke acara malam ini.
“Dia pacar Adrian, Ga,” jawab gadis di sampingnya. Rupanya, Bianca juga hadir di acara tersebut untuk menggantikan sang ayah yang tak bisa hadir.
“Adrian? Your crush?” tanya pria itu kaget.
“Yups, aku akui wanita itu memang memukau. Jadi pantas saja Adrian menyukainya.” Bianca menatap ke arah Alin yang masih sibuk menghayati lagunya.
“Ayolah, Bianca. Kau pasti tertipu. Adrian itu mana sempat punya pacar. Dia terlalu sibuk dengan pasien-pasiennya,” komentar Arga.
“Entahlah, ah ayolah jangan membahas dia di sini.” Bianca muak membahas pria yang sangat dikaguminya sejak kecil itu.
Sementara di tempat lain, seorang pria tampak tegang karena mendengar percakapan antara Bianca dan Arga.
“Adrian? Wanita ini benar-benar pintar merayu pria,” ucap Kenzi kesal.
**
Setelah menyanyikan beberapa lagu pembuka acara, Kenzi pun naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan. Seluruh tamu perempuan tampak memberikan respon yang sangat berkesan. Mereka begitu mengagumi sosok Kenzi yang masih muda tetapi sudah sukses.
Alin memperhatikan dari belakang panggung. Dia juga sadar, seandainya saat ini dia masih menjadi istri Kenzi. Mungkin Kenzi tak akan sesukses ini. Tiba-tiba perasaannya tak bisa dikendalikan. Ada rasa sakit dan kecewa di dalam hatinya.
Kenzi memotong pita di atas panggung. Aura kelam dan dinginnya begitu terlihat. Membuat para pebisnis semakin ingin selalu bekerja sama dengan perusahaan milik Kenzi.
Di saat semua orang sibuk melihat ke arah panggung. Seorang gadis tampak melancarkan rencananya. Dia tersenyum tipis lalu pergi dari belakang panggung. Siapa lagi kalau bukan Laura, gadis yang memiliki dendam kesumat pada Alin.
__ADS_1
“Kali ini, aku akan membuatmu malu, Alin. Rasakan pembalasanku,” ujar gadis itu.