Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Setelah berpisah Lima tahun


__ADS_3

Laura memasuki ruangan yang penuh dengan mainan. Dia melihat pasangan ayah anak itu sedang bermain sangat seru. Dengan tidak tau malu, Laura mendekat ke arah Kenzi lalu memeluknya dari belakang. Tentu Naufal kaget. Begitu pula Kenzi, dia langsung melepaskan pelukan Laura.


"Tante? Kenapa peluk Ayah?" tanya Naufal. 


Laura sengaja melakukan hal itu di depan Naufal. Dia sudah menyusun strategi sebelumnya.


Kenzi menatap Laura dengan tatapan tajam. "Laura, kenapa kau ada di sini?"


"Kan aku sudah bilang, aku tidak mau rencana pernikahan kita batal. Aku ke sini tentu saja ingin lebih dekat dengan calon anak tiriku," ujar Laura sengaja agar Naufal mendengarnya. Baginya, jika dia tak bisa mendapatkan Kenzi, maka Alin pun tak boleh hidup bersama Kenzi lagi.


Naufal menatap ke arah ayahnya. Tatapan penuh tanya itu membuat emosi Kenzi meluap pada Laura.


"Pergi!" sentak Kenzi pada wanita di depannya. 


Laura merasa kemarahan Kenzi kali ini terlalu besar. Dia pun memilih mengalah dan keluar dari ruangan itu. Namun, saat telah meninggalkan Kenzi dan Naufal, Laura menampilkan senyum misterius. Laura benar-benar terobsesi pada Kenzi.


"Aku akan tetap berusaha keras untuk bisa memiliki kamu," ujar Laura, kemudian menuruni tangga. 


***


Kenzi menatap wajah anaknya yang kini tak tersenyum lagi. Naufal anak yang cerdas. Dia tahu, bahwa Laura menyukai ayahnya.


"Nau, jangan dengarkan Tante itu. Dia berbohong," ucap Kenzi.


"Tapi, kenapa ayah mau dipeluk sama dia?" 


"Loh, tadi ayah langsung melepaskan pelukan dia kan?" ucap Kenzi tak terima.


"Tapi, ayah kemarin nyuruh dia nemenin aku di rumah sakit. Ayah dekat sama dia?"


Kenzi mengutuk dirinya sendiri karena berbuat bodoh seperti kemarin.


"Bukan begitu, kemarin Mami kan sakit. Jadi Ayah menyuruh dia jagain kamu sebentar," ujar Kenzi beralasan.


"Nau nggak suka sama Tante itu," ucap Naufal sambil memajukan bibirnya.


Kenzi mengangguk anggukan kepala. "Sama, ayah juga nggak suka, kok."


"Tapi dia cantik, masa ayah nggak suka?"


"Masih cantik mami kamu, Nau. Dia nggak ada apa-apanya!" seru Kenzi tanpa sadar.

__ADS_1


"Mami cantik, ya, Yah? Tapi kenapa Mami sama ayah pisah? Mami kurang cantik?" 


Astaga! Kepala Kenzi rasanya akan pecah mendapatkan pertanyaan kritis dari anaknya.


"Itu urusan orang dewasa, Nau. Astaga. Nau, jangan mikir yang nggak-nggak."


Naufal kembali cemberut. "Ayah pilih mana? Tante itu atau Mami?" 


"Tentu saja Mami kamu, Naufal. Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Ayo, Ayah bawa kamu ke kamar kamu." 


Kenzi yang sudah tak kuat apabila mendapat pertanyaan lagi anaknya, langsung membawa Naufal ke kamar yang sudah disediakan oleh Nenek Aulia. Kamar khas untuk anak laki-laki.


"Sekarang kamu istirahat ya. Ayah mau ketemu Mami dulu sebentar." Tanpa menunggu jawaban dari sang anak, Kenzi langsung menuju kamar Alin di lantai bawah. 


**


Kenzi menemui Alin di kamar mereka dulu. Jantung Kenzi berdebar debar kencang. Padahal, dia hanya melihat sosok Alin yang saat ini sedang tertidur di atas kasur dengan ditutupi selimut putih.


Kenzi memelankan langkah, mendekat ke tempat tidur. 


Dia memandangi wajah Alin yang sedikit pucat. Ada bekas air mata di pipi wanita cantik itu. Tangan Kenzi menyekanya perlahan.


Wajah Kenzi mendekat. Debaran jantung pria itu semakin menggila ketika dia mencium aroma khas dari tubuh wanita ini.


Hanya saja, dia belum yakin dengan perasaan dirinya sendiri.


Mata Alin terbuka. Dia melihat wajah Kenzi dengan jarak sedekat ini. Tentu saja, pipinya langsung memanas dan memerah semerah cabai.


Tangan Kenzi perlahan mengelus pipi Alin. Keduanya saling tatap. Tak ada jarak lagi, Alin mulai terpejam ketika bibir lembut Kenzi menyentuh hidungnya, kemudian turun ke bibirnya.


Manis. Manis sekali.


Setelah lima tahun berpisah.


Manis sekali sikap Kenzi saat ini. 


Ketika keduanya hanyut dalam aroma masing-masing, Alin tersadar bahwa dirinya adalah seorang simpanan. Dan saat ini, Kenzi sedang berada di depannya. Hendak menyentuhnya. Menyentuh tanpa ikatan pernikahan.


Hati Alin mendadak perih. Bibirnya mendadak bungkam, tak lagi mengikuti irama Kenzi.


Kenzi menyadari, dia pun berhenti dengan napas yang sedikit tersengal.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa berhenti?" tanya Kenzi dengan suara yang serak. Alin berusaha memalingkan wajahnya, dia tak kuat menatap mata Kenzi dalam jarak sedekat ini.


"Kau tersipu, Alin? Ha ha ha! Berapa lelaki yang sudah membuatmu tersipu seperti ini? Jawab!"


Mata Alin terpejam menahan perih. Sakit hatinya. Apakah Kenzi pikir selama ini tubuh Alin dijual murah pada banyak laki-laki? Kenapa dia bisa berkata seperti itu?


Kenzi kesal, dia pun menjauh dari tubuh Alin yang tampak kaku.


"Aku memiliki surat kontrak," ujar Kenzi. Alin langsung menatap wajah Kenzi dengan tatapan heran.


"Surat kontrak apa?" tanya Alin.


Kenzi pun mengambil seberkas dokumen yang sudah dia print di dalam laci kamar. Setelah itu, dia lemparkan ke wajah Alin tanpa perasaan.


"Baca!"


Alin pun membuka dokumen itu, dan alangkah kaget dia ketika melihat isi kontrak.


"Alin dilarang berhubungan denga pria mana pun selagi Alin menjadi simpanan Kenzi."


Alin ingin tertawa sekaligus menangis membacanya.


"Oke, aku bersedia menandatangani kontrak ini," ucap Alin. 


Tak lama setelah dia berkata, pintu kamar diketuk. Ternyata Naufal mencarinya. 


"Mami, ayah. Aku lapar," ucap anak itu. Dia langsung menghampiri Alin dan duduk di atas paha wanita itu.


"Mau makan apa? Mami masakin, ya?" tanya Alin, Naufal langsung mengangguk dengan semangat.


"Tidak perlu. Di rumah ini sudah ada pembantu. Pekerjaan kecil seperti ini, tak usah dikerjakan olehmu," ucap Kenzi. Dia menarik lengan Naufal pelan, kemudian menggendong anak itu keluar dari kamar.


Alin cemberut, dia pun segera beranjak dari kasur mengikuti Kenzi dan Naufal.


Di meja makan, Naufal sudah duduk tenang di sisi ayahnya. Seharusnya pemandangan seperti ini membuat Alin merasa bahagia, tetapi justru sebaliknya. Dia merasa resah, karena momentum seperti ini hanya akan menjadi kenangan pahit jika Kenzi sudah menikah nanti.


"Kenapa masih berdiri di sana? Ayo ke sini!" perintah Kenzi. Alin pun mendekat. Dia duduk di samping Naufal yang lain. Benar-benar tampak seperti keluarga bahagia jika dilihat dari luar.


"Mami, Nau senang banget. Sekarang Nau bisa makan bareng terus sama Mami dan ayah." Wajah Naufal berseri-seri, membuat hati Alin bahagia bercampur sedih.


'Andai bisa seperti ini selamanya,' batin Alin.

__ADS_1


Melihat Alin hanya terdiam, Kenzi mencubit lengan Alin. Alin pun terbangun dari lamunan. Dia langsung menanggapi ucapan sang anak.


"Iya, Nau. Kita akan makan bersama terus. Mami janji," ucap Alin tanpa sadar.


__ADS_2