Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Kembali bersama?


__ADS_3

Kenzi menggendong tubuh Naufal keluar dari kamar rawat inap menuju mobilnya. Wajah Kenzi terlihat lembut dan penyayang. Dia mengelus-elus rambut Naufal yang halus.


"Katakan, kau ingin hadiah apa?" tanya Kenzi pada Naufal. Anak berusia empat tahun itu menatap Kenzi dalam. Senyumnya terukir perlahan-lahan.


"Apa benar kamu ayahku?" tanya Naufal.


Anak itu masih merasa hidup dalam mimpi. Sebab, selama ini ibunya bilang sang ayah sudah mati. Tapi saat ini, pria tampan yang menggendong dirinya mengaku sebagai ayahnya.


"Kau anakku," jawab Kenzi pelan.


Diam-diam, Kenzi juga sudah melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Alin. Dan dia juga sangat kaget ketika mengetahui bahwa putranya ini menderita leukimia.


Perasaan menyesal dan bersalah itu memukul-mukul hatinya. Sampai dia kesulitan untuk tidur beberapa malam ini.


Sementara di belakang mereka, Santi dan Alin berjalan lebih lambat. Tentu saja karena pasangan ibu anak itu sedang berbincang-bincang dan tak ingin kedengaran oleh Naufal maupun Kenzi.


"Jadi, dia sudah tahu soal Naufal? Kenapa? Bukankah kau bilang tak akan mengenalkan Naufal dengan ayahnya?" tanya Santi.


Alin menghela napas sesaat sebelum bicara. "Bu, sebenarnya bukan hal yang buruk Kenzi mengenal Naufal. Mungkin, dia bisa mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Naufal," jelas Alin dengan wajah tenang.


"Tapi, bagaimana jika keluarga besar dia tahu? Mereka tidak menyukai kamu, Alin. Bagaimana jika mereka membawa Nau?" Santi sangat cemas sampai-sampai dia berpikir berlebihan. Biar bagaimanapun, Alin pernah disingkirkan dari hidup Kenzi lima tahun yang lalu. Bisa jadi, sekarang juga mereka akan menyingkirkan Alin lagi dan membawa Naufal.


"Ibu jangan khawatir. Hak asuh anak itu ada padaku. Aku akan berjuang untuk Nau." Mereka berbicara sampai-sampai tak sadar langkah kakinya sudah dekat dengan mobil Kenzi. Kenzi sudah mendudukkan Naufal di depan. Alin dan ibunya duduk di bagian belakang.


Kenzi mengemudikan mobil secara perlahan, tidak mengebut pun juga tidak terlalu lambat.


"Nau, mau makan apa?" tanya Kenzi. Tangan kirinya mengelus pipi Naufal yang gembil.


"Pangsit, Ayah," jawab Naufal lembut. Suaranya menggetarkan hati Kenzi.


Perasaan hangat ini, lima tahun yang lalu Alin pernah merasakannya.


Tak lama, mobil pun sampai di depan rumah Alin yang sederhana. Mereka keluar dari mobil lalu masuk ke rumah. Terlihat seperti keluarga yang lengkap dan harmonis.


"Ayah? Terima kasih," ucap Naufal.


Anak-anak begitu polos, dia senang saat ayahnya sangat perhatian.


"Baiklah, Ayah sudah memesan pangsit terenak di kota ini. Kita tunggu sebentar, ya," ucap Kenzi. Pria itu duduk di sofa kecil dirumah Alin.

__ADS_1


Sedangkan Santi dan Alin masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Mata Kenzi melihat-lihat sekitar ruangan. Ada banyak mobil-mobilan dan mainan lain yang berserak.


"Nau suka sekali main mobil-mobilan?" tanya Kenzi antusias. Naufal mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, ini semuanya pemberian Om Rafa," jawab Naufal.


Kenzi merasa tenggorokannya tercekat. Dia cemburu pada pria bernama Rafa itu.


"Lain kali, jika Nau ingin mobil - mobilan bilang saja sama Ayah. Oke?" Naufal mengangguk semangat. Sungguh menyenangkan sekali memiliki seorang ayah! batin anak itu.


Dari dalam kamar, Alin mengintip kehangatan Kenzi terhadap anaknya. Tiba-tiba sesuatu meleleh dari sudut matanya. 'Ah, Tuhan. Bisakah seperti ini seterusnya?' harap Alin dalam hati.


***


Pangsit pesanan Kenzi sudah datang. Mereka sekeluarga makan malam bersama. Malam ini, Kenzi dengan sabar menyuapi Naufal sampai mulut anak itu penuh.


Alin makan dengan tenang, sedangkan Santi masih dengan kekalutan dalam hatinya.


"Ibu sudah selesai. Ibu istirahat dulu," ucap Santi lalu pergi meninggalkan Naufal dan kedua orang tuanya.


"Ayah, bisakah Ayah membacakan aku buku malam ini?" Wajah imut Naufal membuat hati Kenzi hanyut. Pria itu tersenyum lalu bergegas mengikuti anaknya masuk ke dalam kamar Naufal.


Dia melihat keadaan kamar Naufal yang sederhana.


"Kamar ini terlalu kecil. Apakah kau tidak kepanasan?" tanya Kenzi. Dia tak melihat ada AC di kamar itu. Naufal menggeleng sebagai jawaban.


"Ayah, ayok! Bacakan aku ini," Naufal membawakan satu buah buku bergambar. Dia pun berbaring di atas kasur.


Kenzi ikut merebahkan dirinya di atas kasur. Dia langsung membacakan buku tersebut. Hanya dalam waktu lima menit, mata Naufal sudah terpejam erat dan napasnya teratur. Menandakan anak itu sudah lelap dalam tidurnya.


Kenzi keluar dari kamar Naufal, dia menghampiri sosok Alin yang masih membersikan meja bekas makan malam mereka.


Setelah Alin selesai membersihkan piring dan gelas kotor. Kenzi memanggilnya dengan pelan.


"Aku ingin bicara," ujar Kenzi sambi menatap wajah cantik Alin.


Jujur saja, di mata Kenzi Alin selalu terlihat sangat cantik meski hanya menggunakan pakaian rumah seperti saat ini.

__ADS_1


Alin mengangguk lalu membuat dua cangkir teh hangat untuk menemani mereka.


Kenzi dan Alin duduk di sofa. Pandangan mata Kenzi tak sengaja melihat foto Naufal saat bayi. Dia pun mengambil foto itu dan menatapnya lama.


"Alin, kau sangat kejam," ujar Kenzi pelan.


Alin terhenyak dalam diamnya.


"Kenapa? Kenapa kau membiarkan anakku tumbuh tanpa kasih sayang dariku? Kenapa? Kenapa kau tak pergi menemui aku? Kenapa aku harus baru tau sekarang? Apakah kau sengaja?" tanya Kenzi dengan mata berkaca-kaca.


Hati Alin terasa sangat tertekan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Kau … apakah kau berniat menikah lagi dan membiarkan dia memanggil pria lain dengan sebutan ayah?! Lalu membiarkan dia melupakan aku? Bahkan tak mengenali aku?"


Kenzi menatap wajah Alin yang kini tertunduk sambil menangis.


"Itu semua karena kamu …. Kamu membenciku, Kenzi. Bagaimana caranya aku membawa dia padamu jika kamu saat itu bahkan tak ingin melihat aku? Bagaimana caranya?" tanya Alin. Suaranya serak karena menangis.


"Bagaimana mungkin aku membenci kamu?" tanya Kenzi marah.


Alin merasa takdir sedang mempermainkan dirinya. Jelas-jelas Kenzi sangat membencinya waktu itu. Tapi sekarang, dia bahkan lupa. Lupa bahwa dirinya membenci Alin.


"Alin. Aku akan mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Naufal," ujar Kenzi. Mata Alin pun memandang Kenzi dengan tatapan cerah.


"Kau sudah tau?"


Kenzi mengangguk, dia segera membuka surat hasil pemeriksaan tubuhnya.


"Hasilnya cocok 98%. Minggu depan Naufal akan operasi," jelas Kenzi.


Alin berterima kasih pada Kenzi. Sekarang beban di hatinya terasa menghilang. Dia sungguh bahagia. Naufal bisa sembuh, Naufal bisa segera sembuh.


"Satu hal lagi, Alin. Aku harap, kita bisa kembali bersama. Aku ingin Naufal memiliki kedua orang tua yang utuh!"


Pada detik ini, jantung Alin seolah-olah berhenti sesaat. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


"Kembali bersama?”


Bisakah? Tapi, bagaimana dengan Laura? Jelas-jelas pada saat itu, Alin mendengar sendiri bahwa Kenzi akan menikahi Laura.

__ADS_1


__ADS_2