
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Sebaiknya kalian berbicara di luar agar saya bisa segera menangani Naufal," ujar dokter.
Mendengar ucapan dokter, Alin pun mengalah dan keluar dari tempat itu, begitu pun dengan Kenzi.
Keduanya diam, tak ada satupun dari mereka yang mau membuka pembicaraan. Alex yang jengah melihat kelakuan bosnya itu segera undur diri. Beralasan ingin ke kamar mandi. Padahal sebenarnya dia ingin membiarkan Kenzi dan Alin bicara dari hati ke hati.
"Alin." Suara berat Kenzi mengalun di telinga Alin. Wanita yang sejak tadi menunduk itu mengangkat wajahnya. Menatap Kenzi dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Bukankah sekarang kau sangat hebat. Seharusnya kau mencari tau sendiri bagaimana kebenaran yang terjadi lima tahun yang lalu."
Alin tak memiliki rasa takut ketika berhadapan dengan Kenzi saat ini. Sebab, yang dia takutkan saat ini adalah keselamatan anaknya.
"Kenapa kita bercerai?" tanya Kenzi.
Alin masih sangat heran dengan perubahan sikap Kenzi yang sekarang. Dia masih ingat, betapa kejamnya Kenzi lima tahun yang lalu. Saat dia bersujud dan bersumpah tak pernah berselingkuh, tetapi Kenzi malah lebih percaya pada ucapan orang lain dibandingkan dirinya.
"Kenapa? Andai kau tak lupa ingatan, mana mungkin kau bersedia duduk di hadapanku seperti ini," ucap Alin sedih.
Kenzi menatap wajah Alin yang tampak kecewa. "Aku … Apakah aku melukaimu? Apakah kita bercerai karena aku?" tanya Kenzi. Kepalanya mulai berdenyut tak nyaman. Seolah ada jarum-jarum tak kasat mata yang mengenai kulit kepalanya.
"Aku berselingkuh." Alin menjawab dengan tenang.
Sedangkan Kenzi terlonjat kaget. "Ba … bagaimana mungkin?" Kenzi tak ingin mempercayai kata-kata Alin saat ini. Tapi ekspresi Alin sama sekali tak terlihat sedang berbohong.
"Ya … kau melihatku keluar dari hotel bersama Rendy–sainganmu. Apa kau ingat?"
Kepala Kenzi makin berdenyut sakit ketika mendapat kenyataan yang begitu menyakitkan ini. Tapi, di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia masih sangat mempercayai Alin. Alin tak mungkin berbuat seperti itu.
"Lalu? Anak itu?"
Kenzi berusaha menahan rasa sakitnya. Setidaknya, sampai dia tahu benar, siapa ayah dari anak yang sedang terbaring lemah di kamar sana.
__ADS_1
"Jika aku katakan dia anakmu, apakah kamu akan percaya?" tanya Alin. Saat ini air matanya mengalir deras. Dia sangat tak tahan ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun, banyak hal yang membuatnya khawatir dan ragu-ragu.
"Jadi, benar dia anakku?" Kenzi memegang tangan Alin dan menggenggamnya erat.
Anggukan kepala adalah jawaban yang saat ini mampu Alin berikan.
'Entah kenapa, aku merasa sangat bersyukur Kenzi lupa ingatan, Tuhan. Sangat bersyukur. Sebab, jika dia tak mengalami lupa ingatan, mungkin di matanya Naufal adalah seorang anak haram.' batin Alin.
"Apa kau percaya?" tanya Alin khawatir karena Kenzi tak bicara sepatah kata pun, setelah tahu kenyataan yang Alin bongkar.
Kenzi terdiam lama lantas meninggalkan tempat itu dengan senyum mengembang. Meninggalkan Alin dengan berbagai macam pikiran tak tenang.
***
"Alex. Kau tau, aku … aku punya anak," ucap Kenzi. Dia pun tertawa terbahak-bahak.
"Bos. Sebenarnya kau ini kenapa?" Alex mulai ketakutan ketika melihat sang atasa tertawa terbahak-bahak. Dia pun segera meneguk minuman di atas meja untuk menghilangkan stres.
'Stres banget punya bos aneh begini,' ucap Alex dalam hati.
Alex hanya bisa terpaku mendengar ucapan sang atasan. Dia sama sekali tidak memahami perasaan Kenzi. Namun, andai dia berada di posisi Kenzi pun, dia akan sama syoknya.
Kenzi merebahkan diri di atas bed. Sekarang ingatannya hilang, dia tak tahu apa yang membuat dirinya langsung menceraikan Alin lima tahun yang lalu tanpa menyelidiki yang sebenarnya terjadi.
"Alex. Kau bekerja denganku di saat aku masih nol, bukan? Tapi kau tak mengenal Alin?" tanya Kenzi penasaran.
Alex menggeleng. "Aku tidak tau siapa Nona Alin, aku hanya diperintahkan Nenek Aulia untuk bekerja denganmu. Nenekku adalah sahabat karib beliau," jelas Alex.
"Jadi waktu itu aku seperti apa?" tanya Kenzi.
"Bos baru memulai bisnis. Bos sangat giat bekerja. Pagi sampai malam setiap hari. Bahkan weekend pun Bos memilih kerja daripada liburan. Bos tidak pernah menceritakan hal-hal pribadi. Saya juga tidak mengenal Nona Alin sebelumnya."
__ADS_1
Kenzi benar-benar lupa, dia tak bisa mengingat selain dirinya adalah suami Alin.
"Apa yang harus aku lakukan? Keluargaku mengatakan bahwa aku mencintai Laura. Tapi hatiku merasa hampa. Apa yang harus aku lakukan?"
Baru kali ini Alex melihat atasannya frustasi.
"Ikuti kata hati bos saja. Jika Bos memang mencintai Nona Laura, maka menikahlah. Jika tidak, mungkin Bos bisa kembali dengan Nona Alin."
***
Tiga hari di rumah sakit, rasanya bagaikan tiga tahun bagi Alin. Sekarang, wanita berusia 28 tahun itu sedang mengemas pakaian nya untuk pulang bersama Santi dan Naufal.
Beberapa hari ini, Naufal tak pernah menanyakan Rafa. Justru anak itu terus-menerus menanyakan Kenzi.
Dia langsung berhenti bertanya saat Santi menegurnya dan mengatakan untuk tidak menyebutkan nama Kenzi lagi. Alin memang belum bercerita pada ibunya tentang Kenzi yang sudah tau status Naufal.
Kenzi juga tak pernah datang lagi ke kamar Naufal sejak hari itu. Alin jadi berpikiran buruk. Jangan-jangan Kenzi tak percaya padanya.
Akan tetapi pikiran buruk itu segera musnah ketika dia melihat sosok Kenzi yang sudah terlihat sehat datang ke kamar Naufal. Santi yang melihat kedatangan Kenzi pun langsung menumpahkan air yang hendak dia minum.
"Sore, apakah aku terlambat?" tanya Kenzi disertai senyuman halus di wajahnya.
"Kau? Kenapa … Kau bisa tahu?" Santi melirik ke arah anaknya yang hanya terpaku memandang Kenzi. Santi pun tak lagi berbicara. Alin berusaha menutupi kegugupan dalam hatinya dengan tersenyum kecil.
"Aku ingin mengantar kalian pulang," ucap Kenzi sebelum Alin bertanya. Dia berjalan ke arah Naufal yang masih duduk di atas bed.
Naufal memandang wajah pria di depannya kemudian melengos.
"Naufal. Bukankah kemarin kau terus-menerus menanyakan Om Kenzi? Ini, orangnya sudah ada," ucap Alin mencairkan suasana yang membeku di antara Naufal dan Kenzi.
Naufal melirik ke arah Kenzi yang saat ini masih memandanginya.
__ADS_1
"Panggil aku ayah, aku adalah ayahmu," ucap Kenzi tiba-tiba. Membuat mata Naufal memelotot lebar. Alin tertegun sejenak.
'Apakah dia mengakui Naufal sebagai anaknya? Semudah ini?' batin Alin bertanya - tanya.