Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Bos Yang Gengsi


__ADS_3

Alin membuka matanya perlahan-lahan ketika cahaya matahari tembus dari arah jendela dan mengenai wajahnya. Alin mulai memulihkan ingatannya.


"Aw." Dia meringis ketika tangan kanannya terasa perih. Dia pun melihat ke arah tangannya yang diperban.


"Aku? Aku selamat?" tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba, Alin merasakan sakit, takut dan sesak di hatinya. Dia memeriksa seluruh tubuhnya yang kini sudah memakai baju tidur.


Alin tidak merasakan keanehan di **** *************. Hanya sakit di bagian tangan yang dia lukai dengan kaca saja.


Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang pelayan datang membawakan segelas susu dan bubur untuk Alin.


"Selamat pagi, Nona. Silakan menikmati sarapan terlebih dahulu," sapa pelayan itu ramah.


Alin merasa tak asing dengan kamar ini. Namun dia tidak ingat, dirinya sedang berada di mana.


"Bi, jangan pergi dulu. Ada yang mau aku tanyakan," ucap Alin ketika melihat si pelayan hendak keluar dari kamarnya.


"Iya Nona?"


"Di mana aku?" tanya Alin to the point. Pelayan itu mengernyitkan keningnya,dia merasa heran.


"Ini … rumah Nyonya Aulia, Nona. Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya si pelayan.


"Aulia? Aulia yang mana? Apa jangan-jangan …."


Karena tidak mendapatkan pertanyaan lagi dari Alin. Pelayan itu pun keluar dari kamarnya.


Sementara Alin masih menebak-nebak, siapa yang telah menolongnya kali ini. Dia akan sangat berterima kasih pada orang yang telah menolongnya.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka lagi. Alin yang sedang memakan buburnya pun menoleh. Ternyata, benar apa yang dia pikirkan barusan. Ini adalah rumah Nenek Aulia. Berarti yang menolongnya adalah ….


"Alin, cucuku. Kamu sudah sarapan? Apa yang saat ini kamu rasakan? Sakit atau pusing? Bilang sama Nenek, biar nanti Nenek telepon dokter," ujar Nenek Aulia penuh kekhawatiran.


Alin menangis sesenggukan karena terharu terhadap perhatian Nenek Aulia. "Semalam, semalam aku … Aku hampir saja, Nenek! Aku hampir saja–" ucapan Alin terpotong sebab wanita tua itu segera memeluk tubuh Alin dengan erat.

__ADS_1


"Kamu selamat, mereka tidak berhasil mengotori kamu. Tenang cucuku, tenang." Tangan keriput Nenek Aulia mengelus pelan punggung Alin yang bergetar.


"Terima kasih, Nek. Lalu, bagaimana caranya aku bisa di sini?" tanya Alin. Sebenarnya dia yakin yang menyelamatkan dirinya kali ini adalah Kenzi. Tapi … bukankah pria itu membencinya? Kenapa setiap kali dia kesulitan Kenzi selalu datang?


"Sudahlah. Sekarang, lebih baik kamu kasih tahu nenek di mana rumahmu. Biar Nenek antar."


Tubuh Alin langsung menegang. Jika Nenek ke rumahnya, dia pasti bertemu dengan Naufal. Tidak … Alin belum siap memberitahu keluarga Kenzi mengenai adanya Naufal. Dia belum siap, bahkan tidak pernah siap.


"Ak-aku tidak pulang, Nek. Aku langsung ke tempat kerja saja," ucap Alin.


Nenek Aulia mendesah lemah. "Ya sudah, tapi sebaiknya kamu diantar oleh Kenzi. Kalau tidak, Nenek tidak akan membiarkan kamu keluar dari rumah ini."


Alin ingin sekali menolak, tetapi mendengar ucapan Nenek Aulia berikutnya, dia langsung bersedia diantar oleh Kenzi.


***


Alin hendak masuk ke dalam mobil di bagian belakang, akan tetapi di sana ada Kenzi. Dia pun merasa canggung dan sungkan untuk membuka pintu mobil.


"Kau tahu ini sudah jam berapa?" tanya Kenzi dengan wajah tak sabar.


Alin menunduk, dia ingat ponselnya sudah rusak dan dia tidak memakai jam tangan.


Kenzi memandang Alex lewat kaca spion. Alex yang berada di kursi kemudi langsung bergerak cepat.


"Nona, sebaiknya duduk di belakang. Cepatlah, Nona. Tuan Kenzi sudah hampir terlambat masuk kantor."


Wajah Alex terlihat sangat khawatir, tentu saja Alin segera masuk ke dalam mobil karena takut membuat Alex dimarahi oleh bosnya yang dingin itu.


Setelah Alin duduk di kursi belakang, barulah Alex bisa bernapas lega.


"Kita ke mall tempat Nona Alin bekerja dulu?" tanya Alex pada bosnya. Namun, bosnya itu hanya berdiam diri tanpa menjawab. Membuat Alex frustasi.


"Baiklah, saya antar Tuan Kenzi dulu kalau begitu."


"Mall dulu," jawab Kenzi tiba-tiba. Entah kenapa, Kenzi tiba-tiba merasa tidak rela Alin berduaan dengan Alex nanti jika dia yang lebih dulu diantarkan.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Alin pelan. Wanita itu tak berani mengangkat wajahnya. Dia sangat beruntung diselamatkan oleh Kenzi, tetapi tetap saja masa lalu dirinya dan Kenzi dulu akan menjadi tabir yang tak kasat mata yang selalu membuat mereka kesulitan untuk berkomunikasi.


"Hm. Lain kali pakai otakmu!"


Jawaban Kenzi itu membuat Alin kesal bukan main.


"Aku yakin ada orang yang sengaja ingin mencelakakan aku. Aku akan memberi perhitungan padanya nanti," ucap Alin dalam hati. Sedangkan dia tak tahu, bahwa Kenzi sudah mencari tahu siapa dalang dari kejadian semalam.


Di kursi depan, Alex sesekali melirik ke belakang lewat kaca spion. Hanya untuk melihat ekspresi wajah bosnya itu. Namun, ternyata bosnya masih saja tidak menampilkan wajah yang aneh.


"Aku akan mentraktir kamu makan malam sebagai rasa terima kasih," ucap Alin ragu-ragu. Sebenarnya dia tahu, Kenzi pasti tidak akan mau dan akan menolak. Namun ternyata pria itu hanya diam saja tanpa menggubris ucapan Alin.


"Kalau begitu, Sabtu malam. Aku akan mentraktirmu setelah gajiku cair."


Mobil berhenti di depan mall tempat Alin bekerja. Wanita itu segera keluar dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Ketika sosok Alin sudah tidak ada, barulah senyum manis terukir di bibir Kenzi.


Mungkin Kenzi tidak menyadarinya, tetapi Alex melihatnya.


"Bos ini terlalu gengsi. Kau senang bukan?" cibir Alex.


Kenzi mendengkus pelan. "Kamu mah gajimu aku potong? Jangan banyak komentar!"


"Ba-baik, Bos!" Alex menampar bibirnya yang sok-komentar itu. Dia lupa bahwa bosnya ini sangat menyebalkan.


***


Pulang bekerja, Alin langsung mendapatkan amarah dari Santi ibunya. Naufal terkena demam tinggi dan kejang-kejang, dia harus segera dibawa ke rumah sakit karena tidak bisa makan dan minum sejak ditinggal Alin kemarin malam.


Sebenarnya, sejak bayi Naufal sering sakit-sakitan karena kekurangan gizi. Dulu, Alin hanya bekerja serabutan di pasar. Dia juga berkali-kali pindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena dikucilkan. Dihina karena hamil tapi tidak memiliki suami.


"Maafkan Mami, sayang!" Alin merasa sangat lelah lahir dan batin. Andai dia tak dijebak oleh orang, dia pastikan bisa membawa Naufal lebih cepat ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Alin segera membawa Naufal ke IGD. Anak berusia empat tahun lebih itu langsung ditangani oleh dokter.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Naufal dipindahkan ke ruang instalasi rawat inap. Anak itu diinfus agar tidak kekurangan cairan.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Alin.


"Tunggu besok pagi, hasil lab nya akan keluar. Semoga bukan penyakit yang berbahaya," sahut dokter yang berjaga.


__ADS_2