
Jantung Kenzi dan Alin berdebar-debar. Keduanya saling tatap dalam keheningan. Namun tak lama kemudian Alin menggeleng.
"Kenzi, kamu dan Laura bersama atau pun tidak, aku tetap tak bisa kembali bersama denganmu." Suara Alin terdengar tenang, tetapi di dalam hatinya sangat bergejolak.
Kenzi mengangguk, "Baiklah. Kalau begitu, aku tak mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Naufal," ucap Kenzi. Bibirnya menyeringai kejam.
"Kenzi! Kamu …!" Suara Alin tercekat. Ternyata Kenzi begitu licik, Alin tak bisa berkata-kata.
"Kuberi waktu tiga hari, pikirkan baik-baik. Kembalilah padaku, maka aku akan menolong Nau. Sekarang kau keluar dari mobilku!" pinta Kenzi.
Alin benar-benar tak habis pikir, kenapa Kenzi bisa sekejam ini terhadap darah dagingnya sendiri? Dia pun turun dari mobil Kenzi, dan air mata yang sempat terbendung pun mengalir deras setelah mobil milik Kenzi melaju.
"Tega kamu!" ucap Alin.
Kenzi mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju kantor. Dia teringat wajah Alin yang sangat terluka ketika dia mengancam Alin bahwa dia tak akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya.
Wajah Alin yang terluka dan sedih.
Wajah Alin yang kecewa.
Semua itu tak luput dari perhatian Kenzi. Tapi, Kenzi sendiri merasa terlalu gegabah saat tadi. Tapi dia juga tak tahu harus dengan cara apa lagi untuk membujuk Alin agar wanita itu mau kembali.
Kilatan penuh emosi terpancar dari matanya.
Kenzi sampai di kantor dalam waktu sepuluh menit. Dia segera menuju ruangannya. Kakinya memelan ketika melihat sosok Laura duduk di sofa, duduk untuk menunggu Kenzi tentu saja.
Laura berdiri lalu menghampiri Kenzi sambil merentangkan tangannya. Dia hendak memeluk Kenzi. Tetapi, Kenzi mundur beberapa langkah, sehingga Laura berhenti menggapainya.
"Ken? Ah aku bawakan sarapan untuk kamu," ucap Laura dengan wajah berbinar. Tercium aroma manis dari tubuh gadis itu.
Akan tetapi, Kenzi sama sekali tak memiliki perasaan menggebu-gebu seperti pada saat bersama Alin.
"Masuklah, aku ingin bicara denganmu," ujar Kenzi. Laura segera mengikuti masuk ke ruangan Kenzi.
Laura tersenyum manis di hadapan Kenzi. "Aku tau, kamu pasti belum sarapan, kan? Sepagi ini sudah datang ke kantor. Ayo sarapan dulu!" ajak Laura. Dia menata makanan yang sengaja dia masak pagi ini di atas meja.
Kenzi memperhatikan gerak-gerik Laura dengan seksama. Tak ada getaran hebat dalam hatinya. Tak ada gejolak yang membuat dia ingin segera merengkuh tubuh gadis itu. Tak ada perasaan khusus untuk gadis itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Alin.
Ya, Kenzi benar-benar yakin hatinya masih utuh untuk Alin.
'Andai aku tak hilang ingatan! Sebenarnya siapa yang aku cintai?' tanya Kenzi frustasi.
"Kok, melamun? Ayo sini!" ajak Laura.
Kenzi berdeham lalu menolak dengan halus. Membuat Laura kehilangan semangat dalam wajahnya.
"Kenapa? Oh, kamu sudah sarapan. Oke. Ini untuk makan siang saja," ucap Laura tak menyerah.
"Laura. Aku ingin bicara."
Kenzi berjalan menuju sofa, mendekat ke arah Laura yang masih menampilkan senyum manisnya.
Laura merasa sangat senang karena Kenzi bersikap seolah-olah sedang menginginkan dirinya. Dia sudah mendambakan sentuhan Kenzi dan pelukan pria itu.
"Kenzi, hmmm kamu mau ngapain?" tanya Laura dengan wajah tersipu. Melihat wajah Laura yang memerah, Kenzi merasa sangat aneh.
"Aku … Akan membatalkan rencana pernikahan kita," ujar Kenzi. Seketika, Laura merasa jantungnya seperti dicopot paksa.
"A-apa maksudnya? Jangan bercanda, Kenzi!" Wajah tersipu-sipu malu tadi berganti menjadi merah menahan marah.
Kenzi menggenggam tangan Laura dengan tenang.
"Laura, aku sudah memiliki anak. Aku dan Alin sudah punya anak," jelas Kenzi yang langsung membuat Laura terlonjat kaget.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Bohong. Kenzi, Alin pasti menipu kamu."
Laura segera memeluk Kenzi dengan erat. Dia berharap Kenzi mau mendengarkannya.
"Kenzi apakah kamu hilang ingatan lalu rasa cintamu padaku juga hilang? Kenzi, yang kamu cintai itu aku! Kenzi, Alin itu pengkhianat. Lima tahun yang lalu, dia tidur dengan Rendy. Bagaimana mungkin kamu lupa!"
Laura terisak sambil memeluk tubuh Kenzi yang tiba-tiba jadi kaku.
Ya, Kenzi merasa sebagian ingatannya kembali. Dia ingat, malam itu … dirinya sedang berulang tahun. Tapi, yang terjadi selanjutnya adalah … adalah….
__ADS_1
"Akh! Sakit," rintih Kenzi. Pria itu memegang kepalanya.
"Ken? Kenzi apa yang terjadi? Aku mohon, jangan campakkan aku hanya untuk wanita itu. Dia tak pantas untukmu!"
Laura terus mengatakan keburukan -keburukan Alin di masa lalu. Kenzi semakin tertekan dan merasa kepalanya akan segera pecah.
"Kenzi, jika kalian memang memiliki anak. Aku bersedia Menjadi ibu sambungnya. Aku mohon, percaya padaku!"
Laura menangis, berharap Kenzi iba dan mau percaya pada ucapannya yang semuanya adalah kebohongan.
"Laura, ceritakan apa yang terjadi saat itu! Ayok jelaskan!"
Mata Kenzi terlihat merah, dia menahan sakit sekaligus marah dalam satu waktu.
'Ini kesempatan yang baik,' ujar Laura dalam hati.
"Alin hanya menginginkan hartamu. Dulu, sebelum kamu sukses seperti ini, dia selingkuh dengan Rendy yang lebih kaya darimu. Sekarang, setelah kamu kaya, dia datang membawa anaknya. Coba kamu pikir lagi, Kenzi? Kenapa dia tak memberi tahu kamu sejak dulu? Kenapa?" Laura mulai menghasut Kenzi agar pria itu membenci Alin.
"Kenzi, di saat kamu patah hati olehnya. Hanya aku yang setia berada di samping kamu. Kenzi, tolong jangan campakkan aku. Aku menunggu kau selama lima tahun!"
Tentu saja Laura berdusta. Gadis itu seperti rubah yang licik. Dia bahkan sering berganti pasangan di luar sana untuk menuntaskan hawa nafsunya. Bagaimana mungkin dia setia pada Kenzi yang saat itu selalu bekerja dari Senin sampai Minggu.
Tentu saja yang tahu hanya Kenzi sendiri. Sayangnya saat ini, Kenzi sedang hilang ingatan.
"Kenzi, dengarkan aku. Aku akan menerima anakmu. Dia akan aku anggap anak sendiri. Jadi, pernikahan kita tidak perlu dibatalkan, oke?"
Wajah Laura memelas, memohon pada Kenzi agar pria itu tetap mau menikahinya.
Kenzi yang linglung dan emosi sesaat hanya bisa mengangguk. Dia sudah lima puluh persen percaya pada cerita dari Laura.
Melihat sosok Kenzi yang mengangguk, Laura bisa bernapas lega. Dia bersorak dalam hati. Senyum liciknya terukir sempurna.
"Kenzi. Sekarang katakan, apakah anakmu laki-laki atau perempuan? Kapan-kapan ajaklah aku bertemu dengannya. Kenalkan aku sebagai calon ibunya." Laura tersenyum manis sambil mengusap pipi Kenzi. Dia hendak mencium bibir Kenzi yang kemerahan. Tetapi, Kenzi langsung mendorongnya.
"Nanti … Nanti akan aku kenalkan." Kenzi segera berpaling dan kembali ke kursi kerjanya. Sedangkan Laura mendengkus marah ketika mendapat penolakan dari pria itu.
'Kenzi, suatu saat nanti aku akan memiliki kamu seutuhnya.' tekad Laura dalam hati.
__ADS_1