Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Kecewa


__ADS_3

Di atas panggung Alin kembali bernyanyi, performance Alin begitu memukau sehingga kamera para wartawan yang menyorotinya. Selesai satu lagu dimainkan, Alin turun dari panggung untuk minum karena dia sudah sangat kehausan.


Tiba-tiba, terdengar suara riuh.


“Katanya ada yang nyuri barang berharga salah satu tamu di hotel ini. Barangnya berupa gelang berlian,” ucap seorang wanita pada rekannya.


“Kok, bisa?” Mereka semua merasa heran.


“Sepertinya pencurinya belum keluar dari tempat ini, soalnya para satpam langsung berjaga di depan. Pasti sebentar lagi akan ada pemeriksaan.”


“Astaga, memang semahal itukah gelangnya?”


“Dengar-dengar, gelang itu Cuma ada 1 di Indonesia. Gelang itu dipesan pada disainer yang sangat terkenal.


Alin mendengarkan percakapan orang-orang tanpa menaruh curiga pada siapa pun. Dia pikir masalah seperti sangat mudah diselesaikan. Cukup periksa semua tas para tamu dan staf, menurut Alin


Benar saja, para polisi dan beberapa petugas keamanan datang untuk memeriksa seluruh tas para tamu dan staf, dan juga tas para pemain band.


Alin teringat surat keterangan dari rumah sakit masih tersimpan di dalam tas, dan dia tak mau Kenzi sampai melihatnya. Jadi dia merasa sangat waspada ketika para petugas itu hendak memeriksa tasnya.


Seorang petugas mengambil tas milik Alin, dan Alin langsung menghentikan orang itu.


“Pak, saya tidak mencuri apa pun, bisakah Anda percaya. Di dalam ada barang privasi saya, saya mohon Anda jangan memeriksanya,” ucap Alin gugup..


Semua orang yang melihat hal itu tentu saja jadi berpikir yang tidak-tidak pada Alin.


Begitu juga Kenzi, dia segera berjalan ke arah Alin kemudian bertanya, “Kalau kau tak mencuri, seharusnya kau tak sekhawatir ini tasmu diperiksa,” ujar Kenzi dengan tatapan tajam.


Kenzi berharap Alin mau bekerja sama dengan petugas agar dia tidak dicurigai. Namun, ternyata sebaliknya. Alin semakin enggan memberikan tasnya, terlebih ketika Kenzi berada di depannya langsung.


“Cepat periksa! Dia mencurigakan,” ucap salah satu tamu yang sudah dibayar oleh Laura untuk memperkeruh masalah.

__ADS_1


“Kalian boleh memeriksa tasku, tapi izinkan aku mengambil barang privasi aku dulu!” seru Alin.


“Memang kau pikir kami bodoh, bisa jadi barang privasi itu adalah barang yang kau curi!”


Alin jadi panik ketika Kenzi langsung merampas tasnya dan mengeluarkan isinya. Alin napas lega ketika surat dari rumah sakit tidak ditemukan di tasnya, tapi kemudian dia sangat terkejut saat melihat sebuah gelang berlian jatuh dari tasnya.


“Benar, kan, dia pencurinya! Sejak tadi aku sudah curiga, dia diam-diam mengambil barang mewah dari sini!” seru tamu yang lain yang tak menyukai wajah Alin sebab pacarnya sejak awal selalu melirik Alin.


Alin menatap gelang itu dengan tatapan kosong.


“A-aku nggak mencuri. Aku juga nggak tau kenapa ada barang ini di tasku!” Alin berusaha membela diri namun semua orang tak ada yang percaya. Bahkan, Kenzi pun merasa Alin ini tak bisa dipercaya.


“Apakah bayaran sebagai penyanyi malam ini masih kurang?! Atau kamu memang sangat serakah terhadap uang!” bentak Kenzi kecewa.


Alin terhenyak mendapatkan bentakan itu. Dia tak percaya Kenzi akan membentaknya di depan semua orang. Rasanya Alin ingin menangis, tapi dia tak sanggup.


“Bawa dia ke kantor polisi!” Seorang petugas kepolisian langsung menyeret tubuh Alin keluar dari ruangan itu. Seketika pandangan mata semua orang jadi rumit terhadap Alin. Mereka merasa kecewa karena ternyata wanita itu suka mencuri.


**


“Kerja bagus, ini bayaranmu malam ini. Semoga lain kali kita bisa bekerja sama lagi,” ucap seorang gadis berpakaian mewah di pojok ruangan. Dia memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu pada seorang pelayan yang telah berhasil memfitnah Alin.


Sedangkan Alin, saat ini dia diinterogasi di kantor polisi. Alin yang masih syok hanya bisa terdiam dan tak memberikan jawaban.


“Dasar wanita menjijikkan, kau pikir karena wajahmu cantik, kami tak akan tega memukul kamu! Cepat katakan, apa tujuanmu mencuri barang itu?” tanya petugas kepolisian garang.


“Aku tak mencurinya, jadi aku tak perlu memberikan penjelasan apa pun.” Alin bersikeras tak mau mengaku karena dia memang tak bersalah.


Plak!


Seorang petugas kepolisian sudah tak bisa menahan kesabaran, dia pun menampar pipi halus Alin. Seketika, wajah Alin yang putih jadi memerah dan bengkak.

__ADS_1


Alin meringis kesakitan, tapi dia tetap bertahan karena dia tak bersalah.


“Kau tau, kalau kau tidak mau mengaku. Malam kau akan lebih lama mendekam di penjara!” seru seorang polisi yang lain, yang sedikit iba pada Alin.


Alin tersenyum tipis. “Pak, saya memang miskin. Tapi saya tidak mencuri. Biarpun barang itu ada di tas saya, saya tidak pernah mengambilnya. Jadi saya harus menjelaskan apa? Jika kalian mau memukul aku, silahkan saja.”


Alin adalah wanita yang kuat. Bertahun-tahun tanpa seorang suami yang menjaganya membuat dia berubah jadi wanita yang tangguh. Namun, sebenarnya dia juga takut lama-lama di penjara. Dia takut tak bisa bertemu dengan Naufal.


Di tempat lain, Kenzi tampak kebingungan. Dia ingin sekali menolong Alin tetapi bukti jelas ada di tas wanita itu. Walaupun dia kecewa pada Alin, dia juga merasa kasihan.


“Alex, hubungi pihak kepolisian. Berikan uang jaminan untuk kebebasan Alin. Pastikan wanita itu keluar dari penjara besok pagi!” perintah Kenzi pada asistennya.


Alex mengangguk patuh. Dia kali ini tak banyak berbicara karena ikut syok dan tak percaya. Dia bahkan yakin, bukan Alin lah yang mencuri.


“Bos. Sebenernya saya menemukan ini di saat Bos menggeledah tas Nona Alin. Surat ini jatuh tapi tak terlihat oleh Bos dan Nona Alin,” ucap Alex.


Dia pun menyerahkan selembar surat dari rumah sakit pada Kenzi. Kenzi membuka dan membacanya perlahan, dia pun tertegun.


“Mungkinkah dia mencuri untuk melunasi ini?” tanya Kenzi pada dirinya sendiri.


**


Di dalam penjara yang gelap, Alin terduduk lemas. Dia lelah, lelah hati, badan dan pikiran.


Dia tak tau harus meminta pertolongan pada siapa. Dia juga tak bisa terus menerus di tempat itu, karena dia harus membiayai Naufal.


“Bahkan Kenzi pun percaya kalau aku mencuri,” ucap Alin pilu. Dia akhirnya menangis dalam diam. Meratapi nasibnya yang buruk itu.


“Andai waktu bisa kuputar, Tuhan. Lebih baik aku tak perlu bertemu lagi dengan dia. Aaah!” Alin menangis sejadi-jadinya, menumpahkan rasa sakit di hati yang begitu menyiksa .


Sedangkan di rumah sakit, keadaan Naufal tiba-tiba memburuk. Anak itu mengalami deman dan kejang-kejang. Dia terus menerus mengigaukan maminya.

__ADS_1


“Alin, kamu di mana? Kenapa HP mu tak bisa dihubungi,” ucap Santi resah.


__ADS_2